Anak Rimba, Jambi, Pendidikan, Sekolah, Warsi

KBR, Jambi -  Pemerintah belum sepenuhnya memberi perhatian  pendidikan kepada Orang Rimba di Jambi. Situasi ini mendorong  seorang anak Rimba bernama Beteguh menularkan ilmu yang didapat di bangku sekolahnya kepada anak-anak Rimba lainnya.

Sambil memanggul papan tulis, Beteguh berteriak memanggil teman-temannya. Tak lama kemudian, beberapa anak rimba usia 6 hingga 11 tahun bermunculan dari balik rerimbunan pohon di  kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi. Beteguh menyandarkan papan tulis di sebuah pohon.   Rekannya kemudian berkumpul di dekat Beteguh.  Dengan bahasa Orang Rimba, Beteguh mengajar matematika.  

Remaja  15 tahun ini menjadi guru bagi teman-temannya yang belum bisa membaca, menulis dan berhitung. Sebagai pelajar SMP  Negeri 12 Satu Atap, Kecamatan Pematang Kabau, Kabupaten Sarolangun, Jambi, Beteguh harus bisa membagi waktu.  Caranya dua minggu ia belajar di sekolah, dua minggu kemudian ia mengajar di hutan.  Beteguh berharap, saudara dan teman-temannya mengenal baca tulis dan hitung.

“Ingin saya, kami semuanya bisa mempelajari  semua pelajaran,” katanya.

Kepala SMP Negeri 12 Satu Atap Kabupaten Sarolangun, Sutrisno mengaku merasa terbantu dengan kesediaan Beteguh mengajar anak rimba.  Ini mengingat sekolah tak punya cukup guru untuk mengajar ke  dalam hutan tempat  komunitas masyarakat suku terasing ini tinggal.  Sebagai wujud dukungan , pihak sekolah membekali Beteguh dengan bahan makanan saat akan mengajar.  

“Jadi dia kami bekali bahan makanan dari sini, kami kasih beras,. Kami berikan mie  instan.  Kami bantu sedikit,” jelas Sutrisno. 

Menurut Sutrisno,  Beteguh termasuk murid yang pandai di sekolahnya, Ia  menjadi juara di kelompok kelas jauh.  Tahun ini Beteguh baru saja usai mengikuti Ujian Nasional . Dia sudah punya rencana akan melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA, dan berharap kelak  menjadi  peneliti.

“Cita-cita saya mau jadi peneliti, dan itupun juga sudah pernah saya coba untuk meneliti adat istiadat Orang Rimba.,” ungkap Beteguh.

Huzer Afriansyah, fasilitator pendidikan Komunitas Konservasi Indonesia, KKI Warsi mengatakan selain LSM , pemerintah seharusnya ikut memberi perhatian khusus pada anak-anak rimba yang memiliki keinginan untuk terus melanjutkan pendidikan.

“Itu akan didorong dan difasilitasi setinggi mungkin, sejauh mana dia ingin mencapai cita-citanya akan kita dorong. Tentunya ini bukan tanggung jawab warsi sendiri, kita berharap Negara justru yang mengambil peran paling penting dan paling besar dalam proses edukasi Orang Rimba.,” ungkap Huzer.

Ia menambahkan,” Dan, ini bagian dari hak mereka sebagai warga negara, dan tanggung jawab negara terhadap warga negaranya. Jadi Warsi hanya kelak mendorong proses ini. Meski Warsi sendiri selama negara belum melakukan perannya yang optimal, kami akan melakukan yang terbaik.”

Berpendidikan dan mengenal dunia luar, tidak  membuat Beteguh lupa pada jati dirinya sebagai Orang Rimba, itulah yang diharapkan ayahnya Mangku Besemen.  “Saya harap pada Beteguh, dia bisa membuat sistem seperti orang luar. Tapi, saya ingin Beteguh tidak akan melupakan orangtua, dia harus bisa membantu pada orangtua, tentang perjuangan hutan, dan juga menyangkut pada kondisi adat,,” pungkasnya.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!