Pengunjuk rasa peduli buruh migran melakukan aksi menentang hukuman mati terhadap Mary Jane Veloso di depan Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4). ANTARA FOTO

KBR, Jakarta - Tangisan Cecilia Velosso, ibunda Mary Jane Fiesta tak kunjung berhenti meminta pengampunan kepada Presiden Joko Widodo. Perempuan paruh baya itu, tak ingin anaknya mati di hadapan regu tembak yang tinggal hitungan jam.

“Kepada pak Presiden, tolong dengarkan saya, saya meminta agar anak saya, Mary Jane diampuni. Tolong dengarkan kami. Berilah grasi kepada Mary Jane. Sebab Mary Jane tidak bersalah. Kami berharap agar keputusan itu bisa dirundingkan kembali. Kami akan membalas kebaikan yang Anda lakukan,” ucap Cecilia Velosso di Dermaga Wijayapura, Cilacap, Jawa Tengah.

Cecilia tak sendiri mengunjungi anaknya. Sejak Sabtu (25/4/2015) lalu, ia datang bersama seluruh keluarga, termasuk kedua anak Mary, Daniel yang berumur 11 tahun dan Darren delapan tahun.

Mary Jane merupakan terpidana mati kasus narkoba asal Filipina. Ia divonis hukuman mati oleh hakim Pengadilan Negeri Sleman lantaran kedapatan membawa 2,6 kilogram heroin pada tahun 2010 lalu. Ia ditangkap di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. 

Meski tinggal hitungan jam, tapi keluarga Mary Jane tak mau menyerah. Pengacaranya Adre Olalea mengatakan, kliennya tengah mengajukan Peninjauan Kembali untuk kedua kalinya. Ia berharap Peninjauan Kembali itu bisa meringankan hukuman kliennya. Minimal menjadi hukuman seumur hidup.

“Hal kedua yang tak kalah pentingnya, Mary Jane adalah korban perdagangan manusia. Dan karena dia korban perdagangan manusia, hukum internasional, hukum Malaysia, Filipina dan Indonesia, mewajibkan negara melindungi korban perdagangan manusia. Bukan menghukumnya,” tambah Adre Olalea.

Mary sempat mengajukan pengampunan, tapi permohonan grasi yang diajukannya ditolak Presiden tertanggal 31 Desember 2014.


Mary Jane Ditipu Menjadi Kurir Narkoba

Mary Jane Fiesta Velosso adalah bekas Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Dubai. Sial, di sana ia hampir menjadi korban pemerkosaan. Salah satu kerabat Mary bercerita, “Mary Jane itu mantan buruh migrant di Dubai, selama 10 bulan. Karena dia akan diperkosa oleh sesama pekerja dari India. Dia trauma dan masuk 10 bulan di RS dan tidak bisa bicara. Setelah sembuh dipulangkan. Dan ketika itu dia mencoba kembali di PJKTI tapi belum dapat. Dan ketika itulah Kristina menawarkan menjadi PRT di Malaysia.”

Kristina yang disebut tadi, adalah tetangga suaminya. Kristina kemudian menjanjikan Mary kembali bekerja sebagai PRT di Malaysia asalkan Mary mau ke Indonesia. “Dia disuruh ke Indonesia, selama seminggu untuk menunggu pekerjaan sudah siap di Malaysia. Karena dia harus packing, dia bilang, ini banyak sekali bagaimana menempatkannya? Kemudian Kristina bilang, nanti akan dibelikan koper baru. Kok berat? Ini koper baru jadi berat. Dia mengecek semuanya. Tapi tidak ada apa-apanya. Jadi dia packing,” ungkapnya.

Tapi rupanya, Mary ditipu dan malah dijadikan kurir narkoba.

Sementara itu, rohaniawan yang didatangkan ke LP Nusakambangan, Mathius Arif Mardjaja mengaku kecewa dengan perlakuan pihak Lapas. “Kemarin saya besuk mereka pagi sampai jam 16.30 sama keluarga, Andrew, Myuran, Mary Jane, di sana semua. Waktu mereka datang, tangan mereka diborgol sampai kita pelukan, mereka masih di borgol. Setelah itu kemudian dibuka borgolnya sama petugas. Ini menyedihkan buat saya. Terlalu berlebihan ya,” kata Mathius Arif Mardjaja.

Mathius juga bercerita, selama mendampingi para terpidana di sel isolasi, mereka mengaku telah bertobat. Semestinya hal itu menjadi pertimbangan untuk mengampuni, “Sepuluh tahun yang lalu mereka salah. Mereka mengakuinya. Mereka tidak pernah menyangkal. Bahwa mereka salah, tapi kemudian waktu mengubah mereka. Tapi kita bangsa yang kehilangan belas kasihan. Kita akan dicatat dalam sejarah. Bagaimana kita merespon orang-orang bertobat. Kita akan membunuh orang-orang bertobat. Ini mengerikan. Tidak ada yang bisa dibanggakan. Karena kita akan dikenal sebagai bangsa yang membunuh dan tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang pembunuh,” tutupnya.

Dermaga Wijayapura, Cilacap, Jawa Tengah, kini semkain sibuk jelang eksekusi sembilan terpidana mati di LP Nusakambangan. Di depan dermaga, kendaraan barracuda dan water cannon disiagakan. Jalan dipasangi barikade dan garis polisi. Puluhan personel gabungan TNI dan Polri bersiaga di depan dermaga dalam radius 150 meter di jalan masuk dermaga.

Dan terhitung sejak notifikasi pada Sabtu lalu, waktu eksekusi tinggal menghitung jam. Ke-sembilan terpidana itu akan berhadapan dengan 140 anggota regu tembak yang disiapkan Polda Jawa Tengah di Lapangan Tembak Tunggal Panaluan.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!