Arman Jawiri, Penasihat IJABI Wonosobo. (Foto: Sasmito)

KBR, Jakarta - Tiga pria tengah sholat berjamaah di kantor Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Wonosobo. Sang imam yang merupakan tokoh Syiah, berdiri tegak lurus tanpa bersedekap tangan ketika beribadah. Berbeda dengan dua makmum lainnya yang merupakan tokoh NU.

“Iya di dalam Syiah kita memang ada strategi bersembunyi dalam menjalankan ibadah. Sehingga kita tidak terlihat berbeda dengan umat Islam lainnya,” ucapnya.

Meski begitu, Arman Jawari tak keberatan kalau harus melakukan gerakan yang sama jika menjadi makmun warga NU. “Kang Jalal memberikan arahan dan pernah membuat buku dahulu kan akhlak di atas fiqih. Karena fiqih di Indonesia biasanya menjadi salah satu faktor konflik antar umat Islam,” kata Arman.

Lelaki paruh baya itu juga tak kesulitan berbaur dengan warga NU. Ini karena banyaknya kesamaan tradisi diantara mereka. “Di Wonosobo kalau kita lihat dengan NU itu ada banyak kesamaan terutama dalam ritual-ritualnya. Yang paling spesifik Syiah dan NU itu, adalah masyarakat yang sangat mengagung-agungkan nabi Muhammad. Jadi di situ Syiah dan NU bertemu,” kembali Arman.

Karena itulah ia percaya, konflik penganut Syiah dengan kelompok Islam lainnya, kecil kemungkinan dilatarbelakangi perbedaan ajaran agama.

Pernyataan Arman itu dibenarkan aktivis NU Wonosobo, Haqqi Al Anshary, tokoh NU. “Anda bisa melihat betapa indahnya perbedaan kalau disikapi dengan baik. Kami tidak masalah sholat yang satu bersedekap dan yang satunya tidak,” tambah Haqqi.

Sementara bagi Erik Fidhi Marwoto, seorang Ahmadiyah di Desa Mutisari, punya cara sendiri menjaga kerukunan dengan jemaah lainnya. “Untuk menjaga kerukunan kita di dalam hal mungkin berbicara, dalam bergaul harus tahu batasan-batasan. Ada enggak yang tersinggung. Nah itu yang perlu kita jaga baik sikap dan omongan,” katanya.

Ia juga menyarankan teman-teman Ahmadiyah di daerah yang mengalami konflik, agar mau membuka diri dengan lingkungan sekitar. “Pertama memang harus banyak silaturahmi, kemudian bermasyarakat kalau di dalam suatu daerah jangan menutup diri. Mungkin hanya beberapa persen yang menutup diri.”

Hal itu menurutnya, menjadi salah satu upaya untuk meredam konflik dengan kelompok-kelompok Islam lain.

Jumlah penganut Ahmadiyah di Desa Mutisari hanya berkisar 45 keluarga atau 1 persen dari jumlah warga NU yang mencapai 500 keluarga. Sementara jumlah warga Syiah tak bisa diketahui dengan pasti, lantaran mereka cenderung menyembunyikan identitasnya.

Meski begitu, mereka semua sepakat perlu ketegasan pemerintah daerah dalam menjaga kerukunan di Wonosobo.

Bupati Wonosobo, Kholik Arif mengatakan, “Siapapun pemimpin Wonosobo saya meyakini, rakyat Wonosobo dan pemimpin agama di Wonosobo, justru lebih dewasa. Karena selama ini kampanye hidup damai, kampanye hidup harmonis dan pluralisme, itu lebih banyak dilakukan tokoh-tokoh agama.”

Kholik Arif juga menyarankan daerah yang sering mengalami konflik antara kelompok Islam dengan Syiah dan Ahmadiyah lebih membuka ruang komunikasi. “Pertama buka kran komunikasi, karena tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan. Seolah itu urusan agama, tapi di balik itu ada urusan ekonomi, urusan politik,” tutupnya.


Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!