pesantren, banten, toleransi, radio komunitas, agama

KBR68H - Banyak cara untuk merawat dan mempromosikan toleransi. Salah satunya lewat radio seperti yang dilakukan santri Pesantren Qothratul Falah, Banten. Santri juga diajarkan untuk terbuka dan berdialog dengan umat lain untuk memahami perbedaan.

Suara dua penyiar ini berasal dari lantai dua sebuah bangunan di Pesantren Qothratul Falah,  Kecamatan Cikulur,  Kabupaten Lebak,  Banten.  Mereka bukan penyiar profesional tapi santri yang mondok di sana.

Ruang studio siaran berukuran sekitar 3 kali 4 meter. Sebagian dinding studio terlihat kusam. Tak ada penyejuk udara dan kursi. Hanya ada kipas angin. Meski terkesan sederhana, tak membuat semangat Lia dan Neneng surut bersiaran.

Mereka bersiaran sambil bersila dengan alas karpet. Di hadapan remaja belasan tahun ini nampak seperangkat alat siar dan satu unit komputer. Layar komputer menampilkan playlist lagu pop dalam dan luar negeri.

Siang itu Lia dan Neneng membahas materi soal polemik perayaan hari kasih sayang. Keduanya terlihat  tak canggung menyampaikan pendapat soal Valentine. “Valentine itu kan membahagiakan orang lain. Sisi baiknya seperti itu. Membahagiakan orang lain itu kan sama saja dengan ibadah,” kata Neneng seraya tersenyum.  

Radio Komunitas Q-FM salah satu radio di pesantren yang menyemai benih toleransi beragama di udara. Siaran dapat ditangkap dalam radius 5 kilometer. Salah satu pengelola pesantren,  Eneng Atikoh Syatib menjelaskan,”  (Radio ini-red) hasil kerja sama dengan Common Ground juga visi misi kami sama radio komunitas ini menyampaikan perdamaian. Perbedaanya dengan radio komunitas lain materi segi Islam-nya. Apa yang kami siarkan sesuai dengan pesantren.”

Common Ground yang disebut Eneng tadi adalah lembaga nirlaba  yang berfokus  membangun dialog untuk menyikapi perbedaan dan perdamaian. Lembaga yang berpusat di Amerika Serikat tersebut yang membidani radio yang berdiri sejak dua tahun silam Bantuan diberikan mulai dari  peralatan studio, pelatihan manajemen radio sampai teknis  siaran. 

Pentingnya hidup berdampingan dengan agama non-Islam sudah digagas Kiai  Haji Hanbali  pendiri pesantren ini sejak lebih dari 50 tahun silam. Koordinator Majelis Pemimbing Santri Pesantren Qothratul Falah Aang Abdurrahman  menuturkan, “Kita ajarkan kepada santri janga nsampai kaku saat melihat perbedaan agama. Ini adalah rahmat. Banyak manfaat dari perbedaan. Keyakinan milik kita sendiri dan perbedaan adalah rahmat bagi kita semua.”

Pintu pesantrean juga terbuka bagi umat non-muslim untuk sekadar silaturahmi atau mengenal lebih dekat Islam. “Mungkin salah satu pesantren  (di Banten-red) yang buka dialog lintas agama.  Kami misalnya pernah didatangi sahabat gereja dari Serang, Kami ada dialog antaragama dengan santri dengan remaja gereja. Misalnya mereka tanya apa manfaat pakai jilbab,” jelas Aang.

Aang Abdurahman menambahkan perbedaan keyakinan tidak mesti diselesaikan dengan cara kekerasan. Seperti yang dialami kelompok minoritas Ahmadiyah di Cikeusik, Banten beberapa tahun silam. 

Indahnya hidup berdampingan di tengah perbedaan sudah dirasakan santri Pesantren Qothratul Falah. seperti Cahyati, “Dulu saya untuk berjabat tangan atau bercakap cakap dengan non Muslim ragu-ragu tapi setelah ini saya welcome dengan non muslim. Justru dengan saya bertoleransi dengan mereka pengalaman saya lebih luas.”

Santri lainnya Fahmi Anugerah Salami menimpali kegiatan pesantren yang mendukung kehidupan beragama yang toleran, menunjukan tak semua pesantren identik dengan kegiatan yang menjurus kekerasan atau terorisme. Perbedaan tak mesti disikapi dengan kebencian.   

“ Kalau saya menilai adanya perbedaan agama, biasa saja. Yang penting kita saling toleran, saling mengerti satu sama lain,” pungkasnya.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!