Juliana, istri Simon Sabona anggota Laki-laki Baru di Desa Toineke, NTT. Foto: KBR

KBR, NTT - “Saya pertama tumbuk jagung di samping rumah, malah ditertawakan, malah tidak ditegur. Kata warga, ‘kami malu karena hal yang bapak lakukan.’ Tapi saya coba terus lakukan, saya pulang bawa kayu api, ambil air, mandikan anak. Pelan-pelan berubah. Sekarang juga bapak-bapak bawa kayu api, sapi, ambil air, numbuk,” cerita Simon Sabona sembari tertawa.

Simon Sabona, adalah salah satu Laki-laki Baru di Desa Toineke, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Ia bercerita tentang kebiasaan barunya; membantu sang istri menumbuk jagung untuk dikonsumsi kelurga. Awal melakoni pekerjaan itu, ia dikucilkan. Tak ada tetangga pria yang mau menegurnya.

Para suami di desa yang selalu dilanda kekeringan ini, dulu, terbiasa menjadi raja di rumah. Semua pekerjaan rumah, dikerjakan sang istri. Faktor kesulitan ekonomi dan budaya minum ‘Laru’ –ramuan tradisional yang difermentasi sehingga menghasilkan minuman beralkohol—jadi pemicunya.

Ketika diajak bergabung dalam Laki-laki Baru, ayah tiga anak ini diajarkan pembagian kerja di rumah tangga. “Tapi mulai ikut pelatihan, kita berubah, laki-laki pulang kebun, bisa bawa kayu api. Dulu tidak. Perempuan yang ambil kayu, perempuan ambil air, memasak. Tapi sejak kami terlibat di Laki-laki Baru, kami sendiri jadi contoh.”

Sejak itu, ia mulai menularkan konsep Laki-laki Baru di lingkungannya. “Saya tertarik ikut Laki-laki Baru karena saya terlibat di mitra di Sanggar Suara Perempuan pada 2008. Dari situ kami tiap kali ikut pelatihan, kami dilatih dapat pengetahuan untuk dapat mengubah yang ada pada seseorang. Itu sulit, karena kami akan sosialisasi di tempat ibadah, posyandu. Kami selalu bicarakan ini.”

Beruntung, pelan-pelan idenya tentang Laki-laki Baru diterima. Ia bahkan, pernah diminta menjadi mediator ketika terjadi pertengkaran antara suami-istri di sekitar desa. “Di sini dari 2014 tidak ada lagi. Dulu 2008 terlibat, kadang jam 01.00 wita saya dijemput, damaikan mereka. Lalu saya pakai mata anak-anak, apakah suami istri masih bertengkar? Sekarang sudah tidak.”

John Bolla, Koordinator Divisi Pengorganisasian Kelompok dan Advokasi di Sanggar Suara Perempuan mengatakan, konsep Laki-laki Baru belakangan ditularkan pada pria muda yang belum menikah. Dengan begitu, kekerasan bisa dicegah jauh-jauh sebelumnya. “Dan perubahannya juga kita lihat pada anak-anak muda ada yang menyatakan, mereka senang karena memperoleh ini sebelum berumah tangga, bahwa ini baik daripada setelah berumah tangga terjadi kekerasan dan baru menerima informasi ini. Jadi tidak baik. Dan untuk orang dewasa, memang banyak yang dulu pelaku akhirnya berubah dan bukan pelaku. Terus dulu yang melakukan kekerasan pemicunya minuman kerasa. Sekarang sudah menurun kekerasan dalam rumah tangga,” kata John.

Meskipun kata dia, tentangan kerap muncul dari internal keluarga. “Tentangannya dari keluarga sendiri. Yang biasanya seperti ini mulai berubah.”

Tapi setelah tujuh tahun berjalan, program Laki-laki Baru sudah menjalar hingga ke tujuh desa yang tersebar di dua kecamatan; Kualin dan Molo Utara. “Jadi untuk program Laki-laki Baru, kita awalnya 2010 hanya 7 kelompok di 7 desa. Rata-rata satu kelompok 20 orang laki-laki.”


Apa Kata Istri Simon Sabona?

Kembali ke keluarga Simon Sabona. Istrinya, Juliana mengaku, sangat terbantu dengan perubahan sang suami. Pekerjaan rumah jadi lebih cepat rampung. “Manfaatnya bagus. Suami bisa bantu dalam rumah tangga. Kalau ada jagung kami tumbuk bersama, ambil air juga kayu api. Kalau sekarang, bapak berkebun, habis itu mencuci. Dulu kalau bumbuk jagung bisa satu jam, kalau sekarang setengah jam,” imbuhnya.

Malah kata Simon, sang istri kini bisa punya waktu berkumpul dengan teman-temannya. “Manfaat yang terasa oleh perempuan, mereka bisa bercerita ketemu dengan teman bahwa dulu tidak begini. Kami punya pekerjaan lebih banyak. Sekarang ada kebebasan.”
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!