Tuan rumah Gopi Punjabi, Parwin Payman dan Tata Khoiriyah beramah tamah dalam perayaan Hari Nawruz d

Tuan rumah Gopi Punjabi, Parwin Payman dan Tata Khoiriyah beramah tamah dalam perayaan Hari Nawruz di Jakarta, Sabtu (2/3) siang. Open house Nawruz dilakukan umat Baha'i di banyak tempat dan rutin

Tanpa kembang api atau petasan, tahun baru sedang dirayakan siang itu.


Tiga puluhan orang berkumpul di ruang tengah rumah keluarga Punjabi di Jakarta, Sabtu (21/3/15) ini. Tidak ada tanda-tanda hari raya kecuali karton warna-warni bertuliskan Happy Nawruz yang ditempel di tangga menuju lantai dua.


Nawruz adalah tahun barunya orang Persia---dan bagi umat Baha'i adalah juga hari raya mereka. Tapi buat umat Baha'i di Indonesia, hari raya ini bukan buat mereka saja. Umat Baha'i sengaja mengundang teman dan kenalan mereka dari agama lain untuk datang. Open house digelar di berbagai wilayah dan rutin setiap tahun.


“Kami akan makin senang bila semakin banyak orang yang merayakan Nawruz," ujar Arman Saputra, umat Baha'i yang tinggal di Jakarta Pusat.


Baha'i mengajarkan kesatuan Tuhan, kesatuan agama, dan kesatuan umat manusia. Acara dimulai dengan pembacaan ‘doa kesatuan’ yang diambil dari teks suci.


"Satukanlah mereka itu semuanya. Jadikanlah agama bersatu semuanya. Jadikanlah semua bangsa satu bangsa, agar mereka itu dapat melihat satu sama lain sebagai satu keluarga, dan seluruh dunia sebagai satu tanah air."


Beberapa di antara tamu yang muslim dan kristen bahkan diminta memimpin doa dengan cara masing-masing. "Memang kami yakin doa apapun bisa diterima oleh Tuhan," tambah Arman.


Hari Raya Nawruz 21 Maret menandakan awal musim semi di tanah Persia di mana negara Iran berdiri sekarang. Kalender orang Persia ini bersistem solar dan unik. Satu tahun berisi 19 bulan yang masing-masing berisi 19 hari, sehingga totalnya 361 hari. Ada 4-5 hari sisipan yang diletakan sebelum bulan kesembilan belas---bulan di mana Baha'i isi dengan berpuasa sebelum Nawruz.


Sabtu ini adalah hari pertama bulan Baha tahun 172 Era Badi' (EB). Kebetulan di tahun ini bersamaan dengan Hari Raya Nyepi dari umat Hindu.


Acara siang itu dilanjutkan pengenalan singkat agama Baha'i. Hal yang ditegaskan adalah Baha'i agama independen, bukan sekte agama lain sebagaimana sering disalahpahami. Tamu juga diajak menonton video pernyataan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin yang menyatakan Baha'i agama independen dan dilindungi konstitusi Indonesia.


Menyusul kemudian: musik angklung, permainan yang mengundang tawa, dan jamuan makan siang. Tuan rumah menjelaskan tidak ada hidangan khusus dalam Hari Raya Nawruz. Hidangan disesuaikan dengan budaya umat Baha'i setempat.


Bagi Tata Khoiriyah yang muslim, ini adalah kali pertamanya mengikuti hari Nawruz. "Pengalaman baru dan menyenangkan melihat perbedaan. Jadi punya kesempatan buat berdialog," ujar asisten Alissa Wahid yang aktif mengurus Jaringan Gusdurian ini.


Umat Baha'i lain, Parwin Payman, mengatakan harapannya untuk tahun yang baru ini. "Saya ingin dunia ini damai. Saya berdoa pada Tuhan setiap hari," ujar perempuan asal Australia tersebut. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!