KBR, Aceh Singkil - Sore di Kabupaten Aceh Singkil. Hujan mengiringi ibadah puluhan jemaat Gereja Kristen Pakpak Dairi (GKPPD) Mandumpang.

Di sana, di dalam tenda, mereka menggelar ibadah Kamis Putih.

Rosmayanti Manik, salah satu jemaat gereja mengaku tak khusyuk beribadah dengan kondisi seperti ini.

"Sedihlah, sedih sekali melihat keadaan seperti ini. Kemarin pun ketika Minggu kami ke gereja, hujan basah-basah dan semua terpaksa berdiri. Harus sempit-sempitan karena satu payung tiga orang," ucapnya.


Tenda tempat ibadah Rosma dipayungi terpal dengan tiang kayu tanpa dinding. Tetesan hujan pun menembus dari sela-sela tenda.

Sesekali, jemaat terperanjat karena kepala dan alkitab yang mereka pegang basah.

Penatua Gereja Kristen Pakpak Dairi (GKPPD) Mandumpang, Efrika Munte, mengaku rindu dengan gerejanya semula.

"Kami sangat berharap kami punya gedung gereja, tempat kami bisa beribadah dengan nyaman," jelasnya ditemui usai ibadah.

GKPPD Mandumpang dulu berdiri dengan luas 6x19 meter. Dibangun pada tahun 1958, gereja ini menaungi 300-an jemaat.

Tapi, pertengahan Agustus tahun lalu, gereja itu ludes dilalap api. Pihak kepolisian menyebut penyebabnya korsleting. Tapi, jemaat tak percaya. Mereka yakin ada yang sengaja membakar.

Pasalnya, sesaat setelah peristiwa kebakaran itu, jemaat melihat sebuah mobil keluar dari kebun sawit di seberang halaman gereja.

Keesokannya, di pagi harinya, Kepolisian dari Polres Aceh Singkil disaksikan beberapa jemaat GKPPD Mandumpang menemukan sebuah rencong tepat di belakang gereja. Diduga milik seseorang yang membakar gereja. 



Pasca insiden itu, pihak gereja lantas membangun tenda dekat jalan. Sial, dirobohkan Satpol PP. Hingga akhirnya, mereka memindahkan tenda ibadah itu ke kebun sawit.

Situasi yang sama dialami jemaat sembilan gereja yang dirobohkan Pemda Oktober tahun lalu. Kala itu, Pemda ditekan kelompok intoleran - yang juga main hakim sendiri dan menyerang dua gereja. Kelompok intoleran itu merujuk pada kesepakatan tahun 1979 dan 2001 yang membatasi jumlah gereja.

Di Aceh Singkil, KBR juga bertemu Norim Berutu, pimpinan jemaat GKPPD Siatas. Kami melewati bekas bangunan gereja, menelusuri kebun sawit ke tenda mereka, yang juga lapuk dimakan cuaca dan dikerubungi nyamuk.



Dan tahun ini tidak ada prosesi Paskah.

"Harusnya ada ibadah-ibadah selama satu minggu ini," jelas Norim.

"Kami tidak bisa lakukan karena situasinya di sana (semak-semak), lampu nggak ada, semak-semak bagaimana jalannya. Jadi kami banyak gangguan pelaksanaan kegiatan ibadah," tambah Norim lagi.

Jemaat GKPPD Siatas, Listiwati Silalahi, mengunjungi bekas gerejanya dan menangis.

"Tak sanggup kita. Terkadang kebaktian di semak sana kami selalu mencucurkan air mata, karena reruntuhan nampak dari sana," katanya.

"Kalau kami di sini dulu senang, termasuk anak-anak. Dulu selalu ada kegiatan. Paskah anak-anak cari telur Paskah. Tahun lalu itulah perpisahannya. Ada yang bawa telur, kue, dan minuman hangat," kenang Listiwati.




Kembali ke Rosmayanti Manik. Di Paskah tahun ini, dia berharap izin gerejanya segera terbit dan mereka bisa beribadah dengan khidmat.

"Semoga ada perubahan di Aceh Singkil ini, semoga Tuhan menunjukkan mukjizatnya secepatnya kepada kami," harap Rosma.

Namun melihat sikap bupati Singkil, Rosma tahu perjuangannya masih panjang. 

Editor: Quinawaty Pasaribu

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!