Faye memberikan penyuluhan di rumah susun (Foto: indra nasution)

Faye memberikan penyuluhan di rumah susun (Foto: indra nasution)

Sore itu, Rumah Faye kedatangan tiga pelajar SMP dari salah satu sekolah di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Mereka disuguhi sebuah film yang mengkisahkan perdagangan manusia khususnya prostitusi.

Dipandu seorang mentor, para pelajar itu diajari seluk beluk perdagangan anak, termasuk pintu-pintu yang membawa para bocah itu ke lokasi prostitusi. 

Usai menonton, dua siswa dari Sekolah Internasional Mentari; Bagus Mahatma dan Bima Mahatir Putir mengaku tak menyangka jika anak-anak Indonesia rentan jadi korban perdagangan manusia. 

“Kita baru sadar beberapa anak-anak Indonesia di bawah umur 18 menjadi korban perdagangan manusia,” kata Bima. 

Pelajar lainnya, Muhammad Arief Zendra mengatakan, ini kali kedua mereka nonton bareng sembari diskusi di Rumah Faye. Nantinya, setelah ia dan kedua temannya dianggap paham soal isu perdagangan manusia, mereka bakal menyebarkan pengetahuan yang mereka dapat ke teman-teman sebaya secara berantai. 

“Agar teman-teman kami juga mengetahui, dan mereka sendiri tidak menjadi korban human trafficking. Agar mereka tahu bahwa masa ini bisa mereka ketahui sendiri jika mereka mengetahui sesuatu mereka harus respon untuk mengintervensi,” papar Arief. 

Rumah Faye adalah yayasan yang fokus pada isu perdagangan anak. Lembaga ini punya visi, menciptakan sebuah dunia di mana setiap anak memiliki hak hidup, perlindungan, dan bertumbuh kembang. Karenanya, mereka ingin menyadarkan masyarakat bahwa ada tempat bagi anak-anak tak beruntung itu. 

Adalah Faye Simanjuntak, orang di balik Yayasan Rumah Faye. Ia anak berusia 12 tahun. Ia bercerita, kepeduliannya terhadap anak-anak korban perdagangan manusia sudah tumbuh sejak usia 10 tahun. Kala itu, ia bergulat dengan anak-anak jalanan di sebuah panti. 

“Dalam keluarga aku selalu diajarkan untuk selalu terhadap orang lain, sebelumnya aku membantu anak-anak panti, anak-anak jalanan. Ketika ada perdagangan anak khusus prostitusi aku ingin sekali turun langsung membantu,” kata Faye. 

Mimpinya untuk bisa terjun langsung mengkampanyekan perdagangan anak baru terwujud pada 2013, berbarengan dengan berdirinya Rumah Faye. Lewat yayasan ini, anak kelas 2 SMP tersebut kampanye dari sekolah ke sekolah. Lebih cepat mereka tahu, maka kecil kemungkinan anak-anak itu terjerumus. 

“Mereka tahu tetapi tidak peduli soal ini, maksudnya kalau mereka belajarnya soal anak jalanan, anak panti gitu. Tapi soal isu anak jalanan mereka pikirnya itu terlalu besar, terlalu berat untuk ini tetapi mereka tidak ingin fokus.” 

Selain pencegahan, Rumah Faye juga memetakan daerah-daerah yang menjadi lokasi prostitusi anak. Berpegang pada peta itu, Rumah Faye bekerjasama dengan Polisi mengungkap sindikat perdagangan anak. 

“Anak-anak dari sekitar Jawa kalau tidak seperti kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, mereka dikirim ke Sumatera seperti Pekanbaru Riau, Palembang, Batam, dan Batam. Mereka bisa sampai ke Singapura, Kuala Lumpur. Lalu di Kalimantan dari perbatasan Malaysia daerah Serawak. Nah kalau Indonesia Timur khususnya Manado kebanyakan dilarikan ke Papua,” kata Unit Manager Rumah Faye, Doni Greber. 

Aksi selanjutnya adalah pemulihan terhadap anak-anak korban perdagangan manusia. Lokasinya? Sengaja dirahasiakan demi kenyamanan si anak. 

“Yang pasti ketika anak-anak itu dalam tahap pemulihan, mereka itu akan menerima seperti batuan para ahli seperti psikolog, untuk mental mereka. Terus mereka juga kalau ada penyakit ada bantuan kedokterannya. Selain itu mereka bisa menerima pelajaran, karena mereka, masih anak-anak, mereka perlu belajar. Mereka menentukan mau jadi apa, mau sekolah lagi, atau mau kerja, nah nanti kami berikan pembekalan,” tambah Doni. 

Rumah Faye berharap, angka perdagangan anak bisa turun, kalau bisa nol. Pasalnya, jika anak usia 12 tahun saja peduli mestinya pemerintah lebih peka. 

Editor: Antonius Eko  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!