Ilustrasi. (Antara)

Ilustrasi. (Antara)

"Belasan warga Desa Cinangka, Bogor, Jawa Barat mendatangi Kementerian Kesehatan. Mereka menuntut pemerintah turun tangan mengatasi persoalan kesehatan anak-anak di sana. Pasalnya puluhan bocah di desa itu mengalami catat fisik dan keterbelakangan mental akibat pencemaran timbal aki bekas"

Siang itu, belasan warga Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea, Bogor, Jawa Barat menggeruduk gedung Kementerian Kesehatan di Kuningan, Jakarta. Mereka meminta pertanggungjawaban pemerintah atas derita yang dialami puluhan  anak-anak di sana. 

Muhammad Ridho Fadilla, adalah bukti nyata korban pencemaran timbal peleburan aki bekas. Anak berusia sembilan tahun ini mengalami kejang-kejang dan keterbelakangan mental. 

Ibunya, Mardiatni tak menyangka kalau anaknya bakal terkena dampak pencemaran timbal peleburan aki bekas. Padahal, jarak antara rumahnya dengan pabrik peleburan aki bekas berjarak 500 meter. 

Ia juga bercerita, kondisi buah hatinya kini makin parah, terlihat dari kejang-kejang yang biasanya bulanan sekali terus berlanjut menjadi hitungan minggu. Dan sekarang, menjadi hitungan jam.

“Dikasih obatnya segede gini, cuman dipuyerin lagi, tapi diracik 60 puyer untuk sebulan. Alhamdulillah tuh kalau dikasih itu kejangnya jarang. Ini sekarang tiap hari, katanya dokternya sudah pindah ke Bandung. Jadi saya sudah berapa bulan tidak ke sana lagi,” kata Mardiatni. 

Perempuan berusia 29 tahun ini yakin, sakit yang menyerang anaknya dan juga puluhan bocah di Cinangka terkait dengan usaha peleburan aki bekas di desanya.

“Kan itu kan sedesa ya, kalau ngebakar tiap malam asapnya jam 2-jam 3 masuk, walaupun beda RT kesedot. Aki kalau sudah mulai dibakar, kemana-mana ngebul, kena baju ke mana-mana, sampai bau banget.”

Keluhan warga Desa Cinangka itu diamini LSM Lingkungan Komisi Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB). Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin mengatakan ada sekitar 50 anak terdampak timbal di Desa Cinangka dengan beragam penyakit.

“Korbannya itu mulai dari penyakit sederhana, ispa sesak napas, kram perut, mual-mual dan hipertensi, kaku bahkan sampai ada kerusakan organ otak. Sehingga anak yang tadinya normal menjadi seperti, maaf kata idiot,” papar Safrudin. 

Pihaknya mengaku sudah melaporkan kasus pencemaran timbal itu ke pemerintah sejak lama. Termasuk hasil temuan soal darah anak-anak di Desa Cinangka usia 6 hingga 7 tahun yang memiliki kadar timbal di atas rata-rata kondisi normal.

“Iya teman-teman ini kan sudah menunggu cukup lama ya. Sudah kita laporkan 4 tahun yang lalu dan setidak-tidaknya tiap 3 bulan sekali, kita mencoba dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan dan Kementerian Perindustrian.”

Menurut catatan KPBB, kondisi serupa juga terjadi di daerah-daerah lain yang berada di sekitar usaha peleburan aki bekas. Di antaranya Desa Kadu Kecamatan Curug Bogor, Desa Pasarean Kabupaten Tegal, Desa Puntuk Kabupaten Lamongan, Desa Beji Kabupaten Pasuruan dan di sejumlah kota besar lainnya. 

Atas dasar itulah KPBB mendesak pemerintah turun tangan menangani kasus ini terutama di Desa Cinangka.

“Kita kepingin negara ini melakukan penelitian epidemiologi. Sehingga kita bisa mengambil pembelajaran-ada dampak dari peleburan aki bekas terhadap kesehatan disana. Dan itu tidak pernah dilakukan, ini kan negara besar dimana kondisi masyarakat tidak diperhatikan.”

Menanggapi desakan itu, Kementerian Kesehatan belum bisa berbuat banyak. Pasalnya, Kemenkes tak punya data apa pun terkait dampak kesehatan warga Desa Cinangka

“Jadi hasilnya yang pertama, Bu Menteri akan menindaklanjuti. Terutama Pak.Akhmad diminta memberikan data-data yang lengkap,” ungkap juru bicara Kemenkes, Murti Utami. 

Editor: Antonius Eko  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!