kaos anti Cina yang mengundang kontroversi (foto: Rio Tuasikal)

Konser metal bertajuk “Brutalize in the Darkness” masih dua bulan lagi diadakan di Bogor, Jawa Barat. Namun, konser yang dimotori paranormal Ki Gendeng Pamungkas itu sudah menuai kontroversi.  Penolakan muncul terutama dari kelompok Tionghoa.

Di kantor Perhimpunan Indonesia Tionghoa di Kemayoran, Jakarta, sore itu, Candra Jap yang merupakan Ketua Divisi Seni dan Budaya Gerakan Pemuda INTI memperlihatkan laptopnya.

Di laman Situs Pertemanan atau Facebook miliknya, diskusi panas tengah berlangsung. Puluhan temannya, terutama yang Tionghoa, ikut berkomentar tentang foto baju dari gelaran konser Ki Gendeng Pamungkas. Baju itu hitam dan bertuliskan “Anti-Cina”.

“Ini yang dipermasalahkan kaosnya. Pakai undang-undang  segala macam. Kalau ini Christine Susanna Tjhin, dia aktivis Tionghoa di Beijing. Di sini saya tanya teman-teman. Dia konsernya saja nggak paham. Cuma yang dipermasalahkan kaosnya. Ada anak muda Tionghoa yang suka musik metal, tapi nggak peduli soal ini. Yang kedua ada aktivis pluralisme, melihat ini tapi nggak ngerti konsernya soal apa,” papar Candra.

Diskusi panas itu bahkan melibatkan Anggota Komnas HAM Natalius Pigai dan Anggota Dewan Pers Yosep Stanley Adiprasetyo. Mereka juga menyebut, baju dan pernyataan “Anti-Cina” yang dilontarkan Ki Gendeng Pamungkas melanggar Undang-Undang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Konser “Brutalize in the Darkness” yang digelar Ki Gendeng Pamungkas rencananya bakal mendatangkan band metal legendaris asal Norwegia, Gorgoroth, dan Disavowed asal Belanda. Konser makin meriah dengan laga pembuka enam band Indonesia, seperti Burgerkill dan Down For Life. Tiket pun dijual dua puluh lima ribu saja.

Tapi pekan lalu, Facebook Ki Gendeng Pamungkas memasang gambar baju bertuliskan “Anti-Cina”. Gambar itu kini telah hilang, tapi foto layar-nya sudah tersebar luas.

Isu baju rasis tersebut sampai ke telinga Stefanus Adjie, vokalis Down for Life dan Eben, vokalis Burgerkill. Semula mereka akan membuka laga musik, tapi semua berubah karena isu baju rasis.

“Saya sih keberatan dengan propaganda-propaganda beliau di Facebook, kami pikir kami kayaknya mundur saja dulu. Dan dari pihak Ki Gendeng Pamungkas-nya juga tidak ada masalah,” kata Stefanus.

Stefanus pun langsung menelepon Eben. Satu hari setelah gambar baju rasis muncul, band Down For Life dan Burgerkill langsung mengumumkan pembatalan di media sosial. Burgerkill menulis, ‘Kami menghormati setiap individu tanpa membeda-bedakan ras dan agama’. Menyusul, band Seringai dan Deadsquad ikut mengutuk propaganda rasis konser tersebut.

Tak berhenti di situ, belakangan Ki Gendeng Pamungkas dipetisikan di change.org. Inisiator petisi Donny Anggoro, meminta Komnas HAM menangkap Ki Gendeng Pamungkas atas pernyataan rasisnya. Sampai kemarin, sudah ada 5.700 orang yang membubuhkan tanda tangan.

Tapi Ki Gendeng Pamungkas membantah semua tudingan itu.

“Heh gue kasih tahu itu. Itu band bukan ngebatalin. Gue yang nyuruh berhenti. Karena saya pikir itu band alay, karena melihat isu saya rasis dan sebagainya dan sebagainya. Dari pada ribet, saya minta kalian jangan main di acara saya. Titik,” kilah Ki Gendeng Pamungkas.

Dia juga mengaku rasis, tapi tidak menyebarkan publikasi rasis.

“Oh saya nggak ngeluarin pesan. Saya tidak pernah mengeluarkan pesan anti Cina. Tapi kalau saya pribadi memang anti-Cina.  Tidak boleh orang datang ke rumah saya kalau orang Cina.”

Di Situs pertemanan atau Facebook Ki Gendeng Pamungkas terpampang 10 gambar Tionghoa dalam 10 hari terakhir. Semisal  gambar tikus memakai cheongsam, dan tikus bernama Aseng. Sementara akun Twitter KGP @guepribumi666, sudah tidak aktif.

Lalu bagaimana soal baju rasis yang pernah dipasang di Facebook-nya?

“Oh nggak ada. Pembagian kaos itu saya berikan kepada 50-60 orang yang bisa berkomentar tentang Bhinneka Tunggal Ika. Tidak ada pembagian kaos rasis. Itu saya menentang keras.”

Tapi gambar baju itu terlanjur disebar. Termasuk sampai ke Candra Jap yang kini hanya tertawa. Kata dia, luka 32 tahun itu masih ada. Ia justru menilai isu rasis yang disebarkan Ki Gendeng Pamungkas hanya cara agar konsernya laku.

Kalau saya lihat, polanya KGP memang jualannya seperti itu. Istilahnya ini trik marketing. Jadi memang kalau kita termakan umpan yang terlempar, makin gede dia di-blow up media. Waktu itu, saya Tanya dulu ke teman-teman Tionghoa yang aktivis. Mengerti tidak kronologinya? Jangan tahu-tahu bikin gerakan, laporkan ini-itu. Ini lingkaran tadinya kecil, jadi besar karena kita bereaksi terlalu berlebihan, reaksioner.”

Editor: Antonius Eko

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!