Muhammad Arif, kakak salah satu WNI yang hilang di Turki (foto: Yudha Satriawan)

Muhammad Arif, kakak salah satu WNI yang hilang di Turki (foto: Yudha Satriawan)

Hilangnya enam warga Solo itu bermula ketika mereka ikut dalam paket tur wisata bersama 24 orang lainnya. Sesuai rencana mereka akan berada di Turki sejak 24 Februari sampai 4 Maret. Tapi, begitu sampai di Turki, mereka langsung memisahkan diri. Hingga tur berakhir, kelimanya tak kunjung kembali. 


Berangkat dari salinan paspor itu, KBR kemudian menyambangi perumahan yang berada di Mojolaban Sukoharjo. Tapi sayang, pihak keamanan perumahan melarang wartawan mendatangi rumah itu. 


Hingga akhirnya, salah satu pihak keluarga yang hilang di Turki, Umar Salim menjawab tudingan yang menyebut keluarga itu sengaja menghilang di Turki untuk pergi ke Suriah dan bergabung dengan kelompok radikal ISIS. 


“Saya selaku juru bicara keluarga Umar Salim. Saya kakak dari WNI yang hilang di Turki. Memang benar enam anggota keluarga kami melakukan perjalanan ke Timur Tengah, Turki ini sudah direncanakan sejak lama, setelah bulan puasa tahun lalu. Adik saya, Fauzi dan Hafid beserta istri, Soraiyah, dan tiga anaknya,” kata Muhammad Arif, saudara kandung Umar Salim. 


‘Agenda mereka untuk wisata mungkin juga urusan bisnis karena adik saya berbisnis obat herbal dari Timur Tengah. Biasanya pasokan dari Yaman, tetapi negara itu kan sedang ada konflik, perang, jadi beralih ke Turki. Kontak terakhir mereka tanggal 27 Februari lalu. Sebelum dinyatakan hilang, Fauzi menelepon saya memberitahu sudah berada di sana. Dari nomor telepon yang tertulis di ponsel saya, itu dari nomor internasional Turki,” tambahnya. 


Belakangan Pemerintah Turki menahan 16 warga Indonesia dari tiga keluarga yang mencoba untuk menyeberang ke Suriah. Bahkan rute yang mereka gunakan sering digunakan oleh simpatisan militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).


Tapi lagi-lagi, keluarga Umar Salim masih meragukannya. 


“Kami dari keluarga berasumsi 3 hal. Pertama, rombongan keluarga kami tersesat, salah naik bus atau transportasi umum. Kedua, keluarga kami diculik, ya semoga diberi keselamatan dan segera dibebaskan. Kemudian kalau bergabung dengan kelompok militan berperang membela agama yang kami yakini, Islam, secara agama, mereka yang berperang dilarang kembali pulang. Kalau maunya keluarga kami pulang, tentu saja secara manusiawi keluarga kami tidak ingin ada anggota keluarga lainnya yang terbunuh atau tersiksa, dan sebagainya. Secara Islam, dilarang meninggalkan medan perang, kami keluarga yang taat pada agama.” 


Editor: Antonius Eko  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!