Sitti Rahmah di kebun sayur organiknya (foto: Zulkifli Madina)

Pagi di Pitusunggu, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, udara terasa sejuk. Sejumlah petani perempuan tengah bersiap ke kebun sayur organik. Salah satunya, Sitti Rahmah.

Saat ditemui, ia sedang membersihkan kebun miliknya seluas 150 meter persegi. Di kebun itu berjejer rapi sayuran organik lengkap dengan namanya; seperti kangkung, bayam, terong, kacang panjang, labu dan sawi. Tak hanya sayuran, kebun itu juga ditanami tanaman obat semisal jahe, kunyit dan lengkuas.

Menanam sayuran organik bagi Sitti Rahmah adalah pengalaman baru. Persis lima tahun lalu, ia mengawalinya.

“Mulanya saya hanya ikut, karena saya pikir pengeluaran kita tentang sayuran ini setiap hari, saya pikir ini cocok untuk dikembangkan. Ya setelah itu saya geluti untuk bercocok tanam di pekarangan akhinya saya sudah kayak cocok menyatu dengan pertanian itu,” kara Sitti Rahmah.

Sitti juga bercerita suaminya turut membantu mengelola kebun organik bahkan terlibat langsung mengelola rumput yang dijadikan pupuk organik.

“Kalau bapak itu, kira itu cukup mendukung dengan kegiatan kita ini untuk menanam sayur di pekarangan,  bahkan dia yang terjun langsung membantu kita karena bapaklah yang menjalankan tractornya.”

Suami Sitti Rahmah, Muhammad Arives ikut bercerita.

“Ya kalau dukungannya saya itu saling bekerja sama, kalau biasanya itu kan kita menanam jadi saya mencangkul, membajak dia yang menanami. Dia yang menyiangi dan kita juga ganti-gantian kalau menyiram  dan biasanya saya juga yang menjual baik di pekarangan maupun ke pasar.”

Dan ternyata, hasil dari kebun organik tersebut berbuah manis. Sitti mendapat 10 penghargaan, salah satunya Adhikarya Pangan Nusantara 2014 dalam kategori “Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan”. Penghargaan diberikan Kementerian Pertanian dan pada Januari lalu diberi kehormatan dengan diundang oleh Presiden Joko Widodo di Istana.

Dari situ, ia terpikir untuk membentuk suatu kelompok. Hingga akhirnya pada 2011, ia melahirkan Kelompok Wanita Tani Pita Aksi. Kelompok ini bertujuan memberdayakan para perempuan di desanya.

Dan persis di samping kebun Sitti Rahmah, terbentang kebun sayur milik Kelompok Wanita Tani Pita Aksi seluas 1.300 meter persegi yang ditanami bermacam sayuran organik. Kata dia, lewat tanaman organik, kelompoknya berhasil menghijaukan lahan-lahan tidur yang puluhan tahun tidak dimanfaatkan.

Kini, Kelompok Wanita Tani Pita Aksi sudah memiliki 25 anggota perempuan dan saat ini tengah membina 4 kelompok yang berada di desa lain yaitu Kelompok Mutiara Desa, Talas Wati, Pucuk Harum.

Tapi rupanya, buah manis yang diperoleh itu bukan tanpa halangan. Pasalnya, tidak ada seperser pun bantuan dana dari desa. Sehingga, untuk ongkos produksi sayuran organik, harus dari kocek sendiri. Persoalan lain, sayuran organik kelompoknya belum mendapat sertifikat pangan berorganik.

Salah satu anggota Kelompok Wanita Tani Pita Aksi, Hamlani menyebut keuntungan sayuran organik.

“Keuntungan menanam sayur organik karena kebun organiknya tidak pakai pupuk kimia.” Kata Hamlani.

Sitti Rahmah dan Kelompok Wanita Tani Pita Aksi merupakan alumni Sekolah Lapang proyek Perbaikan Pehidupan Masyarakat Pesisir (Restoring Coastal Livehood/RCL pada 2010 lalu). RCL sendiri didanai Oxfam, lembaga internasional yang dari 17 organisasi di 94 negara yang bekerja untuk penghapusan kemiskinan.

“Ya kita mendapatkan hasil pembelajaran dari Sekolah Lapang tentang pembuatan pupuk organik, ya ada Kompos, ada Pupuk caik dan MOL ( Mikro Organisme Lokal )Tentang cara pengelolaan tanah dan cara-cara penanaman,” tambah Sitti.

Saat ini ada empat wilayah yang menjadi fokus perhatian Oxfam, di antaranya Kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten. Pangkep, Maros, Takalar, dan Barru.

Fatmah Sari Hutagalung, perwakilan dari OXFAM Sulawesi Selatan mengatakan, ide awal mengajarkan pertanian organik adalah ingin mengubah pola masyarakat setempat agar lebih pro terhadap lingkungan. Di mana sebelumnya, mereka kerap menggunakan pupuk kimia. Alasan lain, agar lahan tidur bisa dimanfaatkan.

“Karena memang lahan yang seharusnya produktif untuk menghasilkan hasil kebun atau pun hasil sawah itu menjadi berkurang dan kita tahu inisiasi ramah lingkungan melalui model pertanian organik inilah jawabannya, karena secara ilmiah terbukti memperbaiki dan berkelanjutan,” tambah Fatmah.

Editor: Antonius Eko

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!