Sebuah mural korban pelanggaran HAM berat bergambar wajah Jurnalis Udin, Marsinah dan Munir dibuat d

Sebuah mural korban pelanggaran HAM berat bergambar wajah Jurnalis Udin, Marsinah dan Munir dibuat di bawah jembatan layang Pasopati, Bandung, Jawa Barat, Kamis (8/5).(Antara)

KBR, Jakarta - Semangat  mendiang Marsinah yang berjuang mengangkat harkat martabat buruh patut diteladani dan dilanjutkan.  Namun ada kekhawatiran dari keluarga almarhumah, sosok perempuan buruh yang  dibunuh 8 Mei, 21 tahun silam  kerap dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

“Dia datang dari kesabaran yang menyala  bahwa upah buruh rendah susah bayar kontrakan, bahkan tak bisa beli hasil produksinya sendiri, kesesalan di bawah bahwa buruh tak boleh diam, putar otak dan mulai bicara pada pemilik perusahaan, Marsinah bangkit dan mengajak bangkit, Marsinah melawan dan mengajak buruh melawan, Marsinah kau semangat jiwa kami...”

Penggalan lirik lagu berjudul “Marsinah” ini dilantunkan seniman Jhon Tobing. Tembang ini   memompa semangat kaum buruh di  pembukaan “Gerakan Obor Marsinah “di pelataran Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Seorang buruh di kawasan Cakung, Inong yang ikut hadir dalam acara itu  menyampaikan penilaiannya pada sosok Marsinah. “Ia sosok perempuan pemberani . Perlu banyak perempuan seperti dia yang  berani melawan  pemilik modal yang sewenang-wenang. Agar buruh sejahtera. Upah tidak layak karena banyak buruh yang mengeluh apalagi bagi mereka yang sudah punya anak pasti mengeluh ,” tuturnya.

Kata Inong saat ini sulit mencari sosok buruh seperti Marsinah yang murni  berjuang untuk kepentingan buruh. Ia mengeritik sejumlah pemimpin buruh yang mulai mendukung calon presiden tertentu jelang Pemilu Presiden.  “Saya tidak suka partai politik, papol tidak akan membuat perubahan buat rakyat karena itu hanya kepentingan mereka sendiri buat cari nama,” terangnya.

Salah satu organisasi buruh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) misalnya terang-terangan mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2014. Presiden KSPI Said Iqbal menyampaikan dukungannya di Stadion Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta pada Hari Buruh Internasional lalu.

“Ada 44 juta buruh formal, 1,4 juta diantaranya anggota KSPI, 1,6 juta adalah anggota guru honor dan tenaga honor, guru yang terbangun dalam organisasi guru resmi ada lebih dari 3,3 juta ini angka signifikan, untuk memberikan dukungan kepada calon presiden, yang mau memenuhi 10 tuntutan buruh. Maka tidak menutup kemungkinan, pada hari ini kita kaum buruh mau menandatangi kontrak politik terhadap 10 tuntutan buruh maka bisa dipastikan dukungan buruh mayoritas diberikan kepada Prabowo,” ungkapnya.

Kembali ke acara Gerakan Obor Marsinah. Aktivis dan pejuang Hak Azasi Manusia,  Sumarsih yang ikut hadir mneyampaikan pendapatnya.  Artinya ketika gerakan aktitvis menjelang pemilu banyak yang masuk sistem pemerintahan tetapi tetap saja upah buruh masih murah, begitu pula dengan pekerja alih daya, tidak memberikan kesejahteraan kepada keluarga karena setiap saat mereka hatus memperbarui kontrak,” jelasnya.

Sumarsih mengingatkan agar kaum buruh sadar, tidak mudah dimanfaatkan oleh kepentingan politik sesaat.  “Ketika ada buruh yang demo, ini pengalaman yang saya lihat ketika demo buruh mereka pakai seragam bagus pakai bus yang bagus juga, dan mereka selalu pakai bus yang dengan ac mewah. Saya harap buruh muda ini tidak jadi kuda tunggangan bagi pendahulunya tidak menjadi dagangan politik, ketika pedahulu nya masuk ke sistem pemerintahan mereka hanya mengantarkan pendahulunya untuk duduk di jabatan strategis pemerintahan, ini yang kemudian jadi perhatian kami keluarga korban di dalam melihat gerakan buruh dari tahun ke tahun,” ungkapnya. 

Kakak Marsinah yang datang di acara ini,  Marsinih berpesan agar kasus adiknya tidak dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.   “Kami mohon Marsinah jangan dibuat obyek untuk  kesuksesan dia setelah didekati kaum penguasa dia dapat penutup mulutnya kemudian dihentikan, itu banyak dulu ada yang teriak-teriak tentang Marsinah sekarang entah di mana gaungnya, sekarang muncul gerakan baru, mudah-mudahan tak seperti itu lagi,” harapnya.

Marsinih menambahkan, “Jiwa dia itu kalau melihat ketidakadilan atau buruh yang cari muka ke penguasa dia marah, dia berusaha untuk meningkatkan solidaritas buruh. Harapan saya satu ingin tahu siapa pembunuhnya. Harapan kepada buruh jangan berhenti berjuang untuk taraf hidupnya, jangan berhenti berjuang untuk meningkatkan pendidikan.”

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!