badak jawa, banten, TNUK, WWF, satwa

KBR, Banten -Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) kini menjadi satu-satunya tempat habitat alami Badak Jawa setelah pada 2010 silam Badak Jawa di Vietnam dinyatakan punah. Namun, menurut LSM  World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, Taman Nasional Ujung Kulon tak dapat sepenuhnya menyokong keberlangsungan hidup hewan bernama latin Rinocheros Sondaicus itu. Perebutan ruang hidup dan makanan dengan Banteng Jawa, invasi tanaman langkap, serta kondisi geografis yang berpotensi menyebabkan tsunami dan letusan Gunung Krakatau dianggap membahayakan populasi spesies badak langka itu. Oleh karena itu, TNUK dan WWF berencana mencari habitat kedua untuk sang badak. Tujuannya, agar jumlah hewan langka itu bisa bertambah hingga 3 persen per tahun.

Hutan Cidaun merupakan salah satu bagian dari Taman Nasional Ujung Kulon. Sekitar 15 menit dari bibir pantai, kami sudah masuk ke dalam hutan lebat Cidaun. Tanah gembur di sepanjang jalan yang dipenuhi guguran daun terasa kontras dengan pemandangan di awal perjalanan yang didominasi tanah berpasir serta gugusan akar pinsil dari tanaman bakau di kanan kiri.

Petugas monitoring badak WWF Indonesia, Ridwan Setiawan  melacak pergerakan badak hingga beberapa puluh meter ke dalam hutan rimbunan pohon. Dengan menggunakan ranting, lelaki yang biasa disapa Iwan kitu kemudian mengukur lebar tapak badak yuang baru ditemukannya.“Ini sekitar 26 sentimeter dan  sudah dewasa badaknya,” katanya.

Sambil berjalan menuju pantai, kami mengamati tumbuhan makanan badak dan bekas gigitan hewan bercula satu itu. Hasil pengamatan tak kurang dari 10 jenis tanaman yang biasa dikonsumsi satwa ini.  Iwan menjelaskan beberapa  jenis tanaman, seperti Sulangkar, Cayar dan Kawao. “Kalau mau dimakan dia tarik dulu. Ditarik dengan mulutnya. Kan ada bibir lebih yang berfungsi seperti tangan. Setelah itu dia gunakan gigi penumpu untuk memangkas daunnya.,”jelasnya.

Perhatian  kami lalu beralih pada pohon mirip palem yang berdiri tegak di antara rimbunnya pohon-pohon. Tak ada satu tanaman pun hidup di sekitar pohon itu hingga radius satu meter lebih. “Ini jenis tanaman yang bersifat invasive terhadap tanaman lain karena di sekitarnya tidak pernah ada tumbuhan jenis lain yang dapat tumbuh. Diduga langkap ini  mengandung zat alelopatii,””imbuhnya.

Sejak beberapa tahun terakhir, langkap dituding sebagai ancaman tersendiri bagi Badak Jawa. Karena sifatnya yang invasif, tanaman ini berpotensi mengurangi jumlah tanaman makanan badak.

Meski demikian, hingga saat ini ketersediaan makanan  badak masih mencukupi. Salah satu petugas Taman ansional Ujung Kulon, Muhiban menjelaskan,”Memang sampai saat ini jumlah pakan badak masih banyak. Terbukti  dari hasil kamera CCTV yang kita dapat badaknya masih gemuk-gemuk. Tapi kan potensi bahayanya untuk ke depan.”

Muhiban menambahkan, ancaman bagi badak tak hanya berasal dari langkap. Lebih dari itu,  satwa ini juga mendapatkan ancaman dari sesama hewan langka lainnya, yaitu Bos Javanicus alias Banteng Jawa

Ketua program konservasi Badak Jawa TNUK Indra Harwanto menjelaskan.“ Ada persaingan dengan banteng. Banteng pada saat yang bersamaan memakan pakan yang sama dan menggunakan lahan yang sama. Sementara jumlah banteng lebih banyak ada sekitar 150 sampai 300 ekor,”” paparnya.

Menurut Indra upaya untuk mengurangi  persaingan antara banteng dan badak , pihak TNUK mengoptimakan penggunaan padang rumput.  “Supaya banteng keluar darri hutan dan makan rumput, bukan pucuk daun yang jadi makanan badak,” terangnya.

Salah satu padang penggembalaan Banteng Jawa terletak di Cidaun. Di luar itu, masih ada 7 padang penggembalaan lainnya di kawasandi TNUK. Salah satu staf TNUK Indra Harawanto mengklaim, populasi banteng di padang penggembalaan terus meningkat tiap tahunnya. “Dari 2010 jumlah kehadiran banteng meningkat hingga 50 persen. Sekarang jumlah banteng yang hadir di sini bisa mencapai 30 ekor,”” tambahnya.

Selain menguntungkan badak, keberadaan padang pengembalaan juga diklaim turut menguntungkan banteng. “Dari yang kami amati, banteng-banteng yang ada di padang lebih gemuk ketimbang yang ada di hutan. Mungkin karena ketersediaan pakan juga lebih memadai,” kata Staf TNUK lainnya, Muhiban. 

Tercatat ada sekitar 109 makanan badak dan banteng di TNUK. 62 di antaranya dimakan oleh keuda hewan dilindungi itu. Meski harus telah terbebeas dari perburuan sejak beberapa dekade lalu, namun persaingan dengan banteng dan invasi tanaman langkap disinyalir dapat memepercepat kepunahan hewan langka itu.

Lantas, apakah pemindahan lokasi dapat menjadi solusi?  (Bersambung)


Editor: Fuad Bachtiar



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!