Gunung Tambora di kejauhan (foto: Zainudin Syafari)

Tarian kolosal menyambut Presiden Joko Widodo saat menghadiri acara Tambora Menyapa Dunia pada pekan awal bulan ini. Sekitar 200 anak muda menari Rai Saida yang artinya tunggang langgang. Tarian itu menggambarkan kepanikan warga saat Gunung Tambora meletus dua ratus tahun lalu.

Bupati Kabupaten Dompu Bambang M Yasin menyebut peringatan meletusnya Tambora sebagai permulaan pengembangan pariwisata di wilayahnya.

“Memberi daya ungkit yang luar biasa terhadap pertumbuhan kunjungan pariwisata ke pulau Sumbawa, khususnya di sekitar Tambora. Kami berharap cara-cara kita menangani tamu seperti ini, akan menginspirasi anak-anak muda. Ke depan orang yang naik motor trabas, naik sepeda, tidak harus membawa sendiri cukup menyewa dari travel agent yang ada di sekitar Dompu,” harap Bambang.

Tak hanya itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengusulkan agar dibangun sebuah museum arkeologi Tambora. Sebab sejumlah arkeolog dari berbagai universitas berhasil menemukan sisa-sisa peradaban lampau yang tertimbun abu vulkanik.

“Harusnya begitu, jadi ada tiga kerajaan yang tertimbun nah itu seharusnya digali. Jadi teman-teman arkeolog harus masuk duluan. Jadi kita pariwisata itu kan penikmat akhir dari selama komersialisasi,” ungkap Arief Yahya.

Gunung Tambora terletak di Semenanjung Sanggar wilayah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Gunung ini meletus hebat pada April 1815. Seketika, Tambora mengubur tiga kerajaan; Sanggar, Pekat dan Tambora.

Letusan itu juga membinasakan 12 ribu penduduk yang bermukim di kakinya.

Malah, setahun selepas erupsi megakolosal itu, keceriaan musim panas di Eropa dan Amerika Utara berganti dengan kengerian musim dingin, gagal panen, wabah kolera dan kematian pada 1816. Dampak erupsi Tambora itu baru disadari penduduk dunia ratusan tahun kemudian.

Kini, tinggi Gunung Tambora 2.851 meter diatas permukaan laut. Padahal dulu Tambora menjulang dengan ketinggian 4.300 meter.

Meski Gunung Tambora belum setenar Rinjani di Pulau Lombok, tapi Kepala Dinas Pariwisata NTB, Lalu Muhammad Faozal menyakini, Tambora mampu bersaing. Karenanya, warga yang tinggal di kaki gunung harus mulai diajari potensi wisata.

“Kita sudah mulai menata kelompok sadar wisata. Kita sudah memanggil siapa saja yang mau menjadi porter, membawa barang. Kita juga menawarkan kepada mereka siapa yang mau menjadi guide. Kita berikan mereka pelatihan dan mengetahui tentang sejarah,” tambah Faozal.

Turaya tinggal di lereng Tambora. Ia mengaku senang dengan perhelatan Tambora Menyapa Dunia. Sebab, gelaran itu mengundang berkah. Ia dan warga sekitar bisa menjual hasil bumi kepada wisatawan.

“Kalau saat-saat begini saya tanam. Kalau saat tanam saya tanam dan saya tinggal di di tempat tanaman itu. Kalau sekarang ada ramai-ramai saya angkat buah dan lain-lain di sini saya jual. Saya tanam jagung sama kacang tanah” katanya.

Sementara, Sahrudin warga Kempo Kabupaten Dompu yakin daerahnya akan didatangi banyak turis mancanegara jika peringatan letusan Tambora rutin digelar.

“Kita akan mendukung apa yang menjadi rencana presiden, apalagi tadi presiden mengatakan bahwa dananya akan didukung oleh pemerintah pusat. Dengan datangnya masyarakat dari luar Dompu , masyarat luar bisa mengetahui Dompu itu begini”

Hajatan Tambora Menyapa Dunia sudah berakhir. Tapi warga setempat berharap acara serupa akan digelar tahun tahun mendatang.

“Ini lagi penjajakan kami melihat, karena belum seperti gunung meletus misalnya Bromo yang sudah dijadikan daerah pariwisata. Di Merapi juga sudah ada penginapan atau hotel. Kalau di sinikan baru tahap awal dengan adanya Tambora menyapa dunia. Mungkin event bisa lebih maju kedepan,” tambah Sahrudi.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!