[SAGA] Begini Kampung Susun ala Korban Gusuran Akuarium

"Kenapa sih nggak duduk bareng? Tunjukkan sebagai pemimpin setidaknya duduk bareng, tunjukan konsepnya seperti apa. Saya rasa membangun bersama warga itu lebih utama."

Jumat, 03 Mar 2017 12:48 WIB

Dharma Dhiani, salah satu warga Kampung Akuarium, menunjukkan desain Kampung Susun Vertikal. Foto: Gilang Ramadhan/KBR.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta - Di atas puing-puing bangunan yang hancur, puluhan rumah bedeng tegak berdiri. Jarak dari satu rumah ke rumah lain tak terlalu jauh. Ada pula tenda berukuran besar.

Jika dilihat, sebagian rumah berbahan triplek dan kayu itu, tampak seperti baru ditempati. Para penghuninya, tak lain adalah warga Kampung Akuarium –yang April tahun lalu digusur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Selain sebagai tempat tinggal, rumah bedeng itu juga dibangun dan dipakai untuk berdagang makanan dan minuman. Letaknya persis di depan Jalan Pasar Ikan. Di tengah bekas Kampung Akuarium yang hancur tersebut, juga ada mushala –untuk warga beribadah serta tersedia dua MCK darurat.

Dharma Dhiani, salah satu warga Kampung Akuarium, bercerita setidaknya 100 keluarga memilih bertahan di sini. Yani –begitu ia disapa, juga mengatakan ada pula warga pindahan Rusun yang akhirnya kembali.

“Kalau kondisi sekarang ini, warga masih banyak yang bertahan. Dari dulu janjinya Pak Jokowi itu tidak akan menggusur. Malah beliau punya kontrak politik di sini bahwa kami akan dibuatkan sertifikat karena sudah lebih dari 20 tahun. Kalau kejadiannya sudah seperti ini, kami hanya pengen dikembalikan kampung kami,” kata Yani ketika ditemui KBR.  

Perempuan berusia 40 tahun ini, masih tak rela meninggalkan kampungnya. Toh, meski sudah 10 bulan dibulldozer Satpol PP, tak ada pembangunan apapun.

“Itu yang saya heran. Tak ada kegiatan apa-apa selain pemasangan sitpel dan tembok. Saya pernah cari tahu juga, ada yang bilang kalau di sini belum ada gambar. Jadi penggusurannya terburu-buru lah.”

Ketidakrelaan pindah juga disebabkan profesi mereka sebagai nelayan. Itu mengapa mustahil menjauhkan bahkan memisahkan warga Kampung Akuarium dengan laut. Karena itulah, mereka mengusulkan agar kampungnya kembali dibangun ulang dengan konsep baru.

Pembuatan desain dan konsep kampung susun ini, sesungguhnya sudah dimulai sejak Agustus tahun lalu. Dengan didampingi arsitek dari LSM Rujak Center. Tapi seperti apa kampung susun itu, warga lah yang menentukan.

Kepada saya, Yani menunjukkan rupa kampung susun itu. Di dinding balai tempat biasa warga berkumpul, tertempal tiga poster desain kampung tersebut. Dari desain, satu rumah nantinya dibagi menjadi dua kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruang tamu. Itu pun tergantung kebutuhan tia-tiap keluarga. Kembali Yani.

“Kebetulan kami dibantu gambar berdasarkan keinginan-keinginan kami ya seperti ini. Kalau memang bikin rumah horizontalnya kurang, kami juga mau dinaikin vertikal. Tapi ya berdasarkan keinginan kami seperti kampung susun. Bukan rumah susun yang kaku gitu. Tapi seperti kampung susun yang tetap suasananya seperti kampung.”

Arsitek dari LSM Rujak Center, Andesh Tomo, menjelaskan kampung susun ini terdiri dari empat lantai. Tiap lantai terdiri 16 unit rumah yang berukuran 4x9 meter dan diharapkan bisa menampung 386 keluarga.

