Orang tua perlu fokus tangani gangguan fisik pada anak autis. ANTARA FOTO

KBR, Jakarta - Dunya Mugiyanto, ibu dari dari anak penyandang autisme yang berusia 12 tahun. Ia bercerita masih menemukan orang yang menggunakan kata autis sebagai bahan lelucon atau sekadar menyebut orang yang sedang asyik dengan telepon genggam.

“Hal-hal seperti itu masih sering terjadi di tengah masyarakat kita. Padahal autis itu bukan bahan lelucon. Autis itu adalah gangguan perkembangan yang terjadi pada seorang anak. Biasanya terlihat sejak dia bayi sampai usia tiga tahun. Gangguan perkembangan itu meliputi gangguan perkembangan perilaku, sosial, dan komunikasi. Jadinya apakah orang harus menjadi seorang penyandang autis dulu hanya karena dia fokus dengan telepon genggamnya?” ungkap Dunya.

Sukarelawan dari Yayasan Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI) ini juga bercerita, anak pertamanya Rayendra Mugijanto sudah memperlihatkan gejala autis sejak kecil.

“Kami orang tuanya melihat perkembangannya sudah ada keterlambatan. Biasanya bayi enam sampai tujuh bulan sudah mulai duduk. Tapi dia belum bisa duduk. Saya sampai konsultasi ke rehab medik. Lalu pada saat mestinya merangkak, anak saya langsung jalan. Tapi orang tua dulu kan bilangnya enggak apa-apa kalau anak mau jalan ya sudah ikutin aja. Tapi yang paling menonjol adalah anak saya berceloteh hanya “ma ma ma ma ma” saja. Tidak ada bunyi yang lain. Jadi bahkan sampai di usia lewat 12 bulan pun anak saya hanya mampu berkata-kata “ma ma ma ma ma”. Semenjak itu kelihatan juga perilakunya seperti gejala autis, mengepak-ngepakkan tangan, atau tidak kontak mata, kalau dipanggil kadang denger kadang nggak," lanjut Dunya.

Sebagai pasangan muda, Dunya dan suaminya mengaku belum siap secara mental dengan kondisi itu. Ia sempat marah dan mengelak dari kondisi anaknya, Rayen.

“Seperti rasa marah, kenapa saya punya anak seperti ini? Lalu ada rasa mulai rendah diri, menutup diri. Lalu ada juga proses tawar menawar. Jadi saya pikir mungkin nanti dia berubah. Padahal sejalan dengan waktu ternyata tidak ada perubahan yang signifikan. Sampai akhirnya saya menerima dan saya mulai bergerak mencari pertolongan. Bawa tempat terapi yang baik, cari sekolah yang cocok," ungkapnya.


Pengobatan Austis Tak Murah

Sejak dokter mendiagnosis Rayen autis, ia harus merogoh kocek dalam-dalam demi mencari terapis untuk membantu Rayen di rumah setiap hari. Dunya juga bercerita bagaimana perjuangannya membesarkan Rayen.

“Jadi proses belajar anak autis enggak seperti kayak anak normal. Anak autis itu benar-benar harus diajarin ibaratnya membedakan dulu sepatu dia yang mana, sepatu ibunya mana, sepatu bapaknya yang mana. Jadi dia gak bisa langsung copy kegiatan orang. Jadi biasanya anak autis ini satu kegiatan dipecah-pecah. Makanya membutuhkan durasi yang lama. Langkah perjuangan itu semenjak Rayen 16 bulan sampai sekarang. Jadi kayaknya sebagai orangtua enggak ada kata berhenti ya. Kita terus berusaha,” jelas Dunya.

Berkat kesabaran sang ibu, Rayen pun menunjukkan perkembangan. “Buat kami waktu Rayen tujuh tahun bisa mengucapkan suatu kata baru selain “ma ma ma” itu sudah luar biasa. Untuk ayahnya mungkin pada saat Rayen mampu manggil kata ayah itu luar biasa. Kalau saya kebetulan karena sebutannya “mamah” dia sudah biasa bilang “ma ma ma” jadi mungkin biasa ya. Walaupun mungkin akhirnya dia mengerti saya tuh mamahnya, saya ibunya," katanya.

Dunya sadar, tak semua orangtua yang memiliki anak autis mampu menyewa bantuan terapis seperti yang dilakukannya. Sebab itu, ia bergabung dengan Yayasan Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI).

Yayasan MPATI membantu memberikan pelatihan dan konseling bagi orangtua yang memiliki anak autis, khususnya yang berasal dari keluarga tidak mampu.

“MPATI percaya bahwa tiang pertama pendidikan anak penyandang autis adalah di tangan orangtua. Ada istilahnya segitiga pendidikan. Pertama, diagnosa yang akurat. Kalau kita sudah dapatkan diagnosa akurat, kita tahu apa yang harus dilakukan, terapi dan pendidikan seperti apa yang dibutuhkan. Lalu yang kedua, pendidikan yang tepat bagi anak ini. Karena penyandang autis itu banyak. Tidak pernah ada penyandang autis yang sama. Terus yang ketiga, dukungan kuat dari keluarga terdekat, dari teman, dari lingkungan sekitar rumah,” imbuh perempuan berusia 41 tahun ini.

Di Jakarta, MPATI bersama pemerintah provinsi juga membentuk pusat layanan autisme di kawasan Cipatung, Jakarta TImur. Ini sebagai salah satu langkah dalam mewujudkan Jakarta Ramah Autisme yang dicanangkan Pemprov DKI pada 2013.

Terakhir, Dunya punya satu pesan bagi orang-orang yang masih menggunakan kata autis sebagai lelucon.

“Pesan saya adalah jangan gunakan lagi kata autis. Buat Anda yang tidak memiliki putra, atau keluarga, atau anak penyandang autis, mengucapkan kata autis mungkin satu detik. Dan mungkin artinya tidak ada buat Anda semua. Tapi buat kami yang mendengar dan kebetulan kami adalah orang tua, kakak, adik, eyang, atau pun om tante, atau mungkin sepupu yang mendengar penggunaan kata autis sebagai bahan lelucon hanya untuk mengejek seseorang itu buat kami sakit hatinya seumur hidup. Jadi, bagaimana jika Anda berada di posisi kami?”


Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!