Sabar Gorky berada di puncak Gunung Aconcagua di Argentina. Foto: Facebook Sabar Gorky

KBR, Jakarta - Pagi itu, seorang pria tengah berkemas. Tongkat, sepatu gunung, tas carrier, sleeping bag dan baju berserakan di kamar. Sesekali ia memainkan telepon genggamnya. Rupanya, itu hari, ia sedang bersiap pulang ke kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah.

Pria itu Sabar Gorky, pendaki berkaki satu yang telah mendaki empat gunung tertinggi di dunia. Dan, pertengahan Maret lalu, ia baru saja turun dari Aconcagua di Argentina.

“Kalau yang terakhir itu perpaduan antara Kilimanjaro dan Elbrus, jalannya panjang, tanjakannya ekstrim juga. Ekstrimnya lebih dari salju juga es, batuannya juga besar tetapi kadang batuan itu akan terlempar,” ungkap Sabar kepada KBR di komplek Marinir TNI di Cilandak, Jakarta, Kamis (21/3/2016).

Gunung dengan ketinggian 6.962 meter di atas permukaan laut itu berhasil ditaklukan Sabar bersama delapan pendaki lainnya; lima marinir TNI, seorang wartawati dan dua pendaki sipil. Pendakian itu sendiri memakan waktu 18 hari.

Ia juga bercerita, saat mendaki Aconcagua, ia berhadapan dengan cuaca yang cepat berubah plus angin kencang yang kerap menghempaskan bebatuan. 

“Karena jalan yang panjang dan angin yang kencang, di situlah kami sempat hampir terhempas. Jalan ini seharusnya, perjalanan itu mencapai sekitar 5 kilometer tetapi kami hanya bisa mencapai 4,5 kilometer karena alam dan angin, kalau medan cukup luar biasa,” imbuhnya.

Jauh sebelum mendaki, saban hari Sabar berlatih fisik; bersepeda mengitari kota kelahirannya Solo.

Jika dibandingkan dengan gunung tertinggi lainnya, jalur pendakian Aconcagua dibanjiri bebatuan. Kata menyerah pun sempat terlintas.

“Wajar itu manusia hidup, tekad kendor, patah semangat, tapi hanya sebentar saja. Pernah saya mengeluh, tetapi dalam hati, tidak kata-kataan aku mengeluh, aku begini tidak mungkin. Tetapi di hati, habis dari itu, kita sebut saja sama yang maha kuasa minta kekuatan yang lebih."

Sabar Gorky kehilangan satu kakinya karena kecelakaan. Insiden itu terjadi 16 tahun silam. Mental Sabar pun sempat jatuh karena membayangkan hidup yang tidak sama seperti sebelumnya.

Tapi, berkat semangat Lenie Indria, istrinya, Sabar bangkit kembali.

Kegiatan panjat tebing dan mendaki gunung yang biasa dilakukannya dulu, dimulai kembali hanya dengan kaki kiri. Malah, aktivitas bersepeda dilakoni Sabar jadi lebih sering; 20 kilometer setiap hari.

Dan pada 2011, ia memulai pendakian seven summit. Kala itu, gunung pertama yang ia taklukan Elbrus di Rusia, disusul Kilimanjaro di Tanzania dan Cartenz di Papua.

Meski menyandang tuna daksa, tapi tak menyurutnya tekadnya mencapai pucak tertinggi seven summit. Selama mendaki pun, ia tak pernah mendapat bantuan khusus. Siasat yang ia terapkan dengan mengatur langkah.

“Kemampuan cukup lumayan, kalau dengan usaha yang keras saya yakin. Jadi inikan jarak jauh, kalau orang lain bisa jalan terus. Kalau saya, saya hitung langkahnya, satu, dua tiga empat lima sampai sepuluh berhenti. Nanti sampai sepuluh berhenti lagi sambil ambil nafas yang panjang," kenangnya.

Menyandang status sebagai disabel, ia tak ingin dianggap tak berguna. Pasalnya, publik masih memandang ia dan disabel lainnya sebelah mata.

Padahal, ini hanya persoalan tak diberinya kesempatan yang sama.

Dan tekadnya menaklukan seven summit, menjadi bukti; disabel juga bisa sejajar dengan orang normal lainnya.

“Pendakian ini akan mampu bisa untuk memberikan image bahwa seorang difabel itu bukan sebagai sampah. Kalau diberikan kesempatan bisa berkarya, berilah mereka kesempatan. Sehebat apa pun kalau tidak diberikan kesempatan sama juga Jadi, untuk teman-teman difabel tetap semangat untuk menekuni, itu bisa menjadi suatu nafkah,” harapnya.

Sepulang ke Solo, Sabar bakal memulai latihan lagi. Menguji kekuatan kaki layaknya berjalan di salju. Sebab, ia tak akan berhenti mendaki gunung selama ia mampu.



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!