Salah satu adegan di pagelaran sandiwara Miss Tjitjih Roro Jonggrang. Foto: Quinawaty Pasaribu/KBR

KBR, Jakarta - Sabtu malam, mengawali tahun 2016, Miss Tjitjih menggelar pertunjukan perdananya; Roro Jonggrang. Legenda yang berasal dari Jawa Tengah tersebut bercerita tentang cinta seorang pangeran Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang.

Berlangsung hampir dua jam lamanya, Sandiwara Sunda itu berakhir dengan dikutuknya sang putri akibat tipu muslihat yang dilakukannya.

Penonton pun berdiri. Suara tepuk tangan memenuhi ruangan. Sang sutradara, Imas Darsih, bercerita tentang pementasan malam itu. “Seharusnya Januari ada pementasan. Mungkin takut mantan pengurus semua. Karena subsidi belum turun. Tapi kalau ibu dan pemainnya, nggak mikir soal honor, tetap jalan saja. Kalau kita mikir dan nunggu honor, kapan pentasnya. Sedangkan penonton sekarang susah. Sekarang kita pentas, ada penontonnya, terus berhenti. Susah ngumpulin penontonnya,” ungkap Imas Darsih kepada KBR.

Miss Tjitjih tengah menapaki kembali langkah pertamanya di dunia seni dan budaya. Itu malam, menjadi pembukanya. Kata Imas, untuk tahun ini bakal ada 24 kali sandiwara. Artinya dalam sebulan, ada dua kali penampilan. “Ibu juga nggak membanggakan diri, bahwa kita mampu menyelenggarakan pagelaran itu. Tapi memang kita balik lagi ke anak muda zaman sekarang. Apalagi dulu jarang. Tetapi kebagian pementasan cuma sedikit kami tetap semangat, tidak akan lemas menerimanya."

Tak mudah pula bagi Miss Tjitjih untuk menggaet para penonton. Saat pembukaan saja, penontonnya tak sampai 50 orang. Padahal kapasitas gedungnya mencapai 100an. Gedung itu malah baru saja rampung direnovasi oleh Pemprov DKI Jakarta, tiga bulan lalu.

Tak hanya itu, Pemprov DKI Jakarta memberi dukungan uang lewat model pendanaan yang baru. Kepala Seksi Atraksi dan Pameran Miss Tjitjih, Yuyu Wahyudin. “Saya kira ini sudah mulai transparan. Jadi tidak melalui badan lain lagi. Semisal rehab itu ada di dinas bukan UP lagi. Jadi Miss Tjitjih hanya mengurusi tenaga dan SDMnya, anak wayang.”

Dengan sistem baru ini, para pemain akan dibayar ketika manggung. Ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di mana Miss Tjitjih menerima dana hibah saban tahun. Dan, belakangan, uang itu dikorupsi.


Redupnya Miss Tjitjih

Nantinya, sekali manggung para pemarin dibayar Rp250 ribu hingga Rp500 ribu. Itu pun masih jauh dari cukup. Karena itulah, mereka harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan. Alhasil, kata Imas, banyak dari pemain yang bekerja sebagai tukang ojek, penjaga toko sampai perias pengantin. “Ada yang ngojek, melatih nari, ngewarung, sampai merias pengantin, sewa sewain baju, maju teman ibu ini.”

Sarifah Rohmah atau Omah misalnya. Sedari kecil ia sudah bergabung dengan Miss Tjitjih. Kini, perempuan berusia 46 tahun ini mengeluhkan redupnya pesona Miss Tjitjih. “Kalau khawatir iya. Tetapi jangan pesimis. Kesenian sunda yang bertahan itu Miss Tjitjih. Terus kita juga berusaha memperbaiki lagi permainan. Jangan takut dengan permainan di televisi. Tetapi harus ada dukungan dari atasnya, orang Jabar juga banyak dari pejabat. Dukung saja. Dengan promosi misalnya.”

Tapi, ia tak peduli. Toh, ia tetap ingin bermain karena kecintaannya pada sandiwara sunda tersebut. “Karena memang kecintaan bukan karena uang. Ada kesenangan batin,” imbuhnya.

Begitu pula dengan Sri Ayuwinati. “Kalau di luar bekerja memang lebih gede. Tapi gimana ya, kalau mendarah daging. Bahkan kalau tidak ada pementasan kita jenuh. Sudah seneng, kalau di luar lebih gede, tetap di sini.”

Ia pun ingin terus melestarikan budaya Sunda. “Sekarang kan zaman modern. Ya bisa dihitung pakai jari yang mengembangkan dan meletarikan budaya sunda.”

Lantas, bagaimana menggeliatkan Miss Tjitjih di tengah derasnya kesenian modern? Simak kisah bagian kedua.



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!