Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo saat mempresentasikan Perda larangan iklan rokok. Foto: KBR/Wydia

Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo saat mempresentasikan Perda larangan iklan rokok. Foto: KBR/Wydia Angga

KBR, Jakarta - Sesuatu yang berbeda datang dari Kulon Progo, Jawa Tengah. Di sana, tak akan ditemukan baliho ataupun banner yang mempromosikan bermacam merek rokok.

Lenyapnya iklan rokok itu pasca lahirnya Perda larangan iklan rokok yang digagas seorang dokter sekaligus bupati. Sosok di balik itu adalah Hasto Wardoyo.

“Di hilir, kita bisa punya peran yang perlu dikaji baik tentang larangan iklan, larangan sponsor dan juga membuat Kawasan Tanpa Rokok,” ungkapnya. 

Jauh sebelum perda itu lahir, Hasto begitu ia disapa, harus berhadap-hadapan dengan anggota legislatif. “Saya tuh kuncinya cuma satu, persuasi saja. Ketika anggota DPRD kumpul semua tentang rokok kan ramai sekali. Semua datang, semua bertanya satu-satu. Saya jawab sampai tiga jam,” pungkas Hasto.

Dari situ pula ia tahu taktik jitu agar iklan rokok tak mendekat ke sekolah dan tempat ibadah. “Caranya gampang, gimana? Apa Kulon Progo nggak boleh ada iklan rokok sama sekali? Saya jawab boleh tapi batasannya tidak boleh dekat dengan sekolah, tempat ibadah, tidak di jalan nasional, jalan provinsi, dan jalan arteri. Sehingga mau pasang di jalan kecil atau jalan desa tapi dekat dengan tempat ibadah. Mau pasang lagi di jalan desa tapi dekat sekolah, nggak jadi karena sekolah dan tempat ibadah dekat-dekat banyak sekali,” kenangnya.

Di Perda itu pula, Hasto juga berhasil menyingkirkan sponsor rokok. Caranya, larangan sponsor rokok untuk kegiatan yang dihadiri orang di bawah usia 18 tahun.

“Melarang sponsor juga efektif. Tak ada sepakbola, tak ada organ tunggal yang disponsori rokok. Perdanya hanya ditulis dilarang mensponsori kegiatan yang dihadiri orang di bawah 18 tahun. Dalam hati saya, rasain lo. Mana ada organ tunggal atau olahraga yang tak dihadiri orang dibawah 18 tahun. Tapi DPR (ketika) tanya (suatu kegiatan) ini boleh? (saya jawab) Boleh! Kalau begitu Setuju! Alhamdullilah disahkan,” tegasnya.


Adrie Subono: Konser Musik Tanpa Iklan Rokok

Gelaran seni, musik pun film tak akan jauh dari iklan atau sponsor rokok. Hampir setiap konser pasti iklan rokok bertebaran. Tapi, bagi promotor Adrie Subono, jebakan itu bisa ia hindari. Ia malah sudah bisa menolak iklan rokok di tiap konser yang digawanginya. “Ketika kita bicara bisnis, saya bisa lakukan konser-konser tanpa iklan rokok,” ungka Adrie.

“Ketika saya berhenti merokok, saya harus konsisten. Saya mau kantor saya tak ada yang merokok dan acara saya tidak disponsori rokok,” sambungnya.

Sehingga bagi ayah Melanie Subono ini, bukan lah mustahil menolak iklan rokok. “Sebetulnya nggak berat karena sebetulnya pada sponsor rokok, kita dipromosikan event kita. Tapi karena ada social media saat ini gampang mempromosikan kita punya event,” paparnya.

Sebagai ganti sponsor rokok, Adrie kemudian beralih ke produk lain semisal makanan atau minuman. “Kan banyak produk-produk lain yang juga terjun di dunia ini, mensponsori event-event acara konser, mulai dari bank, produk minuman dan makanan.”

Adrie sadar, banyak artis yang tak mau disponsori rokok mulai dari musisi pop hingga metal. Sebut saja penyanyi juara kontes musik American Idol Kelly Clakson dan band penyabet penghargaan musik bergengsi, grammy award Maroon 5.
 


Editor: Quinawaty Pasaribu
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!