Pramusaji di Cafe Fingertalk, Nurul. Foto: Rio Tuasikal/KBR

KBR, Jakarta - Di sebuah café, di kawasan Pamulang, Jakarta Selatan. Suasana begitu hening. Televisi menyala tanpa suara. Jejeran huruf alfabet dalam bahasa isyarat terpajang di dinding.

Di meja makan, tergantung pula pedoman bahasa isyarat untuk makan, minum, hingga ucapan terima kasih. "Di sini semuanya pakai bahasa isyarat. Pelanggan juga harus pakai bahasa isyarat," ucap Ali Wafa, Manager Fingertalk kepada KBR.

Café ini menjadi satu-satunya café dengan pelayanan istimewa, di mana semua karyawannya tunarungu. "Kadang-kadang ada pelanggan yang canggung pakai bahasa isyarat. Awalnya saya bantu menerjemahkan, tapi lama kelamaan saya tinggalkan dan lepas saja. Hahaha," imbuhnya.

Cafe ini dibuka Mei tahun lalu. Dissa Syakina, mahasiswi lulusan Australia, yang menggagas usaha ini. Dissa mendapat idenya ketika melihat cafe serupa di Nikaragua. Ia lantas mencari pekerja tunarungu dan bertemu ibu Pat, tunarungu pemilik workshop menjahit yang menyediakan tempat kosong.

Pemilik Fingertalk, Lisma Oktafoma, menerangkan kenapa cafe ini berdiri. "Tunarungu ini jarang punya pekerjaan yang tetap. Makanya harus ada tempat buat mereka. Pekerjaan mereka bagus. Mereka fokus dan gesit. Mungkin karena mereka tidak banyak diganggu dan jarang ngobrol," ucap Lisma.

Tapi kadang, suasana di café terasa canggung. Friska, tunarungu yang menjadi koki di sini menceritakan dengan bahasa isyarat dengan bantuan terjemahan Ali, si manager café. "Mereka panggil. Saya tidak tahu. Saya bilang saya tunarungu. Saya pakai isyarat. Setelah itu mereka mengerti. Saya catat pesanan. Saya masak. Mereka puji makanannya. Saya senang," katanya dengan bahasa isyarat.

Terkadang juga, kata dia, pelayan tunarungu meletakkan piring dan membuka kulkas terlalu kencang. Suara itu pun kerap menganggu para tamu. Beruntung, pengunjung tak komplain.


Punggawa Fingertalk

Fingertalk digawangi empat pekerja tunarungu. Selain Friska, ada Sari peracik minuman, Nurul pramusaji, dan Aup menjaga kebersihan. Mereka bekerja sejak cafe dibuka. Aup menceritakan pengalamannya bekerja di sini. Ali kembali menerjemahkannya kepada saya. "Saya senang kerja di sini. Saya cuci piring. Saya bersihkan cafe. Bau jadi wangi. Saya ke dapur. Saya bisa mencabut rumput," kata Ali.

Mereka senang punya pekerjaan tetap. Mereka juga terlibat dalam rencana dan pengembangan usaha. Namun bagi Nurul ada hal yang lebih berharga. Lagi, Ali membantu menerjemahkan bahasa isyarat itu. "Orang datang saya senyum. Saya senang bertemu orang. Saya catat pesanan. Orang bicara. Bertanya bahasa isyarat. Mereka ajak saya mengobrol. Saya senang," ungkap Nurul.

Interaksi itulah yang kemudian dikembangkan dengan membuat ruang pertemuan. Lisma Oktafoma mengatakan, komunikasi akhirnya terjalin antara pengunjung dan orang dengan tuna rungu. "Mereka betul-betul perlu ruang. Orang tunarungu bertemu dengan orang non-tunarungu. Berinteraksi dan mencoba berkomunikasi. Sebab kalau orang non-tunarungu tidak merangkul mereka, mereka akan tetap di dunianya. Kita tetap di dunia kita," kata Lisma.

Sampai saat ini, mayoritas pelanggan dari komunitas tunarungu juga kerabat Dissa. Tapi, masyarakat umum juga terus diajak datang. Bahkan, di sini ada kelas bahasa isyarat untuk orang non-tunarungu. Dan, baru-baru ini, diskusi kecil mengenai disabilitas diadakan.

Lebih dari sekadar makanan, cafe ini jadi ruang pertemuan. Seperti kata ibu Pat, cafe ini adalah jembatan bagi tunarungu untuk tetap terhubung dengan masyarakat luas. "Saya ingin orang non-tunarungu datang. Mereka bertemu kami. Kami ingin mengobrol. Supaya mereka tahu siapa kami. Supaya mereka tahu apa kebudayaan rungu."



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!