[SAGA] Sri Rabitah: Saya Bersumpah, Tidak Pernah Menjual Ginjal

"Saya berani sumpah, saya nggak pernah menjual ginjal. Saya nggak tahu kalau ginjal saya nggak ada di sini satu," kata Rabitah.

Kamis, 23 Mar 2017 16:30 WIB

Sri Rabithah menunjukan hasil rontgen di RSUP NTB kepada wartawan di Lombok, Senin (27/2/2017). Satu ginjal Sri hilang diambil saat ia bekerja sebagai TKI di Qatar pada 2014. (Foto: Hanapi/KBR)


KBR, Lombok - 10 Maret 2017, Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Sanglah Denpasar, Bali, kedatangan pasien baru; Sri Rabitah. Perempuan asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, ini harus dirujuk lantaran kondisinya yang kian memburuk.

Keberangkan Sri Rabitah ke rumah sakit, hanya ditemani keluarga dan pendamping dari Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran (PBHBM). Muhammad Saleh –adalah salah satu pendamping yang setia menemaninya sejak awal. Dia bercerita, merujuk pada hasil pemeriksaan rumah sakit di Mataram, Sri Rabitah mengalami komplikasi penyakit.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter lebih mendalam lewat CT Scan, dua kali didapatkan informasi bahwa dia (Rabitah-red) mengidap beberapa penyakit komplikasi. Dan itu harus ditangani oleh konsultan khusus, yang tidak ada di rumah sakit (Mataram) ini atau di Nusa Tenggara Barat. Itu sudah didiskusikan, dikonsultasikan dengan para dokter senior," kata Shaleh di Mataram.

Dari tim dokter di Mataram pula, Shaleh, tahu bekas buruh migrant ini mengalami kebocoran pada usus dan ada kemungkinan hal itu berkaitan dengan operasi yang pernah dijalaninya di Qatar.

Sebab, sepanjang hidupnya, Sri Rabitah, tak memiliki riwayat penyakit semacam itu.

"Bahwa itu kemungkinan ginjal karena pertukaran dengan ginjal yang lain atau apapun itu harus kita teliti. Tetapi kalau kita mau analisis pada cerita yang dia ceritakan, tentu memang harus patut menduga tetap ada hubungan dengan kasus hari ini," imbuh Shaleh.

Kisah Sri Rabitah –warga Desa Sesait, Lombok, Nusa Tenggara Barat, ini bermula ketika berangkat menjadi TKI ke Qatar pada 2014 silam. Pilihan menjadi TKI, ia ambil demi menghidup keluarganya yang miskin.

Lewat perusahaan penyalur PT Falah Rima Hudaity Bersaudara, Sri Rabitah, dinyatakan lolos pemeriksaan kesehatan. Setelahnya, ia menjalani pelatihan menjadi pekerja rumah tangga di Balai Latihan Kerja Luar Negeri milik perusahaan itu. Hingga pada 27 Juni 2014, Sri Rabitah, terbang ke Qatar bersama 22 orang temannya.

Di negara yang terletak di semenanjung Arab tersebut, Sri Rabitah bekerja sebagai PRT di rumah majikannya bernama Madam Gada –di Ibu Kota Doha Qatar. Tapi, di sana, ia kerja layaknya budak; hampir tak ada istirahat.

Dan, baru enam hari kerja, sang majikan perempuan memboyong Sri Rabitah ke rumah sakit dengan alasan yang mengherankan; pemeriksaan kesehatan. Sri Rabitah pun, bertanya-tanya lantaran merasa tak sakit apa pun juga. Apalagi, dirinya sudah dinyatakan lolos pemeriksaan kesehatan sebelum berangkat.

Perempuan berusia 25 tahun ini, lalu coba meyakinkan sang majikan bahwa kondisinya baik-baik saja. Namun, si majikan tak peduli –memaksa Sri Rabitah ke rumah sakit.

