Seorang pria tengah menjalani ruqyah di Masjid Darun Ni’mah, Lebak Bulus, Jakarta. Foto: Rio Tuasikal/KBR

KBR, Jakarta - Di Masjid Darun Ni’mah, Lebak Bulus, Jakarta. Puluhan orang, tua-muda, laki-laki dan perempuan, mengikuti pelatihan ruqyah atau pengusiran roh jahat secara Islam. Ruqyah mandiri ini menurut panitia, juga mengajak kelompok LGBT. Dan ini adalah kali pertama melibatkan kelompok tersebut.

Muhammad Hafidz –pelatih ruqyah menyebut, metode ini cocok untuk LGBT yang dia anggap punya trauma masa lalu dan ingin ‘disembuhkan’. "Kita harus kasihan dengan mereka, LGBT ini, karena mereka jadi lesbian atau gay itu karena latarbelakang mereka. Bukan tanpa sebab mereka tiba-tiba seperti itu, bukan. Mereka juga kebanyakan nggak mau seperti itu. Tapi mereka terjerat dalam dunia tersebut."

Selain trauma, dia menganggap seseorang menjadi LGBT karena dirasuk roh jahat dan dikuasai sihir. "Di sana kita fokus ruqyah masa lalunya, membuat dia menerima masa lalunya dia. Setelah itu kita ruqyah, setelah itu jinnya keluar. Karena di setiap psikis kita yang sifatnya menyimpang itu ada jin dalam tubuh orang tersebut."

Para peserta kemudian diajarkan metode ruqyah mandiri: meniupkan sejumlah surat pendek dalam Al Quran ke telapak tangan, dan menggosokan tangannya ke seluruh tubuh.

Dan, pengusiran roh jahat dimulai. Selama sejam, para peserta mencoba ruqyah mandiri itu. Bahkan, beberapa peserta sampai muntah.

Sementara seluruh peserta sibuk berlatih, empat pria di belakang, asyik bergurau di barisan belakang. Salah satunya Kholik, asal Tangerang. Dia mengaku, mereka berempat gay, namun dia menolak diwawancara. "Nggak apa-apa, kalau ada acara ini bagus juga. Ya intinya sih ini kan buat umum bukan untuk apa."

Teman di sebelahnya, Wiryo asal Bekasi, mengaku datang karena penasaran. "Makanya kita sebenarnya pengen dapat ilmu doang, kayak gimana sih ruqyah itu."


Ruqyah Sembuhkan LGBT?


Pelatih ruqyah, Muhammad Hafidz, mengklaim sudah banyak berhasil mengubah gay dan lesbian menjadi heteroseksual. "Lesbian pernah tiga pasien. Usia rata-rata masih muda, ada yang sekitar 20-an, kalau kemarin 30-an lebih. Termasuk yang gay," imbuhnya.

Metode ruqyah yang dilakoni Muhammad Hafidz sesungguhnya belum terbukti oleh ilmu pengetahuan. Ketua Arus Pelangi, Yuli Rustinawati mengatakan, upaya penyembuhan seperti ruqyah memberikan harapan kosong. "Belum pernah ada riset di sini. Tapi ruqyah atau curative therapy itu memang di beberapa negara justru sangat merugikan. Janjinya kan dirimu akan sembuh karena dianggap sakit tetapi tidak berpengaruh."

Ia juga mengatakan, upaya mengubah LGBT sudah banyak dilakukan; mulai dari pengusiran roh jahat dalam berbagai agama atau pendampingan psikolog. Bahkan, menyewa lelaki untuk memerkosa perempuan lesbian. Si keluarga perempuan berharap bisa mengubah ketertarikannya. "Harapan keluarga supaya balik, supaya sembuh. Kan lo juga suka kan sama laki-laki kan. Maksudku itu bisa bercanda. Tapi tidak bisa bercanda di situ. Ada kekerasan di situ."

Badan Kesehatan Dunia WHO sesungguhnya sudah menghapus homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa sejak 1990. Kementerian Kesehatan Indonesia pun sudah menghapusnya dari Pedoman Penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa sejak 1993. Homoseksualitas adalah variasi biasa seperti heteroseksualitas. Kemampuan kognitifnya sama, tidak ada perbedaan perkembangan.

Sehingga menurut Yuli, setiap orang lahir dengan potensi orientasi seksualnya. "Kalau memang dia nggak punya ketertarikan dengan sesama jenis, mau diapakan juga nggak bisa. Artinya, Kawan-kawan hetero, ditarik dan dipaksa jadi homoseksual itu nggak akan bisa. Tapi kemudian kawan-kawan yang merasa dirinya homoseksual, dan dia nggak ada masalah dengan itu, ditarik jadi heteroseksual, ya nggak bisa juga."

Seperti yang dirasakan Wiryo. Ia tidak merasakan perubahan usai pelatihan ruqyah. Dia tertarik kepada lelaki secara alami. Dan dia percaya Tuhan-lah yang  menciptakannya demikian. "Kenapa sih jadi kayak gini? Ada apa sih? Ini pun kami tidak request, datang dengan sendirinya. Sekarang, yang sudah berucu pun masih tetap jadi LGBT."



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!