Shohib, warga Ahmadiyah di Desa Mutisari, Wonosobo. (foto: Sasmito)

KBR, Jakarta - Pagi itu belasan warga Dusun Bendungan, Desa Mutisari, Wonosobo tengah sibuk memperbaiki dapur Shohib yang lapuk dimakan usia. Bantuan semacam ini bagi warga setempat sudah menjadi tradisi.

"Kalau sambatan ini tidak bisa ditentukan. Di sini yang mempunyai hajad. Istilahnya saya yang punya hajad, orang-orang terdekat dan sekitar saya kabarin untuk bareng-bareng,” ucap Shohib. Sambatan yang dimaksud Shohib tadi, dalam bahasa desa setempat, artinya gotong royong.

Desa Mutisari berada di wilayah pegunungan dengan jalan yang menanjak dan curam. Di beberapa jalan sebagian rusak. Untuk sampai ke sana dengan sepeda motor, butuh waktu satu setengah jam lebih dari pusat kota.

Sekilas tak ada yang spesial dari dusun ini. Hanya saja jika ditelisik mengenai keyakinan warganya, maka akan terasa kekhasannya. Di sini, Ahmadiyah, Syiah, Muhamadiyah dan NU, menyatu.

Shohib misalnya, adalah seorang Ahmadiyah. "Kalau saya tidak takut, karena di sini sudah menjadi keyakinan saya. Juga di sini kan memang sangat menghargai dan toleransinya sangat tinggi. Dari antar umat beragama, khususnya di sini kan semuanya Islam. Ada NU, Ahmadiyah dan yang lain," tambahnya.
 
Lelaki 35 tahun itu bercerita, sambatan juga dilakukan saat musim tanam. Dimana warga secara bergantian mengolah lahan warga yang lain. Hal itu dilakukan dengan sukarela.

"Kalau di sini ini sambatan macul atau nyangkul.  Kalau di sini biasanya kalau musim-musim mau tanam tembakau atau cabai, itu ya bareng-bareng antara orang NU dan Ahmadiyah bareng-bareng."
 
Tak melulu soal pekerjaan. Warga Desa Mutisari juga kompak saat berpelesir dan berolahraga.
 


Kedekatan NU dan Ahmadiyah

Kedekatan warga NU dan Ahmadiyah juga ditegaskan Khamaluddin, yang rumahnya berjarak sekitar 50 meter di belakang rumah Shohib. “Kalau pak Shohib saya sudah tidak mau lihat apa agamanya itu. Karena tiap hari kegiatannya sama pak Shohib. Baik di kelompok petani atau apa. Jadi saya tidak mau memikirkan mau NU atau Ahmadiyah,” ungkapnya.

Bapak dua anak ini juga mengaku kerukunan dengan tetangga lebih penting daripada memperbesar perbedaan. “Karena walaupun mau bagaimanapun tetap penduduk sini. Mau gimana-gimana tetap orang sini juga. Masalahnya kalau di dusun kita hidup bertetangga lebih baik mengesampingkan perbedaan.”

Menyatukan warga Desa Mutisari tak hanya dengan sambatan atau gotong royong. Kepala Desa Mutisari, Mahyatun Mahotip  juga punya cara sendiri. “Kalau di Mutisari itu kan sering diadakan pengajian umum yang tidak pandang dari organisasi apa, yang penting Islam. Lalu hari besar juga kita kumpul seperti Maulid Nabi dan Isra Miraj,” tutur Mahyatun.

Ia bahkan tak segan menggelar rapat dengan perangkat desa untuk mengantisipasi menjalarnya kekerasan terhadap Ahmadiyah dan Syiah di luar kota mereka. “Antisipasinya kadang tanya ke saya, kok di televisi seperti itu. Terus saya bilang itu anarkis jangan ditiru, selain itu juga disampaikan melalui musyawarah pada Jumat wage di kalangan perangkat maupun aparat desa,” tutupnya.


Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!