Industri kreatif UMKM kerajinan tangan daur ulang dari limbah. Foto: KBR

KBR, Semarang – Di sebuah rumah di Kelurahan Jomblang, seorang perempuan berusia 66 tahun baru saja pulang dari tempat pelatihan daur ulang sampah di Kota Semarang, Jawa Tengah. Dengan berjalan kaki menuju rumahnya di Jalan Kinibalu Barat, ia tak nampak lelah. Padahal ia mesti menanjak layaknya jalan di perbukitan.

Sri Ismayati Surjadi atau biasa disapa Ismy, sudah bergelut dengan sampah sejak lama, karena itulah beragam penghargaan lingkungan telah ia sabet. Sebut saja Green Award untuk katagori pelopor dan penggerak pengelolaan limbah plastik pada 2010 silam. Tak hanya itu, tempat ia tinggal pernah memperoleh penghargaan Program Kampung Iklim dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 2012 lalu.

Awal ia tertarik dengan sampah karena keprihatinannya melihat sampah menggunung di Sungai Bajak. Ia lantas tergerak mengajak masyarakat di Kelurahan Jomblang, membersihkan sampah itu. Mulai dari membawa karung goni, menyapu gang-gang sekitar rumah hingga menyusuri sungai.

“Itu awalnya keprihatinan melihat warga masyarakat yang perilaku hidupnya terutama dengan lingkungan seperti membuang sampah sembarangan, membakar sampah, menimbun sampah, dan  membuang sampah di kali (sungai-red),” ungkap Ismy pada KBR Semarang, Kamis (31/03/16).

Rupanya, aksi Ismy dan warga dilirik LSM Bintari yang kemudian mengajaknya ikut pelatihan tentang lingkungan. “Kebetulan dari LSM Bintari itu memang ada program di Jomblang mengenai IPAL yaitu Instalasi Pembuangan Air Limbah untuk limbah tahu (dari pabrik-pabrik pembuatan makanan tahu yang ada di sekitar bantaran Sungai Bajak -red) dan mengadakan pelatihan kader lingkungan untuk masyarakat Jomblang, lah kulo tumut (saya ikut -red) saat itu,” kenangnya.

Hingga akhirnya terbentuklah paguyuban bernama Alam Pesona Lestari (APL). Di situ, Ismy dan warga diajarkan mendaur ulang sampah organik. “Akhirnya kesepakatan dengan anggota pelatihan kita membentuk paguyuban, namanya paguyuban masyarakat peduli lingkungan Kelurahan Jomblang yang namanya Alam Pesona Lestari (APL). Awalnya dari IPAL kemudian dibina Bintari, LSM itu mendampingi terus. Jadi program pertamanya itu pembuatan kompos, daur ulang sampah organik dengan keranjang takakura itu juga bantuan dari Kaita Kyusu dari LSM Jepang dengan Bintari,” tambahnya.

Melihat keseriusan tersebut, Yayasan Bintari Indonesia dan LSM asal Jepang, Kaita Kyusu, memfasilitasi APL mengikuti pelatihan pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos dan digunakan untuk kebutuhan sendiri. Sedangkan sampah anorganik, seperti plastik kemasan dimanfaatkan menjadi produk kerajinan bernilai jual. Produknya kemudian dipromosikan dengan menggelar pameran di kelurahan, Tak hanya itu, Kementerian Lingkungan Hidup maupun berbagai direksi perusahaan juga ikut memasarkan produk daur ulang itu.

“Promosinya dengan menggelar berbagai pameran. Syukur Pemkot sangat mendukung. Usaha kerajinan daur ulang ini terbilang berkembang sangat pesat. Tidak hanya tas, berbagai produk dihasilkan dengan bahan dasar sampah plastik bekas minuman serbuk dan plastik kresek. Seperti dompet, tikar, sajadah, tempat tisu, lunch box, sandal hotel, dan lain sebagainya,” paparnya.

Hasil dari barang daur ulang itu lantas dipromosikan lewat pameran di kelurahan yang dihadiri pejabat Pemkot, Kementerian Lingkungan Hidup maupun berbagai direksi perusahaan untuk memasarkan produk daur ulang. “Salah satu yang  membuat orang tertarik produk tas bermerek seharga Rp20 ribu hasil kreasi daur ulang. Mereka penasaran seperti apa tas bermerek ini, padahal ini merek dari berbagai produk yang didaur ulang. Dari situ banyak orang datang ke tempat kami,” lanjutnya.


Produk Daur Ulang Merambah Afrika

Untuk bahan baku produk daur ulang itu, Ismy menggandeng PT Marimas Putera Kencana. Tak disangka, ia malah mendapat pesanan perdana sebanyak dua ribu tas dari Pemkot dan dari luar negeri. "Kami mendapat pemesanan perdana hingga dua ribu tas, awalnya dari Marimas. Kemudian meluas pemesanan barang produksi kerajinan dari bahan baku sampah dari berbagai instansi. Tidak hanya menjadi langganan instansi pemerintah dan perusahaan beberapa hasil karyanya sudah merambah luar negeri seperti Jepang, India, Belanda, Cina, Jerman, Singapura dan Afrika,” ujarnya.

Dari situlah warga mendapat uang. Sementara untuk pemasaran, ada pihak ketiga yang diajak bermitra. Tapi buah manis ini tak selamanya berjalan mulus. Pasalnya, ada saja pihak-pihak yang menganggap remeh hasil kerja mereka. “Kendala terbesar, mengubah perilaku orang. Kami sering mendapat kritikan terlebih lagi ketika program ini belum berjalan. Banyak yang bilang ibu-ibu itu kurang kerjaan atau nambahin kerjaan saja. Pada prinsipnya, jangan pernah mengajak tapi tunjukkan hasil kerja. Dari beberapa pelatihan kader lingkungan maupun pendampingan pun setali tiga uang. Ada yang tidak berhasil. Semua tergantung komitmen dan niat bersama untuk menjadikan lingkungan lebih baik,” jelasnya.


Kampung Proklim

Ismayati dan teman-temannya kemudian berniat mewujudkan misi ‘Hijau dan Bersih Kampungku’. Targetnya menyukseskan program penghijauan di kampung yang kerap mengalami longsor. Kini, Kecamatan Candisari mengalami perubahan; wilayah itu lebih bersih dan tertata rapi.

Atas keberhasilan itu, Sri Ismayati didapuk sebagai pelopor kampung iklim. Sementara Kelurahan Jomblang meraih predikat sebagai salah satu kampung iklim (proklim) dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).  “Awalnya saya hanya ingin menjadikan kampung ini bersih dari sampah dan hijau. Tujuannya untuk kebersamaan, Itu saja.”

Sampah sudah menjadi bagian dari hidup Ismy. Itu mengapa di rumahnya, ada tempat pengolahan untuk memilah sampah. Maka jangan heran jika berkunjung ke sana, akan disambut sampah. Jika bergeser ke garasi rumahnya, ada ruang pameran dengan beragam macam produk sampah hasil daur ulang.

“Awalnya, sampah plastik itu memang mengganggu pamandangan sebelum diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomis tinggi. Ini untuk membuktikan bahwa sampah juga bisa bermanfaat jika dikelola dengan benar. Tinggal bagaimana kreativitas masing-masing.Tidak hanya itu, aktivitas ini bagi saya juga terapi jitu biar rileks,” ungkapnya sambil menunjukkan galeri produk kerajinan berbahan baku sampah seperti guci dari kertas koran dan bunga.

Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!