Lampu patung Selamat Datang dimatikan saat peringatan

Sabtu malam lalu, ada yang tak biasa di sudut gedung Lagoon Tower, Hotel Sultan, Jakarta Pusat. Seratusan orang yang tergabung dalam Komunitas Indorunners Indonesia tengah berkumpul. Dengan pakaian ala pelari professional, mereka bersiap berlari sejauh tujuh kilometer. 

Berlari sejauh tujuh kilometer itu sekaligus menjadi penanda peringatan Earth Hour 2015. Di Indonesia, perayaan Earth Hour sudah tujuh kali dilakukan persis di tahun 2015. 

Earth Hour sendiri merupakan kegiatan global yang dinahkodai WWF pada Sabtu terakhir bulan Maret setiap tahunnya. Kegiatan ini berupa pemadaman lampu yang tidak diperlukan di rumah dan perkantoran selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran publik perlunya tindakan serius menghadapi perubahan iklim.

Ketua Indorunners Jakarta, Naomi Wardhana mengatakan, untuk ini kali, pihaknya menggelar aksi yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain mematikan lampu beberapa ikon Jakarta, komunitasnya bersama WWF-Indonesia serta Komunitas Earth Hour juga menggelar lari marathon selama satu jam dari pukul 20.30 sampai 21.30 WIB.  

“Kolaborasi antara Komunitas Earth Hour di 11 kota dengan komunitas Indorunners yang mengusung tema 7K, 7 Regions, 7 Causes. Jadi intinya kita laksanakan dalam berlari malam ini. Tujuannya adalah kita membutuhkan tubuh yang sehat untuk menjaga Bumi agar tetap sehat,” papar Naomi. 

Naomi juga bercerita, lari marathon itu dimulai dari kawasan Hotel Sultan menuju tujuh lokasi yang berbeda dengan menempuh rute sepanjang tujuh kilometer. 

Tidak hanya marathon, peringatan Earth Hour tahun ini juga diselingi pembagian tanaman ke pengguna jalan. 

“Ada 100 tanaman, banyak jenisnya. Itu semua tanamannya berasal dari Hotel Sultan. Jadi kita bibitin sendiri karena kan kita juga butuh untuk keperluan taman kita, lalu kita pilihkan yang bagus-bagus untuk dibagikan,” kata Juru Bicara Hotel Sultan, Lenny Julia.

Hotel Sultan Jakarta merupakan salah satu perusahaan yang berani mempelopori kepedulian lingkungan dengan cara mematikan lebih dari 50 persen lampu selama satu jam demi perayaan tersebut. 

Manager Operasional Hotel Sultan, Samuel mengaku, meski rugi, pihaknya memastikan kalau kelestarian lingkungan lebih penting.

“Pertama karena Sultan mewakili hotel-hotel di seluruh Indonesia sebagai hotel hijau (green hotel).  Kita tahun lalu juga ikut berpartisipasi karena ingin menunjukan kepada seluruh dunia kalau penghematan energi itu penting terus kita harus menyelamatkan Bumi dari Co2. Dengan mematikan listrik selama satu jam itu pasti hematnya luarbiasa dan saya berharap itu bisa dilakukan oleh pemilik gedung2 di Jakarta.” 

Menurut LSM Pecinta Lingkungan Hidup WWF-Indonesia, tahun ini, peringatan Earth Hour kembali mengajak masyarakat berpartisipasi melanjutkan gaya hidup ramah lingkungan. 

Manager Kampanye WWF-Indonesia, Dewi Satriani mengatakan, Earth Hour menjadi alarm untuk selalu mengurangi dampak perubahan iklim.

“Earth Hour ini sebuah kampanye yang diinisiasi untuk membangkitkan kesadaran publik mengenai kondisi lingkungan sekarang ini yang terancam perubahan iklim. Perubahan iklim terjadi karena emisi karbon dan emisi efek rumah kaca itu terjadi sangat tinggi melebihi kemampuan Bumi dan atmosfir kita untuk menetralisirnya. Ancaman yang terbesar karena perubahan iklim adalah terjadinya iklim ekstrim dan meningkatnya permukaan air laut karena melelehnya es di Kutub,” ungkap Dewi. 

WWF-Indonesia mencatat, setidaknya ada 30 kota di Indonesia yang telah bergabung dalam gerakan Earth Hour sejak pertama kali dimulai pada 2007 silam di Sidney, Australia. Dan sejak itu pula, makin banyak orang yang akhirnya mengubah pola hidupnya jadi lebih ramah lingkungan.

“Perubahan terjadi justru di individu-individu yang mendukung gerakan ini. Mereka merubah pola hidupnya, gaya hidupnya sehingga menurunkan emisi karbon misalnya makin banyak orang mengonsumsi pangan lokal, besepeda, menggunakan transportasi publik. Mematikan lampu sebagai simbol selama satu jam sebenarnya kurang signifikan kalau kita hitung penghematannnya tetapi itu merupakan aksi yang dilakukan dengan mudah oleh semua orang,” tambahnya

Dia pun berharap, aksi yang dilakukan masyarakat bisa membuat pemerintah pusat hingga daerah melahirkan kebijakan yang berpihak pada penyelamatan iklim.

Editor: Antonius Eko  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!