ilustrasi (foto: Antara)

KBR, Jakarta - Atas permintaan masyarakat Banyuwangi dan amanat konstitusi, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akhirnya membuka kembali kasus Pembantaian Dukun Santet 1998. Ketua tim pencari fakta, Muhammad Nurkhoiron mengatakan, tim penyelidikan tengah dipersiapkan untuk terjun ke lapangan

"Saat ini masih dalam tahap pra penyelidikan. Kami masih mengumpulkan data apakah ada indikasi pelanggaran HAM dalam kasus itu. Datanya dari saksi-saksi warga, dari berita di media massa dan sebagainya. (Diduga aparat juga berperan. Apakah sudah minta keterangan polisi setempat?) Belum. Kalau sudah masuk tahap penyelidikan baru akan dimintai,” kata Nurkhoiron.

Kata dia, sejumlah pihak bakal menjadi sasaran penyelidikan, di antaranya Kepolisian Jawa Timur, Kodam Brawijaya, PWNU, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Banyuwangi dan Jember. Hanya saja sebelum memulai penyelidikan, ia bakal berkoordinasi dengan tim bentukan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Menanggapi langkah Komnas HAM itu, Wakil Sekjen PBNU Abdul Munim tak mempersoalkannya. Hanya saja, PBNU tidak akan turun lagi ke lapangan untuk menyelidiki pembantaian yang menewaskan ratusan orang itu.

"Silahkan saja kalau butuh data kami akan berikan. Tapi kami tidak akan membantu di lapangan. Sesuai dengan perintah Gus Dur, kasus itu sudah kami buku putihkan. Kami memilih tidak mengorek luka lama. (Mengapa?) Menurut kami itu bisa memicu konflik lagi. Sekarang kan masyarakat juga sudah mulai lupa. Biarkan saja itu jadi pelajaran."

"Kami hanya minta kepada seluruh warga NU di mana pun supaya hati-hati dan lebih baik menghindari konflik supaya kejadian serupa tidak terulang,” kata Abdul Munim.

Namun jika menelisik hasil investigasi PBNU disebutkan ada 253 orang tewas dalam insiden itu. Mereka dibantai di desa-desa yang berada di tujuh kabupaten di Jawa Timur; Banyuwangi, Jember, Situbondo, Pasuruan, Pamekasan dan Semarang. Korban terbanyak di Banyuwangi yakni 147 orang.

Dalam temuan itu juga disebut, ratusan korban tewas dengan cara yang sadis; digantung, dijerat dengan tali, dibakar bersama rumahnya dan dianiaya massa. PBNU juga menyatakan, mayoritas korbannya adalah pengurus ranting NU dan pengurus masjid.

Temuan yang tak kalah penting, adanya keterlibatan sejumlah pejabat setempat. Bekas Bupati Banyuwangi, Turyono Purnomo Sidik diduga ikut menyulut pembantaian ratusan warganya. Ini lantaran ia mengeluarkan radiogram yang berisi perintah pada jajaran di bawahnya untuk mendata para warga yang diidentifikasi sebagai tukang santet.

Hasil investigasi PBNU itu diamini Komnas HAM. Ketua tim pencari fakta, Muhammad Nurkhoiron.

"Sejauh ini kan seperti yang diberitakan yaitu adanya komando dari bupati saat itu. Dia diberikan daftar orang yang mesti dibungkam. Namun di lapangan malah jadi pembunuhan besar-besaran. Nah kami masih cari tahu siapa yang memberikan komando dari pusat. Itu pasti dari Jakarta.”

Peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Didik Suhariyanto juga satu suara dengan Komnas HAM. Ia menilai, radiogram itulah yang menjadi pemicu pembantaian dukun santet di Banyuwangi.

“Bisa dikatakan diantranya sebagai pemicu. Karena dengan adanya radiogram itu dinyatakan itu ada yang sebagai dukun santet. Sehingga seperti semacam penggerebekan gitu dicari kemana-mana, sesuai dengan Radiogram itu. Itu sebagai salah satu pemicunya kalau tidak ada itu mungkin, itu kan perintah secara kebijakan radiogram itu semacam sebagai sebuah kebijakan untuk menagkap dukun santet,” ujar Didik Suhariyanto.

Meski belum ada titik terang, tapi keluarga korban pembantaian dukun santet di Kelurahan Penataban, Sucipto masih punya harapan pelakunya akan diadili. Sebab kata dia, dalang tragedi itu tidak pernah terungkap.

“Kalau masalah berharap, mulai dulu berharap siapa otak utamanya. Kalau masalah iklas ya iklas, cuma yang namanya trauma masih. Kok pelakunya yang itu-itu saja pelaku-pelaku yang seakan-akan yang kecil- kecil yang pentolanya tidak ada yang ke pegang,” kata Sucipto.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!