Sembilan ibu-ibu petani Kendeng bersiap menyemen kaki di depan Istana Negara, Jakarta. Foto: KBR

KBR, Jakarta - Di bawah terik matahari, tembang Ibu Pertiwi dinyanyikan ibu-ibu petani Kendeng. Pesan lagu itu sederhana: agar bumi yang dipijak tetap lestari. Tapi, di tanah kelahiran petani Kendeng itu berada –Pegunungan Karst di Jawa Tengah—rusak lantaran dikeruk pabrik semen.

Meski sudah bersuara dari balik tenda selama hampir dua tahun, tak juga bisa menyingkirkan PT Semen Indonesia. Karena itulah, pada Selasa (12/4/2016), mereka menyambangi Istana Negara; mengadukan kehidupan mereka yang kian terancam.

Di depan Istana Negara, sembilan perempuan Kendeng itu berdiri. Tepat di hadapan mereka, ada sembilan kotak berukuran 100x40 sentimeter.

Mereka siap beraksi; membebat sepasang kaki dengan semen. “Kalau aku kan yang melahirkan ibu dari manusia, tapi ibu bumi melahirkan tumbuh-tumbuhan, padi, apapun yang kami makan itu dari ibu bumi. Makanya kami harus peduli pada ibu pertiwi supaya tetap lestari," ucap Sukinah, salah satu petani Kendeng.

Sukinah, menjadi yang pertama menyemen kakinya. Mengenakan kebaya, selendang melingkari bahu dan caping, tak ada ketakutan di wajahnya. Bagi dia, ini adalah bahasa menolak pembangunan pabrik PT Semen Indonesia.

“Daripada sakitnya besok itu lebih parah, lebih baik sakitnya sekarang. Kalau sakit sekarang tak seberapa tapi kalau sakit besok itu menyangkut anak dan cucu," jelas Sukinah.

Begitu pula dengan Deni Yulianti. Ia sampai menitikan air mata. Tapi tak ada rasa takut secuil pun dalam dirinya.

“Hidup tak selesai sampai di sini, tapi kalau tanah digali habis-habisan nanti anak cucu bagaimana? Karena selama ini ibu-ibu sudah berjuang dan tak pernah ada respon. Kami mau suara kami didengar. Banyak sumber mata air yang tak muncul lagi sumbernya. Terus mau digali sampai kapan," imbuh Deni.

Sementara, Karsupi bercerita, karena pabrik semen, sawahnya kekeringan sepanjang tiga tahun belakangan. Rugi pun harus ia tanggung. “Berbahaya, airnya tak keluar sudah kering. Satu hektar sudah tiga tahun kekeringan," kenangnya.


Penolakan Pabrik Semen Sejak 2014

Aksi menolak pabrik semen, sesungguhnya sudah mereka lakoni dengan berbagai cara. Di kampungnya, para perempuannya mendirikan tenda dekat lokasi pendirian tapak pabrik. Tenda itu didirikan sejak 16 Juni 2014 –tepat ketika perusahaan plat merah itu meletakkan batu pertama pembangunan pabrik.

Dan aksi ini bukan tanpa alasan. Bagi petani di Kendeng, Jawa Tengah, pegunungan Karst menyimpan sumber mata air yang digunakan untuk pertanian dan keperluan hari-hari.

Selama dua hari, ibu-ibu petani Kendeng bertahan di depan Istana Negara; menunggu datangnya Presiden Jokowi. Tapi tak kunjung muncul.

Ketika senja, anggota Kantor Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani datang menyalami. Dari kunjungan singkat itu, kata Murtini, Jaleswari berjanji bakal mengupayakan perjuangan mereka.

Di hari kedua, dengan digendong beberapa pria, sembilan ibu-ibu petani Kendeng kembali mendatangi Istana Negara. Semen yang membelenggu sepasang kaki itu sudah mengeras. Meski begitu, Sukinah, tak tampak layu. “Ya dianggap kayak nyawah, terkena lumpur."

Sejumlah perwakilan lembaga pun turut hadir dan menyemangati. Salah satunya Sandrayati Moniaga, Komisioner Komnas HAM. “Memang sewajarnya pemerintah merespon dan datang kemari. Cari solusi apa yang bisa dibuat sesegera mungkin," tegas Sandra.

Merasa mendapat dukungan dari lembaga negara, belenggu semen itu akhirnya dihancurkan. Mereka optimitis, negara masih peduli pada perjuangan petani Kendeng. 

Tapi tiba-tiba, terdengar kabar dari dalam Istana; Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki diutus menemui mereka. Sekira pukul 6 sore, kedua muncul dan menyalami kesembilan ibu-ibu petani dan menjanjikan pertemuan dengan Presiden Jokowi.

“Saya pahami aksi mereka dan permintaan bertemu Presiden. Kita atur waktunya yang baik. Sebenarnya saya kemarin sudah menemui ibu-ibu, saya sudah memahami aksi mereka dan permintaannya hanya ingin bertemu presiden karena dialog di tingkat lokal mereka mengalami kebuntuan,” janji Teten.

Haru bercampur tangis tak terelakkan.

Tapi, perjuangan petani Kendeng belum berakhir. Mereka masih menunggu janji sang kepala Negara. 



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!