KBR, Jakarta - Ienes Angela pernah kuliah S1 Hukum di Universitas At Tahiriyah, Jakarta. Dia menceritakan pengalamannya memasuki dunia akademik.

"Hampir nggak ada pengalaman tidak menyenangkan dari sekitar. Ya paling pandangan-pandangan. Asumsiku mungkin 'ngapain itu banci kuliah di sini?' "

"Pernah dengar itu langsung?" tanya saya.

"Nggak juga, itu hanya asumsiku melihat sorot mata mereka. Atau mungkin mereka kagum ada waria kuliah di sini."



Ienes Angela sempat berkuliah di kampus berbasis Islam. Dia saat ini bekerja untuk LSM penanggulangan HIV/AIDS untuk kelompok gay, waria, dan lelaki seks lelaki GWL-INA.


Mula-mula, ia merasa canggung. Tapi kemudian, kampus berbasis agama ini bisa menerima kehadiran waria. Bahkan, dosennya mempersilakan dirinya berdandan.

" 'Kalau memang mbak Ienes mau dandan, dandan saja' ,"ujarnya menirukan perkataan sang dosen.

Dia melanjutkan, "Karena dia lihat aku pakaiannya begini. Dikiranya saya segan atau takut dikata-katai sama yang lain. Saya bilang 'iya bu', memang saya nggak terlalu suka make up. Biasa saja. Dan waria juga nggak harus identik dengan make up," kisahnya sambil tersenyum.

Di kampus, Ienes tak banyak bersolek, hanya perona bibir yang ia pakai. Selebihnya, ia mengenakan batik atau kemeja, celana jins plus flat shoes. Sementara rambutnya, diikat.

Malah, kata Ienes, hampir tak ada sekat antara ia dan teman-temannya.

"Anak-anak itu kan pasti rame. Kita terbiasa nyontek berjamaah. Jadi itu cair," katanya diselingi tawa.

Apa yang dialami Ienes di dunia akademik, sesungguhnya bukan hal baru. Sudah banyak transgender seperti dirinya yang diterima baik oleh sivitas akademika.

Tapi masalah muncul ketika Menteri Riset dan Teknologi, Mohamad Nasir, menyebut kampus bukan tempat untuk LGBT seperti Ienes.


Menristekdikti Mohammad Nasir mengklarifikasi ucapannya lewat Twitter.


Ucapan itu telah diralat, Nasir mengatakan hanya melarang LGBT melakukan aksi yang dianggap tak senonoh semisal ciuman - aksi yang juga bisa dilakukan heteroseksual.

Namun, Sikap Menteri Nasir tetap menuai kritik lantaran dianggap bisa memicu kekerasan pada LGBT di kampus. Ketua Arus Pelangi, Yuli Rustinawati, mengatakan waria paling rentan karena mudah dikenali dari penampilannya.

"Kondisinya tidak memungkinkan mereka untuk enak belajar di bangku sekolah. Ini membuat kawan-kawan dalam tanda kutip terpaksa harus kuat dengan kondisi yang tidak bisa mereka ubah. Karena selain teman sebaya, guru juga mengamini."

Arus Pelangi mencatat 9 dari 10 LGBT mengalami kekerasan. Dan, pernyataan Menteri Nasir itu bisa menghentikan langkah waria di dunia akademik.

"Banyak yang menyerah dengan keadaan. Dampaknya kemudian  prestasinya menurun, malas sekolah. Karena sudah terbayang kalau ke sekolah atau menuju sekolah yang ada hanya kekerasan," jelas Yuli.

Padahal, pendidikan adalah kunci bagi waria keluar dari jerat kemiskinan dan prostitusi. 

Dari catatan Forum Komunikasi Waria Indonesia (FKWI), kini ada 200 hingga 300 waria yang kuliah S1 di berbagai kota.

Syukur, tak ada laporan kasus kekerasan pasca ucapan sang menteri. Seperti yang dialami Yulianus Rettoblaut atau Mami Yuli, yang ketika S1 merupakan teman sekelas Ienes.

Mamih Yuli kini menempuh S3 jurusan Hukum di Universitas Jayabaya, dan tak merasakan perubahan sikap teman ataupun dosennya.

"Kalau saya sih nggak juga. Aku rasa fine-fine saja. Dia saja yang ngurusin. Nggak ngaruh sama kami, karena buktinya teman-teman masih fine-fine saja."



Mamih Yuli ketika wisuda S2 Hukum di Universitas Tama Jagakarsa, September 2015. Dia menjadi waria pertama dan satu-satunya yang bergelar master. Kini dia menempuh studi doktoral.


Senada dengan Mami Yuli, Profesor JH Sinaulan, dosen Mamih Yuli yang juga Ketua Pascasarjana Hukum Universitas Jayabaya menegaskan: tak boleh ada diskriminasi meski siswanya seorang waria, dan pendidikan harus terbuka untuk semua.

"Kalau orang lain tidak mau menerima, bukan urusan saya," tegas guru besar hukum Universitas Padjajaran ini.

"Tapi kalau saya melihat kemampuannya, kemampuan ilmiahnya. Kami sebagai universitas yang nasionalis, tidak membedakan ras, agama, apa pun," tutupnya. [KBR]

Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!