apartemen, ikan, selat bali, banyuwangi, nelayan

KBR68H, Bali - Perairan Selat Bali kaya berbagai jenis ikan hias. Nelayan dan pengusaha setempat  memanfaatkan potensi alam tersebut. Tak hanya untuk pasar dalam negeri ikan hias seperti ‘scorpion’ dan ‘blue fish angel’ dijual ke pasar mancanegara. Terjaganya ekosistem laut tak lepas dari upaya warga yang berhasil mengembangkan apartemen ikan.
 
Siang itu terik mentari di jalan menuju Pantai Kampe Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi,  Jawa Timur terasa menyengat kulit. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari pusat  Kota Banyuwangi akhirnya KBR68H tiba di pesisir yang berhadapan langsung dengan Selat Bali. Sepanjang mata memandang air laut  terlihat jernih didominasi warna hijau toska.  

Pantai ini merupakan salah satu andalan Pemda Banyuwangi. Konsepnya memadukan  wisata perkebunan atau agrobahari.  Di sebuah gubug sederhana berukuran 1X 2 sejumlah orang tengah berbicang.  Sesekali tawa mereka lepas. Mereka adalah  nelayan ikan hias yang tengah melakukan transaksi  jual-beli hasil tangkapan dengan para pengepul. Di sekitar gubug terparkir sejumlah mobil dengan bak terbuka yang memuat  kotak berisi air tempat menyimpan ikan hias. 

Salah satu nelayan ikan hias Ahari tersenyum lebar. Maklum hasil tangkapannya laku dibeli sebesar  600 ribu rupiah. “Ini hasil mulai pagi ya pak? Iya dari pagi jam 7 berangkat start dari sini. Pak ini cari di daerah mana saja pak? Did aerah sana Pulau Tabuhan. Ini penghasilan hari ini dibandingkan hari- hari kemarin? Ya kalau biasanya agak kurang enak. Ikan hiasnya banyak ya pak? Masih banyak” kata Ashari.

Ikan hias hasil tangkapan Ahari di peroleh dari Selat Bali. Populasi ikan menurutnya terus meningkat. Ini tidak lepas dari upaya nelayan setempat memulihkan kembali trumbu karang  yang rusak. Caranya dengan membuat  rumah atau apartemen ikan dan transpalasi terumbu karang.

“Kalau ini ya tambah banyak ikanya dengan ini apa mulai gak pakai potasium itu. Sekarang mencarinya pakai apa pak? Ya pakai konfresor terus dijaring, diserok. Dengan adanya apartemen terumbu karang itu? ya semakin banyak. Kalau dulu gimana? Pertama ya gak pakai  potasium  terus adanya transplantasi karang itu semakin bagus,”ujar  Ashari.

Nelayan ikan hias setempat memiliki aturan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Mereka tidak diperkenankan menggunakan potasium dan bahan peledak untuk menangkap  ikan. Selain itu dilarang menangkap ikan hias  berukuran kecil atau  berkisar 4-8 cm. “Kalau ukuran ikan sendiri itu yang laku dijual itu ukuranya gimana pak? Ukuran kan ada itu ukuran S, M, L. ukuran M itu bagus. Kalau dibawa itu pak? Tapi biasanya tidak diambil kalau ukuran S itu,”tambahnya.

Meningkatnya populasi ikan hias di Selat Bali, membuat sebagian besar nelayan di Wongsorejo  ikut tergoda berburu ikan hias. Shandi salah satunya. Selain  ingin menambah penghasilan alasan lain faktor lokasi. Mencari ikan hias tak perlu jauh  hingga tengah laut. “Ya gak banyak lumayan lah kalau untuk lokal sini ya lumayan. Jenisnya apa si pak untuk ikan hias sendiri? Banyak macamnya itu ya seperti dakocan, angel ungu. Ya tetap gitu sudah tapi sekarang tambah utuh karang- karang trumbu karangnya itu. sebelumnya? Kan kalau dulu kan banyak ini kan pake apa namanya? Potasium? iya,”kata Shandi.

Potensi ikan hias di Banyuwangi yang besar jadi primadona komoditi ekspor terbesar. Namun dalam 3 tahun terakhir terjadi penurunan permintaan seperti dari negara Jepang, Singapura, Italia dan negara di Timur Tengah.  Data dari Dinas  Perdagangan setempat ekspor ikan hias tahun 2011 berada diangka 2,8 juta US$. Sedangkan tahun 2012 hingga tahun 2013 turun menjadi 1,7 juta US$. Penurunan ini diduga karena berkurangnya permintaan ikan hias dari luar negeri. 

Di perairan Selat Bali diperkirakan hidup sekitar 600-an jenis ikan hias . Selain di jual ke pasar mancanegara, ikan hias  yang dibeli  para pengepul dijual ke sejumlah kota di tanah air. Seperti Jakarta, Surabaya dan Solo.  Salah satu pengepul, Abdurrahman mengaku  setiap hari ia merogoh kocek  1 hingga 4 juta rupiah untuk membeli berbagai macam jenis ikan hias dari nelayan.  “Seperti Cantik ini kita beli sama nelayan itu 1750 per ekor. Kalau yang mahal berapa? Kita ikan mahal disini jarang mas paling kalau apa ya seperti Agel asli, Batman itu mas itu sampai kita beli kepada nelayan per ekor 40 seperti batman,” ujar Abdurrahman.

Harga ikan hias seperti   angel , nemo, dori, scorpion dan b angel saat ini dibeli dengan harga tinggi.  Harganya bahkan ada yang mencapai 250 ribu per ekor.  


Melimpahnya ikan hias di Selat Bali ini tidak lepas dari kipah salah satu warga Desa Bansring , Wongsorejo Banyuwangi.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!