Jemaat gereja Pantekosta Kaliputih, Wonosobo (foto: Sasmito)

Butuh waktu 30 menit lebih untuk menuju Desa Kaliputih dari pusat Kota Wonosobo. Medan yang ditempuh KBR untuk sampai ke lokasi tidaklah mudah. Jalan berkelok dan menanjak mengiringi sepanjang perjalanan. Di sana ada Forum Bersama Lintas SARA.

Forum yang beranggotakan 40 orang dari berbagai agama ini dibentuk warga Kaliputih pada 1998. Koordinatornya Haqqi Al Anshary bercerita kerap mengunjungi umat Kristiani, Buddha dan Islam di desanya.

“Saya menyebutnya forum-forum jagong budaya. Ya seperti ini kumpul, di situ saling mengkonfirmasi dengan gaya slengekannya. Yang kemudian bisa mencairkan beberapa hal yang kayaknya sensitif banget,” ungkap Haqqi.

Lelaki berusia 43 tahun itu menuturkan organisasi yang terbentuk bersamaan dengan reformasi itu pada mulanya untuk mengantisipasi menyebarnya sentiment SARA di Jakarta. Ia pun kini harus terus berkeliling dari satu daerah ke daerah lain untuk menyambung tali silaturahmi antarumat beragama di Wonosobo sehingga kerukunan terus terjaga.

“Ya tidak setiap hari, tapi saya nyaris akan ketemu dengan orang-orang baru atau komunitas baru dan mesti ada ketawanya.”

“Contohnya kalau ada romo dan pendeta baru mereka sering gantian. Kami langsung mendatangi menyapa atau ngobrol begitu. Dan mereka juga inisiatif memperkenalkan begitu.”

Aktivis Gusdurian ini juga bercerita, forum dibentuk untuk memecah kebuntuan komunikasi antarumat beragama dan menyebarkan ide-ide keberagaman.

“Formulasi itu yang kita pilih begitu, karena saya melihat tidak mungkin kita memformulasikan dalam bentuk dialog, menjadi sangat elitis. Karena tidak semua kepala siap dengan bla bla bla dengan latar belakang masing-masing.”

Tak mau kalah dengan Forum Bersama, Pemerintah Kabupaten melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Wonosobo membuat perkemahan pemuda lintas agama.

"Kemah kebangsaan tersebut diikuti oleh generasi muda dari Nadhlatul Ulama (NU), ada juga Muhammadiyah , Rifa’iyah dan Ahmadiyah. Sementara dari generasi muda Kristen, ikut pula Kristen Jawa, GKI dan Pantekosta. Ada juga generasi muda Katolik, Hindu, Buddha , dan Konghucu, serta penghayat kepercayaan,” ungkap Ketua FKUB Wonosobo, Zainal Sukawi.

Peran Forum Bersama dalam menjaga kerukunan juga ditegaskan Bupati Wonosobo Kholiq Arif.

“Saya korelasikan dengan tokoh-tokoh. Misalnya lintas agama hidup FKUB. Lalu ada FKUB partikelir juga hidup. Dia bisa mengkombinasikan anak-anak muda untuk menyatu dalam kegiatan lintas agama.”

“Ibarat penjahit itu. Pemerintah itu mengkombinasikan pola yang sudah dibentuk publik. Dengan kesadaran gotong royong, Mereka tidak melihat agamanya apa, madzabnya apa dan politiknya apa,” tambah bupati.

Meski begitu, Kholiq juga tak segan menegur warganya jika dinilai sudah berlebihan dan membahayakan kerukunan.

“Pada tingkat ada pemaksaan kehendak, saya turun. Eh gak boleh, gak boleh, stop-stop kembali-kembali ke barak. Jangan memaksakan, untuk apa, stabilisasi. Bukan berarti tidak demokratis.”

Begitu juga sebaliknya, Kholiq Arif juga siap pasang badan untuk warganya jika mereka benar. Walaupun harus berhadapan dengan pemerintah pusat.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!