Muhajir Rohmat MS (foto: rebecca hensckhe)

Muhajir Rohmat MS (foto: rebecca hensckhe)

Banyak anggota kelompok militan Jemaah Islamiyah di Indonesia yang divonis bersalah dan dipenjara karena terlibat dalam serangan bom di Indonesia, sudah bebas.

Rebecca Henschke mendapat kesempatan langka bertemu dan berbincang dengan mereka, salah satunya Muhajir Rohmat MS. Dia buron selama beberapa bulan pasca bom Bali tahun 2002 kemudian menyerahkan diri pada polisi. Simak kisahnya. 

“Saya sekolah di Al-Islam Tenggulun, pondoknya Amrozi itu. Setelah lulus saya ke Ambon. Waktu kerusuhan tahun 1999 itu, saya ditarik Ustad Ali Imron, Ustad Ali Fauzi, Ustad Muchlas  untuk mengajar di Pesantren Al-Islam. Setelah mengajar setengah tahunan, habis itu ada perencanaan bom Bali. Dan saya ikut terlibat juga, mendampingi Ali Imron lari ke sana kemari. Sebenarnya siy ada yang tersembunyi sampai sekarang. Saya ikut blender KCL, ikut menghancurkan juga.”  

Itulah pengakuan Muhajir Rohmat MS yang merupakan anggota Jemaah Islamiyah. Ia juga mengatakan, seluruh keluarganya juga tergabung dalam JI. 

“Saya waktu kecil didoktrin, kita itu harus berjihad. Saya enggak tahu Jihad itu seperti apa, ya perang lah istilahnya. Saya sering baca Sabili saat itu, baca kejadian-kejadian di Ambon dan Palestina.” 

Muhajir menyatakan, pihak yang ia perangi adalah negara Indonesia. Sebab, aparat keamanan menurutnya telah menangkap rekan-rekannya. 

“Pancasila dan antek-anteknya, ya negara Indonesia. Saya paling enggak suka dengan Pancasila sampai sekarang, apalagi sama Polisi dan Densus 88. Karena melakukan penangkapan-penangkapan dan penembakan. Menurut kita, kita yang benar, tetap kita yang salah waktu itu. Sampai sekarang Bapak saya itu menginginkan salah satu diantara anaknya ada yang mati syahid. Atau kalau ngga anaknya, cucunya. Saya juga begitu. Saya atau anak saya atau cucu saya. Semua saudara-saudara saya punya cita-cita begitu sampai sekarang.”

Belakangan, dia ikut menghadiri sejumlah lokakarya deradikalisasi yang diadakan pemerintah yang juga dihadiri Nasir Abbas. Kata dia, seorang jihadis meskipun dicekoki nasihat atau pandangan deradikalisasi. 

“Nanti setelah kejadian penangkapan atau kena tembak baru nanti dia sadar. Kalau belum ditangkap enggak akan, meski dinasihati siapapun. Karena semangat saya ini harus mati syahid sudah tertanam. Sampai sekarang saya juga begitu tapi saya sudah sadar kalau sekarang ini belum saatnya. Kita belum mampu.”

Ia sendiri mengaku mulai berubah saat menjadi buron Polisi. “Penyesalannya ada dua ya. Yang pertama korbannya juga orang Islam, orang yang ngga punya salah terhadap Islam dan kaum Muslimin. Mulai merasakan saat pelarian. Waktu lari ke sana kemari itu kadang-kadang kita oh iya ya ternyata gini dampaknya. Anak istri saya sering saya tinggal saat lari ke sana kemari, terus kalau seandainya anak dan istrinya orang yang kita bom itu, gimana yang ditinggal mati.”    

Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!