Takmir Masjid Al Hikmah, Kaliputih, Amiruddin (foto: Sasmito)

Suara Adzan sholat Jumat berkumandang dari Masjid Al Hikmah Desa Kaliputih, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, siang itu. Lima puluh lebih umat Islam duduk berbaris rapi mendengarkan khotbah. Namun, suara pengkotbah kali ini tak sekeras kumandang Adzan.

"Kalau nanti khotbahnya pakai speaker yang keras. Nanti kan mengganggu, orang-orang lain. Orang kristen dan agama lain. Inisiatif islam saja." kata Amiruddin.

Takmir Masjid Al Hikmah, Kaliputih, Amiruddin bercerita, sengaja memilih tema khotbah menjaga persatuan dengan umat lain guna menjaga kerukunan dengan jemaat gereja yang berjarak 50 meter dari masjid.

"Penyampaian ya kita pilih. Jangan sampai menyakiti orang sana yang tidak Islam. Walaupun agama apa saja saya juga menyambut pendirian vihara."

Selain ingin menjaga kerukunan dengan jemaat gereja, Takmir Amiruddin juga berusaha menjaga keharmonisan dengan umat Buddha yang tempat ibadahnya berjarak 500 meter.

"Menyambut pendirian vihara di dusun Jeglong. Walaupun Buddha tidak apa-apa yang penting sama-sama kepada Tuhan."

Tapi rupanya, menjaga keharmonisan saja tidak cukup. Bapak tiga anak ini bahkan siap pasang badan jika ada yang menganggu jemaat gereja.

"Dulu kan ada tamu dari jauh ke sini tanya akan merusak gereja. Tapi saya tidak mengizinkan, orang gereja tidak apa-apa kok akan digempur."

Usaha serupa juga dilakukan jemaat Gereja Pantekosta Kaliputih, Wonosobo.

"Pak kyai ketika mengadakan pengajian hari Minggu tidak menggunakan membran. Bagi saya itu kebenaran. karena saya tidak terganggu. Demikian juga ketika sholat Ied, kami orang kristen sudah berjejer di depan masjid halal bihalal mengucapkan selamat idul fitri. Mereka senang berarti kebenaran,” kata Pendeta Paulus Joko Purwanto.

Pendeta Paulus malah kerap mengundang umat Islam datang ke perayaan Natal bersama untuk menjalin keakraban antar warga Kaliputih.

"Pak Amin datang, tapi kami ngundangnya pas perayaan. Pamong, Camat, Muspika datang. Bukan saat sakral sehingga tidak campur aduk."

Kearifan lokal di Kaliputuh sudah terjalin sejak era 1980-an ketika Pendeta Paulus dan Takmir Masjid Amiruddin menjadi pemuka agama di Kaliputih. Meskipun tak se-erat sekarang yang memiliki tradisi saling mengucapkan selamat di hari besar dan toleransi dalam menggunakan pengeras suara.

Di Kaliputih sendiri, jumlah umat Islam ada 90 keluarga, Kristen 15 keluarga dan Buddha enam keluarga.

Meski menjadi minoritas, tokoh agama Budha Wonosobo, Lukitho mengatakan, wujud toleransi yang paling terlihat ketika ibu-ibu pengajian membantu pendirian vihara pada tahun 2000-an.

“Bahkan perlu saya sampaikan. Pada waktu umat Buddha membangun vihara, ibu-ibu pengajian itu menyumbang kepada panitia pembangunan vihara. Dalam bentuk amplop, yang penting bukan nilai uangnya. Tapi lebih kepada rasa simpati dan rasa memiliki,” ungkap Lukitho.

Tak hanya itu, umat Buddha juga mengisi acara hari besar agama lain dengan pertunjukkan kesenian Barongsai.

“Bantu itu ketika natalan, umat Budfha menyumbang Barongsai. Begitu juga dengan umat Budfha di Kaliputih juga ikut berpartisipasi kalau umat lainnya memiliki acara.”

Namun, yang tidak kalah penting menurut Lukitho yaitu Forum Bersama Lintas SARA yang selama ini sudah terjalin baik antar-umat beragama di Wonosobo.

“Yang pokok itu terjadi saling komunikasi. Baik diantara Islam, kristen, Buddha komunikasi. Di Wonosobo kan ada FKUB yang membuat situasi di Kaliputih bisa menjadi aman,” imbuhnya.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!