"Setelah sampai di rumah sakit, bukannya diperiksa medikal tapi malah dipasang infus di tangan. Kemudian saya nangis, kenapa saya diinfus? Saya bertanya seperti itu. Dokternya bilang kalau Sri Rabithah belum bisa di-medikal sekarang, kondisinya masih lemah. Tapi selama saya merantau saya tidak pernah di-medikal seperti ini, saya bertanya seperti itu. Tidak apa-apa pokoknya Sri Rabithah tenang saja, kata dokter," cerita Rabitah kepada KBR, di Lombok, Senin (27/2/2017).

Sri Rabitah, juga masih ingat, begitu sampai di rumah sakit, dirinya malah dibawa ke ruang operasi. Di sana, ia disuntik dan langsung tak sadarkan diri. Sekitar lima jam kemudian, Sri Rabitah, siuman. Ia lihat tubuhnya terkapar di tempat tidur pasien dengan selang infus menempel di badannya.

"Di tubuh saya ada kabel, saya tidak tahu kabel apa. Terus di sana ada pemeriksa. Saya bilang, saya mau kencing. Tidak usah, katanya. Di sana kamu kencing saja sudah ada kantung kencingnya, begitu. Saya lihat kantung kencing saya, penuh dengan gumpalan darah, dua kantung yang diganti penuh dengan gumpalan darah," kenang Sri.

Sehari setelahnya, ia malah dipulangkan majikannya ke kantor agen penyalur di Qatar. Semenjak itulah, Sri Rabitah jadi sering sakit-sakitan; batuk darah, kencing darah, hingga keluar darah dari hidung.

Tak sampai di situ. Selama berada di agen penyalur, Sri Rabitah, mendapat siksaan –dipukul dengan balok karena dianggap berpura-pura sakit. Dia pun akhirnya dipulangkan ke Indonesia tanpa gaji.

Selang tiga tahun, sakit yang diderita Sri Rabitah tak kunjung sembuh; sakit pada perut dan tak bisa kerja berat. "Sakitnya ini sakit sekali, seperti ditusuk-tusuk pisau. Kalau duduk saya nggak tahan, kerja nggak bisa. Kalau saya kerja batuk darah, kencing darah. Sudah berapa kali keluar masuk rumah sakit tetapi nggak ada reaksi," kata Sri.

Tak kuat menanggung sakit berkepanjangan, pada 21 Februari 2017, ia dibawa keluarga ke rumah sakit untuk dirontgen. Saat itulah, ia diberi tahu bahwa satu ginjalnya lenyap. Dokter yang memeriksanya bertanya, apakah ia menjual ginjalnya?

"Saya berani sumpah, saya nggak pernah menjual ginjal. Saya nggak tahu kalau ginjal saya nggak ada di sini satu," kata Rabitah.

Dari hasil rontgen, ginjal yang lenyap itu berada di sebelah kanan. Dokter juga mengatakan ada selang berisi batu yang melingkar di perut Sri Rabitah.

"Ini selang sudah sejak berapa lama ada di dalam tubuh? Saya pun nggak tahu. Selang ini ada di dalam tubuh sekitar tiga tahun, kata dokter. Semua selang ini berisi batu. Isinya batu, penuh dengan batu jadi perlu dibuka selangnya. Katanya kalau tidak dibuka, batu yang sebesar ini akan menambah besarnya dari selang ini. Jadi saya disuruh kurangi makan," kata Rabitah menirukan dokter.

Tapi belakangan, Sri Rabitah justru dituding berbohong. Itu mengapa BNP2TKI mendesaknya meminta maaf dan menyatakan bahwa ginjalnya utuh. Pendamping Sri Rabitah, Muhammad Saleh, dari Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran (PBHBM), tetap memercayai kliennya.

"Dan ada proses dia dimasukkan ke suatu ruangan dan itu tidak dibantah oleh rumah sakit di Qatar dan kita tinggal menunggu waktu bagaimana kita menguji, bahwa apa yang diderita oleh kawan kita Sri Rabitah itu bisa dibuktikan secara medis," lanjut Saleh.





Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Ini Hasil Rapat Bamus DPR soal Perppu Ormas

  • Tim Arkeolog Sumba Berupaya Cetak Kerangka Situs 2800 Tahun
  • LN: Amerika Terapkan Sanksi Baru bagi Pendukung Korea Utara
  • OR: Di Tengah Ketakpastian Draxler Didekati Sejumlah Klub

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.