Sembilan ibu-ibu petani Kendeng, Jawa Tengah, menyemen kaki di depan Istana Negara. Foto: KBR


KBR, Jakarta - Sembilan kasur lipat berjejer rapi, merapat tembok. Di atasnya, para perempuan dengan sepasang kaki yang dipasung semen, berbaring. Ada pula yang duduk. Kalau ingin buang air, mereka harus dipapah minimal dua orang menuju toilet darurat berbahan terpal yang letaknya dua langkah dari kasur terakhir. Pemapah pun harus perempuan.

Itu malam, selasar Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta menjadi saksi, bagaimana ibu petani Kendeng, Jawa Tengah melawan kebebalan pemerintah. Dan Selasa kemarin, barulah awal.

"Rasane yo pegel-pegel. Bokonge iki panas. Tapi Pulau Jawa iku kan lumbung pangan. Lumbung pangan, yen ditambang terus pripun? Petanine dados pundi?" ujar Murtini kepada KBR di Kantor LBH Jakarta, Rabu(13/4/2016).

Sudah hampir 24 jam, kaki mereka dibenamkan dalam kotak isi semen berukuran 100x40 centimeter dan ini adalah bahasa mereka menolak pembangunan pabrik Semen Indonesia.

Murtini bercerita, semalam sulit tidur. Kalaupun tidur, tak bisa leluasa kecuali berbaring telentang. Dengkulnya menekuk menyerupai segitiga. Untuk mengistirahatkan punggung dan bokong saja, ia harus puas dengan berdiri sejenak. "Capek ya capek pasti. Tapi mau bagaimana lagi? Pak Jokowi belum menemui kami!"

Murtini dan petani Kendeng sudah lama mempertahankan tanah mereka dari jajahan pabrik semen. Perjuangan ini berawal 2006. Lelaki dari hampir seluruh desa di Kecamatan Sukolilo dan Kayen lah yang memulai.

Sedangkan gerakan para ibu, dimotori kali pertama oleh seorang perempuan warga Sedulur Sikep, Gunarti. Ia menyadarkan ibu lain untuk mengimbangi perjuangan lelaki. Menurutnya, tanah selayak ibu yang melahirkan keberkahan pada keberlangsung hidup mereka.

Mereka mulai dengan beragam aksi protes, lebih dari 660 hari membangun tenda perlawanan pendirian pabrik semen, hingga langkah hukum. Tapi rupanya, perjuangan itu belum membuahkan hasil.

Hari ini, mereka menyambangi rumah Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka untuk kali kedua. Berharap Jokowi lihat dan dengar perih mereka yang terancam pabrik semen. Sebab, bertani tak lagi mudah. Lahan mereka di Pati, Rembang, Blora dan Grobogan tak lagi subur.

Cerita serupa diutarakan Deni Yulianti asal Grobogan. Di daerahnya, sumber air seret. Banyak galian ilegal di lahan pertanian. Kala kemarau, Deni dan warga lain pun terpaksa membeli air. Padahal ada ratusan mata air yang terkandung dalam bongkahan pegunungan karts Kendeng.

"Takut, tidak. Karena mungkin dengan cara seperti ini kami berbahasa. Untuk membuka mata semua pihak yang berkaitan dengan pemerintahan dan memberikan keadilan untuk kita semua. Kalaupun ini sakit, esok akan lebih sakit lagi ketika pabrik semen itu ada dan penggalian di Pegunungan Kendeng itu terjadi," kata Deni sembari pelan mengurut betisnya.



Editor: Quinawaty Pasaribu

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!