Pengacara duo balinine Julian McMahon (kanan) dan seorang staf kedubes Australia, menunjukan lukisan yang dibuat oleh terpidana mati Myuran Sukumaran, di dermaga penyeberangan Wijaya Pura, Cilacap, Jateng, Sabtu (25/8). ANTARAFOTO

KBR, Jakarta - Raji Sukumaran, ibu terpidana mati kasus narkoba asal Australia, Myuran Sukumaran, tak henti-hentinya menangis. Detik-detik jelang hukuman mati di Lapangan Tembak Tunggal Panaluan, ia terus memohon agar rencana itu dibatalkan Presiden Joko Widodo. 

Tapi rupanya, permohonan itu tak mengubah apapun. Tepat tengah malam, Myuran Sukumaran dengan tujuh terpidana lainnya meregang nyawa di hadapan regu tembak Polda Jawa Tengah.

Pukul 04.50 WIB, satu persatu mobil jenazah terpidana mati kasus narkoba jilid 2 meninggalkan Dermaga Sodong Nusakambangan menuju Dermaga Wijayapura Cilacap. Iring-iringan mobil jenazah itu didahului dua kendaraan polisi dengan pengawalan Brimob dan TNI di sisi kanan dan kiri. Sementara, mobil Konsulat Jenderal Australia membuntuti dari belakang.

Iringan mobil bernomor tersebut tak bisa melaju kencang. Sebab, di sepanjang bahu jalan, berjejer ratusan warga yang ingin menyaksikan momen hukuman mati itu.

Belakangan diketahui, delapan terpidana kasus narkoba yang dihukum mati itu adalah Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dari Australia. Raheem Agbaje Salami, Okwudili dan Silvester Obiekwe dari Nigeria. Zainal Abidin dari Indonesia. Rodrigo Gularte dari Brasil serta Martin Anderson dari Ghana.


Eksekusi Mary Jane Ditunda

Tapi satu terpidana asal Filipina, Mary Jane Fiesta Velosso, ditunda eksekusinya. Ini karena Mary akan dimintai keterangan sebagai saksi dalam kasus perdagangan manusia yang menjeratnya.

Pasalnya sang perekrut Mary, Maria Kristina Sergio, menyerahkan diri ke Kepolisian Filipina pada Selasa lalu. Pengacara Mary Jane, Adre Olalea mengatakan, “Kami akan tetap mengajukan permintaan untuk Mary Jane. Karena dia adalah saksi kunci. Di mana dia adalah korban yang harus bersaksi. Dan kesaksiannya akan sangat berguna di pengadilan. Kesaksiannya sangat krusial dimana akan berpengaruh pada kasus perdagangan manusia.”

Mendengar kabar pembatalan eksekusi itu, keluarga Mary Jane begitu gembira. “Mereka sedang dalam perjalanan ke Jakarta dengan mobil. Semua orang di dalam mobil itu langsung melompat, berteriak kegirangan. Sehingga mobil itu harus berhenti untuk menghindari kecelakaan. Jadi bisa anda bayangkan, khususnya keluarga dan dua anak Mary Jane. Ini adalah momen yang penting, di mana mereka semestinya harus menunggu jenazah ibu mereka. Tapi itu semua justru sebaliknya,” ucap Adre di Cilacap, Rabu (29/4/2015).

Sementara itu, Adre, tengah mempersiapkan bukti baru sebagai upaya membebaskan kliennya dari hukuman mati.

“Bukti baru, beberapa fakta ada dalam pengajuan judicial review yang kedua. Di mana sebelumnya tidak diterima di Pengadilan Sleman. Bukti itu pastinya berkaitan dengan indikasi perdagangan manusia. Kepolisian Indonesia juga akan membantu Kepolisian Filipina, begitu pula dengan Komnas Perempuan. Kami sedang dalam proses mengumpulkan kesaksian ayah, ibu, dan saudara Mary Jane. Dan kemudian, tiga yang terakhir adalah korban. Mereka ada di Filipina. Semua itu kesaksian itu akan dikumpulkan dan divalidasi,” tambahnya.

Meski telah lolos dari regu tembak pada Rabu malam lalu, tapi nasib Mary Jane masih genting. Jaksa Agung, Prasetyo.

“Karena adanya kontak resmi kepada Presiden, Presiden merespon permohonan itu dan kita berikan kesempatakan kepada pemerintahan Filipina untuk mengungkap kebenaran adanya kejahatan perdagangan manusia. Filipina minta kepada Indonesia untuk menangguhkan pelaksanaan putusan Mary Jane. Karena Mary dibutuhkan untuk mengungkap kasus human trafficking. Mary diminta untuk memberi keterangan dan testimony. Inilah yang menyebabkan kita menghormati proses hukum yang sedang dilaksanakan di Filipina. Sehingga Mary Jane ditunda pelaksanaan eksekusinya. Saya katakan bahwa di sini penundaan bukan pembatalan. Karena faktanya MJ tertangkap tangan di Yogya memasukkan heroin ke Indonesia,” kata Prasetyo di Cilacap, Rabu (29/4/2015).

Kemarin, delapan jenazah terpidana mati telah diboyong ke negara masing-masing. Seperti jenazah Andrew Chan dan Myuran Sukumaran yang dipulangkan ke Australia.

Sedangkan Silvester Obiekwe dikebumikan di Madiun dan Okwudili dimakamkan di Ambarawa.


Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!