Abdullah (95) tahun bercerita ketika tiga saudaranya menjadi korban pembantaian dukun santet tahun 1998. (foto: Hermawan)

Mengawali tahun 1998, Banyuwangi dilanda isu dukun santet. Ratusan orang yang dituding sebagai dukun santet, harus meregang nyawa dengan kematian yang tak wajar seperti; sabetan senjata tajam dan luka bakar.

Pelakunya pun diduga bukan sembarang orang. Ini karena ciri-cirinya sepertinya ninja, berpakaian serba hitam, wajahnya ditutupi kain dan hanya menyisakan sepasang mata tanpa penutup.

Tim Pencari Fakta Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (TPF PCNU) Banyuwangi, Abdillah Rafsanjani bercerita, kasus pembunuhan dukun santet pertama kali terjadi pada Februari 1998. Ketika itu, hampir setiap hari ada laporan kematian. Tapi, selang empat bulan kemudian, kabar pembunuhan itu lenyap.

Barulah, pada Juli 1998, muncul kembali insiden pembantaian terhadap sosok yang dituding sebagai dukun santet. Eksekusinya sebagian besar terjadi pada malam hari.

“Sebelum ada pembunuhan itu PLN mati beberapa detik gitu. Jadi kalau dikatakan sistimatis kayaknya begitu pembunuh datang di tempat, ingat saat itu HP jarang yang ada HT, saat itu listrik mati. Begitu listrik menyala  langsung pembunuhan. Dan itu terjadi hampir di semua wilayah motifnya begitu pembunuhanya,” kata Abdillah Rafsanjani.

Setelah itu, satu demi satu pembunuhan terhadap dukun santet kian meluas. Berdasarkan laporan Pengurus Nahdlatul Ulama Cabang Banyuwangi, korbannya juga merembet ke para ulama, guru ngaji dan pengelola pondok pengajian.

“Kita ada rapat PCNU pada saat itu seluruh kekuatan NU diundang, kemudian teman- teman dari Ansor membentuk tim melakukan investigasi. Setelah melakukan investigasi ternyata pembunuhan tukang santet itu tidak hanya tukang santet saja mengarah pada pembunuhan guru ngaji teror-teror pada kyai. Di saat itu kita melakukan sikap pembunuhan tukang santet itu berubah,” Tambah Abdillah.

Ia juga mengaku tak mengerti, mengapa korbannya justru meluas hingga ke para ulama yang jumlahnya mencapai 119 orang. Padahal kata dia, para guru ngaji dan pengelola pondok pesantren itu tidak punya pengaruh apa pun, termasuk di partai politik.

Tapi bagi Sejarawan Banyuwangi, Suhailik, pembantaian itu sengaja dilakukan untuk menjatuhkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang saat itu getol mengkritisi Pemerintahan Orde Baru. Bahkan bekas Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu sempat menyebut, aksi pembantaian tersebut sebagai operasi naga hijau.  

“Yang bekingi nasionalis Mega itu kan Gus Dur. Bahaya kan NU sama PDI bersatu itu bahaya. Maka NU disikat, Gus Dur dihantam karena yang jadi bekingnya yang berani kan Gus Dur pada waktu itu yang bekingi Mega. Mega kan kelompok tertindas pada waktu itu, jadi kebetulan teman-teman yang menjalin hubungan di Indonesia itu kan mulai dulu idiologinya agama sama nasionalis,” papar Suahilik.

Suhailik juga mengatakan, operasi naga hijau diduga melibatkan militer. Sayang dugaan itu sulit dibuktikan lantaran ketiadaan bukti.

Dalam peristiwa tersebut tak ada catatan pasti berapa jumlah orang yang tewas. Data dari KOMPAK atau Komunitas Pencari Keadilan, sebuah tim pencari fakta dari LSM dan tokoh masyarakat Banyuwangi menyebut, korbannya mencapai 174 orang. Sementara, Tim Pencari Fakta Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mencatat ada 147 orang. Sedangkan Pemkab Banyuwangi, 103 orang.  

Lantas siapa pelakunya? Bekas Anggota Tim Pencari Fakta Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (TPF PCNU) Banyuwangi, Abdillah Rafsanjani mengaku, tak ada yang tahu pasti. Orang setempat menyebutnya ninja.

“Pembunuhan tukang santet itu isunya berubah ada ninja. Jadi setelah kita bersikap, akan kita adili ada ninja. Yang jelas ninja itu tidak ada kan tidak pernah ditangkap-tangkap itu. Sehingga kita saya selaku pengurus Ansor pada saat itu sama Pagar Nusa pada saat itu protes kepada keamaan pada saat itu ternyata tidak bisa ditangkap. Tapi isu pembunuhan, bergeser pada pembunuhan kiyai dan guru ngaji kan pada saat itu.”

Sementara Kepolisian Banyuwangi tak juga bisa mengungkap identitas pelaku. Meski sebelumnya, Polisi pernah menangkap 76 tersangka. Dari jumlah itu, 11 di antaranya dipastikan sebagai pelaku utama, enam penyandang dana dan sisanya adalah pelaku yang hanya ikut ramai-ramai membantai dukun santet.

Sedangkan penyelidikan terhadap kasus ini sudah pernah dilakukan Menteri Pertahanan dan Panglima Angkatan Bersenjata saat itu, Wiranto. Bahkan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan ada indikasi pelanggaran HAM berat.

Sayang, penyelidikan dihentikan. Sehingga dalang kasus tersebut tak pernah terungkap.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!