IPPHOS, Fotografer, Antara, Soekarno, Kemerdekaan

IPPHOS di Masa Orba


Kejayaan Kantor Berita Foto pertama Indonesia, IPPHOS lambat laun meredup pasca Gerakan 30 September 1965 dan mulai tumbangnya kekuasaan Presiden Soekarno pada tahun 1967. Sang penerus, Presiden Soeharto enggan memberi tempat  kepada para pewarta foto IPPHOS, terang pengamat sejarah fotografi  Oscar Motuloh. “Waktu Orde Baru lahir, mereka melihat posisi ini tidak diperlukan. Orba menampilkan foto-foto kenegaraan lewat militer. Soeharto selama 32 tahun bekerjasama dengan baik dengan seorang sersan Mayor bernama Saidi. Makanya pola kesejajaran berubah jadi pola Komando,” ungkapnya.

Pada masa Orde Baru, foto yang ditampilkan di media-massa atau buku sejarah sekadar membangun citra baik  pemerintahan Soeharto tambah pengamat fotografi lainnya,  Yudhi Soerjoatmojo.  “Yang selama 70 tahun terakhir ini ditampilkan menurut saya justru merupakan pencitraan yang tidak lengkap. Jadi pencitraan yang disesuaikan dengan agenda politik pemerintah tapi tidak sesuai dengan agenda yang dimaksudkan oleh IPPHOS”

Akibatnya, IPPHOS seperti mati segan hidup tak mau. Berkuasanya Orde Baru juga ikut berdampak kepada kehidupan para pewarta IPPHOS.  Frans Mendur kata sang anak Tien Sumartini Mendur, dituding sebagai pengikut komunis.  “Papa saya dianggap PKI kan. Papa sampai bilang begini. Kalau papa mau ditembak, papa mau ditembak di depan Titin. Di depan saya,” katanya menirukan perkataan sang ayah,

Akibat cap buruk  itu,  Frans Mendur sempat kehilangan pekerjaannya.“Sekitar tahun 1968 Papa saya tidak punya uang. Akhirnya menjadi tukang foto keliling. Saya lupa berapa lama. Pokoknya papa minta saya carikan orang yang mau bikin KTP. Sebelumnya juga papa saya bikin perusahaan distributor film Amerika. Ternyata berhasil mendatangkan film-film amerika dan berpengaruh sama perfilman Indonesia. Film Sodom and Gomorah itu papa saya yang datangkan. Ketika sampai di sini diedarkan oleh perusahaan lain. Papa juga cerita uangnnya di Bank Indonesia sebesar Rp 8 juta dibekukan hingga sekarang,” tambahnya.

Tragisnya lagi beberapa foto karya Frans Mendur dan fotografer yang tergabung di IPPHOS diklaim milik pemerintah, kata anak tertuanya   yang kini menginjak usia 73 tahun.  “Sewaktu saya mengajar dulu saya ajak murid saya ke gedung Satyamandala dituliskannya copyright Deppen. Saya mau mengaku itu karya papa saya juga tidak akan ada yang percaya,” ungkap Tien.

Deppen yang dimaksud Tien adalah Departemen Penerangan. Pengalaman pahit serupa dialami Dedy Juliandi, anak Titin. Saat ia  duduk di bangku sekolah, Dedy dengan bangga menunjukan foto-foto karya Frans Mendur  di buku sejarah  kepada teman-temannya. “Saya ngomong ini karya karya kakek saya. Pada gak percaya. Teman-teman justru melecehkan saya. Karena kita miskin jadi tidak pada percaya. Saya pulang dan mengadu tapi kata nenek saya biarin saja.”

Penderitaan keluarga Tien Mendur terus berlangsung  meski IPPHOS kembali bertahan hidup pada masa Orde Baru.  Saat itu  tak ada pembagian keuntungan dari saham  milik ayahnya yang  pada tahun 1970-an nilainya mencapai sekitar 12 juta  rupiah.    

Sebelum meninggal pada tahun 1971, Frans Mendur  yang  ikut mengabadikan  detik-detik Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus  1945 tersebut dikabarkan sempat berjualan rokok.

Foto Soekarno dan Hatta saat membacakan proklamasi  dimuat pertama kali di media-massa lewat Koran Merdeka setengah tahun kemudian atau sekitar awal tahun 1946. Rentang waktu yang jauh tersebut disebabkan sang fotografer Frans Mendur harus berjuang menghindari pengawasan penjajah Jepang. 

Rol film milik saudaranya Alex Mendur bahkan tak bisa diselamatkan karena dibakar.  Beruntung, 3 frame foto dari Frans Mendur bisa selamat.  Titin Mendur dan anaknya Dedy Juliandi menuturkan.,“Kalau yang di sejarah itu kan katanya dikubur di halaman kantor berita Asia Raya. Tapi kata nenek saya dikuburnya di belakang rumah di Petojo, Jakarta. Jadi dibungkus kain lalu dimasukkan ke kaleng minyak tanah dan dikubur di bawah pohon pisang. Jadi kata kakek saya kalau saya meninggal dia minta tolong sama nenek saya untuk menyerahkan negatif foto ini ke pemerintah”

Untuk menghormati hasil karya Frans Mendur dan pejuang foto IPPHOS lainnya, Januari lalu Galeri Foto Antara, Jakarta  memamerkan seratusan foto yang sebagin besar belum diketahui masyarakat.  Seperti  foto Panglima Besar Jenderal Soedirman yang  dikabarkan tengah marah dengan  Soekarno-Hatta.

Namun  Soedirman tetap berpelukan dengan keduanya meski terkesan terpaksa.  Kurator foto sekaligus penulis buku sepak-terjang fotografer IPPHOS, Yudhi  Soerjoatmojo. “Bagi kita penting. Karena walaupun orang memuji foto-fotonya, pada akhirnya mereka tidak kenal siapa fotografernya. Karena tidak kenal dengan fotografernya, maka mereka tidak tahu proses pengambilan fotonya. Karena tidak tahu prosesnya, makanya mereka tidak bisa mengapresiasi perjuangannya. Makanya ketika politikus berkata mereka adalah pahlawan, itu hanya kata-kata saja. Karena mereka tidak tahu ceritanya.”

Negara lewat Presiden Yudhoyono pada  tahun  2009 dan 2010 lalu  telah memberikan penghargaan  kepada pejuang bersenjata kamera, Frans Mendur berupa  “Anugerah Bintang Nalaraya” dan “Anugerah Bintang Mahaputera”. Dari balik lensa, Frans dan fotografer IPPHOS lainnya ikut merekam perjuangan bangsa meraih kemerdekaan.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!