“Pertemuan terakhir antara warga dengan pendamping arstitek itu melahirkan satu desain rumah susun. Kita menyebutnya Kampung Susun yang memang lain dari desain rumah susun yang ada sekarang. Perbedaannya adalah di layout bangunan yang masih menyediakan ruang-ruang komunikasi antarunit. Jadi dia bentuknya bukan lorong lalu deretan kamar, tapi bentuknya ada teras yang menjadi milik bersama antarbeberapa unit. Sehingga di antara beberapa penghuni bisa terjadi interaksi, komunikasi sosial yang baik,” kata Andesh Tomo.

Desain kampung susun ini juga memperhitungkan berbagai aspek, tujuannya agar masyarakat bisa berdaya secara ekonomi.

“Lalu yang kedua lantai dasarnya itu, diprogramkan kembali untuk menjadi area komersial seperti sebelumnya ada kios-kios di Kampung Akuarium. Warga berencana untuk membuat koperasi untuk mengelola itu semua. Sehingga diharapkan aktivitas ekonomi yang di lantai dasar itu mampu mensubsidi misalnya kebutuhan operasional unit hunian yang ada di atasnya. Jadi bukan lagi dikelola secara individu tapi  dalam bentuk koperasi,” sambungnya.

Secara keseluruhan, kampung susun ini tak seluruhnya diselimuti beton, tapi ada bambu dan papan.

Dimana lantai dasar diperuntukkan untuk berdagang, toilet umum, parkir, dan ruang berkumpul para penghuninya. Lantai satu, akan diprioritaskan bagi orang tua dan ibu hamil –supaya tak repot naik-turun tangga. Lantai dua dan tiga, untuk yang berkeluarga. Dan lantai empat, diperuntukkan buat yang membujang.

Tapi bagaimana dengan aturan ruang? Kata Andesh, Kampung Akuarium masih dimungkinkan dibangun rumah susun atau semacamnya.

“Kalau di Kampung Akuarium itu sudah sampai RDTR, Rencana Detail Tata Ruang. Itu zonasinya masuk pemerintahan daerah. Kalau digambar warnanya ungu tua. Sehingga bukan RTH. Nah di zonasi pemerintah ini, kita melihat peraturan secara bersyarat apa yang dibolehkan. Salah satunya dibolehkan ada wisma, baik wisma ukuran besar, kecil dan sedang. Selain itu dibolehkan juga ada rusun dan plaza. Sehingga dari kemungkinan-kemungkinan yang ada ini, warga melihat kalau memang di situ dimungkinkan secara peraturan ada rusun bolehkah mereka mengusulkan pada Pemda di situ dibangun rusun. Maksudnya open for negotation,” jelas Andesh.

Saat ini, tim arsitek dari LSM Rujak Center masih menghitung bahan baku dan biaya yang dibutuhkan dalam pembangunan kampung susun.

”Patokannya memang kita maunya enggak lebih mahal dari pembangunan rumah susun yang ada sekarang. Sehingga nanti bisa dibandingkan kualitas rumah susun yang ada sekarang yang dibangun pemerintah dengan apa yang diusulkan oleh warga. Dengan budget yang sama hasilnya kami harapkan ini lebih baik. Sehingga bisa diadaftasi di tempat lain.”

Nantinya, desain Kampung Akuarium ini akan diajukan ke berbagai pihak mulai dari Pemerintah Daerah, Swasta dan pihak-pihak lain yang bersedia membantu.

Kembali ke Yani. Warga berharap ada itikad baik dari Pemprov DKI Jakarta untuk berdialog menata kota. Salah satunya membangun kembali  Kampung Akuarium yang telah digusur.

“Harapannya setidaknya pemerintah kalau melihat dan mendengar dari berita-berita di manapun ayo lah. Kami juga bagian dari negara ini juga kan. Kalau dibilang kami liar kami nggak liar karena punya KTP. Kalau dibilang pendatang haram juga enggak, saya sendiri saja lahir di sini. Kenapa sih nggak duduk bareng? Tunjukkan sebagai pemimpin setidaknya duduk bareng, tunjukan konsepnya seperti apa. Saya rasa membangun bersama warga itu lebih utama. Kenapa? Kita bisa duduk bareng, kita bisa rencanakan, kami juga bisa ditata, kami juga bisa diatur. Kenapa nggak?,” harap Yani.





Editor: Quinawaty 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!