asuransi, sampah, malang, kesehatan, dr gamal

KBR, Malang -  Sebagian warga miskin di Kota Malang, Jawa Timur kini mulai giat mengumpulkan sampah dari lingkungan rumahnya. Gara-garanya, sampah yang mereka kumpulkan bisa digunakan sebagai biaya berobat kala sakit.

Sore itu, seorang pria mendatangi Klinik Bumiayu di salah satu sudut Kota Malang. Namanya Mohammad Yazid, 58 tahun. Dia berjalan tertatih sambil membawa sekantong sampah plastik. Setelah menaruh sampah di tempat yang disediakan, Yazid masuk klinik. Tangannya bergetar saat menyerahkan kartu anggota Klinik Asuransi Sampah kepada petugas. Setelah itu, ia langsung masuk ruang pemeriksaan. Duda yang kini tinggal seorang diri itu mengeluh sakit kepala dan seluruh tubuh gemetaran. “ Sampah, hanya satu kilo, sampah kering kresek kertas, senang kalau bawa sampah ke sini senang saya, tidak pakai uang ,” kata Yazid.

Kata dokter, Yazid hanya perlu istirahat dan minum vitamin yang diberikan oleh petugas klinik. Yazid senang, apalagi karena ia tak perlu membayar biaya berobatnya. Cukup dengan sampah yang ia bawa tadi.Tak lama setelah Yazid pulang, datang serombongan ibu-ibu. Mereka juga datang membawa sampah.

Setelah menaruh sampah dan menyerahkan kartu anggota, mereka duduk berjajar sambil menunggu giliran diperiksa. Siti Hasanah sudah beberapa hari mengeluh sesak napas dan jantung berdebar. Ibu lima anak itu mengaku sangat terbantu oleh adanya Klinik Asuransi Sampah.“ Ya senang, suruh bawa sampah kesini, obatnya gratis, periksanya gratis,” kata Siti seusai di periksa.

Kebanyakan anggota Klinik Asuransi Sampah adalah warga miskin. Untuk bisa menjadi anggota, mereka hanya perlu rutin setor sampah setiap Sabtu hingga senilai Rp10.000 rupiah per bulan. Kurang dari nilai itu juta tak apa.Penggagas Klinik Asuransi Sampah ini Gamal Albinsaid, 24 tahun. Dokter muda lulusan Universitas Brawijaya Malang ini melihat sampah yang terus menggunung berpotensi jika dimanfaatkan. Di sisi lain, dia tahu masih banyak masyarakat miskin yang kesulitan berobat karena tak punya biaya.

“Kenapa pilih sampah, karena sumber daya sampah itu besar sekali, bayangkan semua produk berakhir di sampah,  sehingga dengan permasalahan sampah ini meningkatkan nilai sampah secara signifikan,  ketika sampah itu masuk dalam konsep asuransi, mereka menyerahakan premi ya,  prinsipnya asuransi kesehatan mikro ya, jadi mengambil sumber daya masyarakat  yang terbuang, kami proses menjadi sumber dana kesehatan dan kami kembalikan sebagai pelayanan kesehatan ,” terang pria asal Malang Jawa Timur itu.

Untuk mengelola sampah yang terkumpul, Gamal dan beberapa teman seprofesi, termasuk dosen Fakulkas Kedokteran Brawijaya mendirikan CV Medika Indonesia. Salah satu tugas CV ini adalah menjual sampah itu ke Bank Sampah Malang, milik Dinas Kebersihan dan Pertamanan Malang. Uang hasil penjualan dipakai untuk membeli obat-obatan kebutuhan pasien peserta asuransi sampah dan biaya operasional klinik.

Jenis sampah yang disetor boleh apa saja, baik organic, maupun anorganik. Kepala Unit Pengolahan di Bank Sampah Malang Rizal Farchrudin mengatakan, sampah-sampah itu diolah lagi menjadi barang berguna.“Kalau per minggunya kami biasanya mendapatkan lima sampai 10 kantong plastik sampah kering, lalu kami bawa ke bank sampah malang kemudian ditukarkan di sana, untuk sampah organiknya sendiri kita buat sebagai pupuk, cair sama padat, juga untuk peternakan cacing kita kembangkan ternak cacing di area kami,” Rizal menjelaskan

Sejak mulai beroperasi Agustus 2013 lalu, Klinik Asuransi Sampah di Kota Malang kini sudah berdiri di lima tempat. Buka setiap hari dari pukul 4 sore hingga 8 malam.


Editor: Fuad Bachtiar

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!