Orang tua korban kekerasan seksual di Jakarta International School, tengah berdialog dengan komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).Foto: Aisyah Khairunnisa, KBR)

KBR, Jakarta -  Kekerasan seksual terhadap anak menyisakan trauma bagi korban. Beberapa korban berani bercerita tentang peristiwa keji yang dialaminya. Tak sedikit yang menyimpan rapat-rapat. Kepada KBR dua orang ibu berbagi kisah tentang pengalaman memilukan tersebut.

TH,  Ibu dua anak ini  bercerita tentang perubahan perilaku putra sulungnya berinisial MAK yang jadi korban kekerasan seksual.  Bocah enam tahun itu menjadi korban sodomi di toilet sekolah  taman kanak-kanak Jakarta International School (JIS). “Nggak mau makan, takut kencing ke toilet, abis itu marah-marah, mengigau, ngompol. Lalu saya temukan luka, dia pulang pernah mimisan. Saya cium katanya sakit. Ditanya kenapa dia bilang nggak apa-apa. Perut sakit. Saya pikir kurang makan, saya kasih obat . Itu kan tanda-tanda dia disiksa kan,” ungkapnya.

Kasus ini tengah disidik Kepolisian Jakarta. Polisi telah menetapkan 6 tersangka berusia 20 sampai 28 tahun. Seluruh tersangka yang merupakan petugas kebersihan di sekolah tersebut mengakui tindak kekerasan seksual itu dilakukan pada Februari hingga Maret 2014. Satu tersangka yakni Azwar tewas bunuh diri setelah ditetapkan sebagai tersangka pada 26 April lalu.

Kembali ke korban. Pasca peristiwa kelam itu, MAK trauma. Ia tak mau lagi pergi ke sekolah. Bahkan kata sang ibu, puteranya menolak mengenakan celana sama sekali. Ia takut disodomi. Kejadian ini berlangsung selama dua bulan.

“Dia mau nonton  film Captain America. Diputar10 menit, dia ingat, dia marah, langsung bentur-benturin kepala di ranjang. “ada banyak orang jahat di sekolah!”. Terus dia nafasnya gini “mami nafasku sesak”. Aku tahu mungkin dia marah ya. Lalu dia marah dibanting semua. Dia marah lalu lari pintu dibanting. Jeder! Jeder! Itu 30 menit,” jelasnya.

MAK juga terlihat agresif. Ia sering memukuli alat kelamin dan  adiknya. Untuk menekan dampak traumatik itu, sang ibu mendatangkan tiga psikolog dari lembaga yang berbeda. Jika bertemu dengan petugas kebersihan, trauma MAK makin menjadi.

“Dia kan tidak mau keluar rumah. Tapi ada teman sekolahnya yang berhasil bujuk main ke mall. Cuma makan saja terus main ke pusat permainan anak Tapi setelah dia makan mainannya itu jatuh di bawah. DIi itu ada mas yang bersih-bersih. Gak sengaja temannya bilang, mas minta tolong. Dia langsung sembunyi di balik saya. Gak berani mami.. Bayangin traumanya sama semua cleaning service dimanapun,”tambahnya.

Selain trauma psikologis, MAK juga terkena dampak secara fisik. Bocah berdarah Belanda ini positif mengidap penyakit seksual menular herpes dari pelaku pedofil. Keluarga saat ini tengah menunggu hasil tes dokter mengenai kemungkinan penyakit menular lain.  “Kan kalau di tes sifilis tidak ada, belum tentu tidak ada. Kan masa inkubasinya dua bulan. Jadi ini sifilis, AIDS, sama herpes. Bayangkan bagaimana perasaan saya. Sudah mati ini,” kata TH.

Tak semua korban kekerasan seksual mendapat perhatian keluarga sampai aparat penegak hukum.  Ini misalnya dialamai Helga Worotitjan.  Saat ditemui perempuan 40 tahun, sekilas tidak pernah jadi korban kekerasan seksual. Di balik keceriaannya, ibu dua anak ini, menyimpan kenangan pahit.

Ia bercerita saat usianya menginjak lima tahun, Helga dilecehkan tetangganya, seorang lelaki  20 tahun. Saat ia menceritakan pengalaman buruk, keluarganya kadung tak percaya. “Kalau verbal saya tidak berani karena sudah pernah mengadu  terus dibilang anak kecil jangan ngomong begitu. Apaan sih. nggak dipercaya. Jadi ya sudah. Jangan ngobrol lagi,” paparnya.

Helga hanya bisa menumpahkan keresahannya dalam coretan di buku. “Pasca kejadian itu saya suka gambar. Ada putri dikejar-kejar sama pangeran mau diperkosa. Kalau sekarang anak saya gambar kayak gitu saya pasti tanya pelan-pelan. Kalau dulu mah tidak peduli ya. Dulu saya  mengadu saja dibilang jangan ngomong jorok. gambar begitu aja dibilang gambarnya kayak orang dewasa. Masa tidak terpikir kenapa saya gambar-gambar gitu,” tanyanya.

Kekerasan seksual yang dialaminya kembali berlanjut saat menginjak 8 tahun. Kali ini pelakunya sang nenek sendiri.  Bagian intimnya kerap dimasukan jari.  “Nah itu terus sampai saya umur sebelas itu kan sudah masuk puber. Nah saya sudah mulai risih, nggak mau. wah dihajar saya. dihajarnya itu ditelanjangin dulu baru dihajar. Jadi kayaknya dia puas kalau saya sudah sampai merah-merah. Kan dia suka jahit ya. ada pengukur kain yang dari plastik yang ada angka-angkanya. nah itu pakai itu. itu kan ujungnya besi,” kenangnya.

Sejak kejadian memilukan itu, Helga tumbuh jadi bocah yang rendah diri. Seolah seperti kutukan kekerasan seksual yang dialaminya berlanjut hingga dewasa.“Tapi begitu kita sudah masuk konflik pasangan saya bagian yang inferior. Bagian yang mengalah terus. dan akhirnya jadi korban lagi. Entah korban kekerasan verbal, fisik, maupun seksual. Dan itu berulang,” terangnya.

Pengalamannya menjadi korban kekerasan seksual menginsipirasi Helga mendirikan lembaga pendamping pemulihan bagi  korban.

(Bersambung)

Editor: Taufik Wijaya 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!