Seekor Elang Jawa menjalanai proses adaptasi lingkungan sebelum dilepasliarkan di Desa Melung. ANTARA FOTO

KBR, Jakarta - Mentari perlahan menyeruak dari ufuk timur, burung-burung berkicau berebut bunga Pucung dan Cendana di pekarangan warga dan hutan sekitar desa. Suasana inilah yang terus dijaga warga Desa Melung selama puluhan tahun hingga hari ini.

Salah satu tokoh masyarakat setempat yang juga bekas Kepala Desa Melung, Budi Satrio bercerita betapa pentingnya hutan itu bagi warga. “Hutan bagi masyarakat Desa Melung adalah sebagai kehidupan masyarakat. Sebab dengan adanya hutan lestari sumber mata daya air akan terus ada dan terjaganya ekosistem dan satwa akan lestari,” ucap Budi Satrio.
 
Hanya saja beberapa tahun terakhir, hutan itu tak lagi sama. Sebabnya, Perhutani sebagai pemilik, mengubah hutan lindung itu menjadi hutan produksi. Warga Desa Melung pun tak bisa mencegah. Ini karena dari 1800an hektar luasan hutan, hanya 272 hektar yang dimiliki warga.

Dampaknya? Mata air pun kian seret. “Menurut orang-orang dulu sebelum masuknya hutan homogen, sumber mata air sangat banyak. Namun semenjak hutan berubah menjadi hutan homogen mata air mengecil bahkan mungkin hampir mulai punah. Sekarang ini tinggal sisa-sisanya. Bagi masyarakat hutan adalah tempat aktivitas. Di hutan mereka mencari kayu bakar sehingga mengurangi beban ekonomi,” jelasnya.

Padahal, warga Desa Melung amat bergantung pada mata air itu. Budi Satrio bahkan bercerita, beberapa mata air yang tersisa telah lenyap. “Mata air yang berada di sekitar Desa Melung itu antara lain ada Mata Air Igir Langgar, Mata Air Watu Gayong, Mata Air Depok, Kalimanggis, Kali Dekem, mata air yang di atas Gunung Cendana itu Mata Air Wali. Kondisi sekarang ini kalau hujan melimpah, tapi kalau tidak hujan seminggu saja mengecil. Padahal dulu berlimpah, artinya tidak ada perubahan debit airnya,” kata Budi Satrio.


Desa Melung Hidupkan Ajaran Leluhur

Tapi, warga Desa Melung tak tinggal diam. Di wilayah hutan Perhutani, mereka menanam berbagai pohon dan buah-buahan agar keragaman hayati terjaga. Seperti, Pucung, Rambutan, Mangga, Cendana dan Cengkih. “Jarak lima pohon atau dua pohon, boleh masyarakat menanam jenis tanaman buah-buahan. Dengan maksud, jika tanaman Damar dipotong karena usia. Masih ada tanaman buah-buahan yang utuh. Sehingga saat dibuka hutannya tidak gundul semua,” ungkapnya.

Tak hanya itu, warga Desa Melung juga mulai menghidupkan kembali ajaran leluhur tentang arti penting hutan. Malah, tiap pengantin baru wajib menanam satu pohon. Tiga tahun lalu, oleh Budi Satrio yang saat itu menjabat kepala desa, aturan itu dihidupkan kembali.

Perangkat Desa Melung, Margino mengatakan, “memiliki hajatan atau menikahkan anaknya, itu sebenrnya itu bukan (aturan tertulis), itu semacam konsensus. Namun itu sudah berlaku di masyarakat agar hutan tetap lestari.”

Selain itu, Desa Melung juga membuat aturan soal tata kelola hutan dan larangan menebang pohon dan memburu satwa di hutan pangkuan Desa Melung. Margino bercerita, “kita sebenarnya sudah berusaha menjaga itu salah satunya dengan memasang papan larangan perburuan. Sebab masyarakat sangat bergantung pada hutan, sehingga menjadi tanggungjawab masyarakt Desa Melung untuk menjaganya. Tolok ukurnya ada di keberadaan satwa-satwa tersebut. Sebenarnya sangat banyak, namun satwa yang berkategori dilindungi salah satunya ada Elang Jawa dan Owa Jawa yang hampir punah dan berkategori dilindungi.”
 

Komunitas Cendana
 
Rupanya, aksi warga Desa Melung itu diikuti kaum muda di desa sekitar dengan membentuk Komunitas Cendana. Di mana mereka menanam ribuan pohon secara swadaya hingga menggelar susur hutan.

Sumantoro, tokoh pemuda di Komunitas Cendana mengatakan, “satu bulan kita mengadakan penanaman di hutan, sebulan kemudian kita lakukan monitoring. Sementara ini yang kita tanam adalah Pucung atau Kluwek. Kurang lebih di Komunitas Cendana mencapai 1000 pohon, karena sebelum ini di IRGM, Ikatan Remaja Griya Melung sudah menanam sekitar 10 ribu pohon. Tapi memang lebih banyak Mahoni dan Jenitri.”

Upaya itu pun membuahkan hasil. Hutan semak berangsur menjadi hutan hijau. Pohon buah mulai berbuah. Mereka ingin anak cucunya bisa menyaksikan hutan lebat menghijau, mata air mengalir jernih dan burung berkicau.



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!