Tokoh muslim Desa Siompin Ramli Manik. Foto: Rio Tuasikal/KBR

KBR, Aceh - Di Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam, gereja seakan tak boleh berdiri. Insiden pembongkaran hingga pembakaran gereja berulang terjadi di sana. Dimulai sejak 1995 dan terakhir Oktober 2015. Sepanjang tahun itu pula, total ada 25 gereja yang ditutup, dibongkar juga dibakar.

Sesungguhnya, keberadaan gereja di Aceh Singkil tak lepas dari sejarah keberadaan Suku Pakpak pada abad ke-11. Suku Pakpak yang kebanyakan beragama Kristen kemudian dirangkul HKBP yang telah membangun gereja sejak 1963.

Kala itu, wilayah Singkil masih menjadi bagian Provinsi Sumatera Utara. Barulah pada 1956, ketika Provinsi Aceh dibentuk, wilayah ini masuk Aceh. Maka jangan heran, jika di sana ada 12 ribu warga Kristen dibandingkan dengan 104 ribu warga Muslim.

Karena itulah, selama berpuluh tahun, hubungan warga Kristen dan Islam berjalan harmonis. Ramli Manik, tokoh muslim di sana jadi saksinya.

“Ada dibangun SD gara-gara ini. Jadi pemerintah tuh pelajari dong sejarahnya, jangan asal main hantam saja. Pada tahun 1971-1973. Tahun 1974 baru dibangun SD. Jadi ini berjasa,” katanya ketika ditemui KBR.

Ramli menunjukkan sebuah bangunan kayu. Bangunan itu gereja lama sebelum jemaat mendirikan gereja yang lebih besar.

Pada tahun 1970-an, ketika Desa Siompin belum memiliki sekolah, gereja itu disulap menjadi sekolah tingkat dasar. Ramli, yang pernah menjabat Sekretaris Desa selama sembilan tahun, saat itu mendorong renovasi gereja karena sudah tak mampu lagi menampung jemaat.

"Tahun 2007 dulu ini nggak ada lantainya, saya atas nama kepala desa bilang tolong kalian beri lantai agar layak. Tahun 2007 saya masuk lagi diundang sama teman-teman non-muslim dan masuk ke gereja. Saya bilang tolong bangun lagi, kalian sudah ratusan orang loh, apa muat ini? Bangun saja, saya atas nama pemerintah daerah siap menanggung resiko."

Namun gereja baru itu dirobohkan Pemda Aceh Singkil, Oktober lalu, dan kini jemaat membangun tenda sementara di samping reruntuhan gereja. Tenda itu juga sempat akan dirobohkan, tapi Ramli menentangnya.

"Kemarin itu Satpol PP datang kemari menggunakan surat perintah Pemda. Saya hadang sebagai muslim. Apa alasan saya? Orang ini kita bakar rumahnya dengan alasan sudah jadi gereja, ini buat tenda lebih bagus dari kandang kerbau pun kita larang. Mereka kan tidak membangun. Kalau ada pondasinya, atapnya seng, lantai keramik, bertingkat, itu baru."

Sikap Ramli menjaga harmoni umat beragama di sana, rupanya tak disukai segelintir orang. Apalagi sejak ia menolak pembongkaran tenda. Pesan pendek berisi hujatan berdatangan.

"Jangan sok pahlawan ya calon pendeta. Mentang-mentang kau sudah makan uang gereja. Dan jangan asal ngoceh ya. Tunggu saja qanun Aceh berjalan, kau dan orangtuamu akan dipancung karena ikut membantu mendirikan gereja. Saya jawab, Allah mengajarkan kepada Islam cinta kedamaian."

Penolakannya terhadap pembongkaran gereja juga diutarakannya ketika menjadi anggota Forum Kerukunan Umat Beragama Singkil. Sial, pria 42 tahun itu malah didepak dari posisinya.

Meski dianggap musuh oleh kelompok Islam intoleran, tapi bagi warga Desa Siompin, Ramli adalah pahlawan. Jemaat GKPPD Siompin, Lasmaida Manik, mengaku terharu ketika melihat Ramli berdiri paling depan menentang pembongkaran tendanya. "Senang lah kami kayak gitu. Dia pun nggak rela dibongkar tenda kami," ucap Lasmaida.

Sementara Paima Berutu, jemaat lainnya akan selalu mengingat jasa Ramli dalam renovasi gereja. "Kalau kami dari dulu sama bapak itu… waktu kami gereja ini masih kecil, waktu dia Sekdes sembilan tahun, kami undang waktu malam Natal. Natal pertama kami pasti undang kepala desa, dialah yang datang."

Hari itu, jemaat Kristen tengah bersiap ibadah Kamis Putih di tenda. Ramli pun pamit dan berjalan menuju motor bebeknya yang diparkir di halaman gereja.

Esok, Ramli akan kembali datang berbincang hangat dengan tetangganya yang Kristen. Sebab, kata dia, nabi Muhammad mengajarkan harmoni.

"Kita Islam ini, yang tahu Islam tidak pernah diajarkan kepada kita untuk berbuat anarkis. Islam itu rahmatan lil alamin. Malu dong kita Islam jadi peruntuh dan penghasut."



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!