Michelle Minowatan sedang di kedai kopi (Foto: Rio Tuasikal)

KBR, Jakarta - Di sebuah kedai kopi di Jakarta, Michelle Minowatan membahas proyek bersama temannya.

Perempuan berusia dua puluh empat tahun ini membeli caramel macchiato ukuran kecil dan sepotong sandwich.
 
“Kamu percaya enggak awal kuliah berat badan gue itu 48 kilo? Pas pindah ke Jakarta, enggak tahu ya, karena di Jakarta keseringan fast food. Ke mana-mana nongkrongnya makan. Jadi lah kayak begini,” ucapnya lalu tertawa.
 
Kini berat badan Michelle 55 kilogram. Meski masih disebut ideal, tapi ia bisa jadi 100 kilogram 35 tahun lagi jika tidak mengubah pola hidupnya. Ini karena minuman yang dipesan Michelle mengandung gula tinggi mencapai 32 gram---lebih dari setengah kebutuhan satu hari.
 
Michelle hanya satu dari jutaan pemuda kelas menengah yang rentan kegemukan. Meraka pun tak sadar, kondisi itu mengancam hidup mereka dengan sakit jantung, stroke, dan kanker.

Hal ini jadi ancaman besar, mengingat jumlah kedai kopi di Indonesia terus naik. Sebuah kedai kopi ternama asal Amerika Serikat saat ini punya 188 toko se-Indonesia. Tahun ini merk itu akan menambah 35 kedai baru. Belum lagi minimarket berbagai nama yang jumlahnya juga meroket, mereka menjual berbagai jenis kopi manis.



Ancaman inilah yang menyita perhatian Kementerian Kesehatan. Sebab, jika tidak dihentikan, generasi gendut 35 tahun mendatang akan jadi beban pemerintah. Bonus demografi 2030 pun bisa jadi bencana. 

“Makanan berlebihan ini kan akhirnya terjadi penumpukan, terjadi kegemukan, obesitas. Itu yang jadi masalah kesehatan," tutur Kasubdit Pengendalian Penyakit Jantung, Lili Banonah.

Lili menambahkan, "Enggak ada orang ujug-ujug langsung sakit jantung. Pasti sepanjang hidupnya dia berperilaku tidak sehat."
 
Kegemukan adalah faktor utama penyakit tidak menular yang kini jadi pembunuh utama di Indonesia. Dari setiap 10 kematian, enam di antaranya karena sakit jantung, stroke, dan  kanker. Dan semuanya karena gaya hidup tidak sehat.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek bahkan mengatakan, 30 persen uang BPJS terkuras oleh penyakit-penyakit itu, terutama stroke.

Kementerian Kesehatan tidak tinggal diam. Kemenkes sudah mensosialisasikan asupan Gula, Garam, dan Lemak (GGL) yang sehat sejak 2013.

“Kalau gula itu 50 gram atau empat sendok, kalau garam itu 1 sendok teh, kalau lemak itu 67 gram atau setara lima sendok. Lebih dari itu berisiko berbagai penyakit,” tambah Lili.
 
Tapi kampanye GGL saja tidak cukup. Perlu kebijakan yang mengubah perilaku masyarakat. Dan upaya upaya ke arah itu tidak semanis yang diperkirakan. (Bersambung ke bagian 2)

Editor: Quinawaty Pasaribu
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!