IPPHOS, Fotografer, Antara, Soekarno, Kemerdekaan

KBR68H - Kantor berita foto Indonesia pertama, IPPHOS ikut andil mendokumentasikan perjalanan sejarah republik menggapai kemerdekaan. Foto-foto karya Alex dan Frans Mendur bersaudara bersama fotografer IPPHOS lainnya beberapa waktu lalu sempat dipamerkan di Galeri Foto Antara. IPPHOS berhasil menampilkan potret manusia Indonesia yang majemuk.

Subuh,  17 Agustus 1945. Dua bersaudara Alex dan Frans Mendur mengendap-endap di jalanan Cikini. Mereka menghindari prajurit Jepang yang berjaga-jaga. Mereka bermaksud menyambangi kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Berdasarkan informasi dari rekannya di harian Asia Raya, mereka tahu akan ada kejadian bersejarah pagi itu.

Lewat bidikan kameranya, Alex dan Frans Mendur berhasil memotret kejadian terpenting dalam sejarah modern bangsa Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan. Alex tercatat pernah bekerja sebagai pewarta foto Kantor Berita Jepang Domei di Pasar Baru. Sementara adiknya, Frans, saat itu adalah fotografer koran Asia Raya. Tak lama setelah pengambilan foto proklamasi,  Alex merapat ke Koran Merdeka. Setahun kemudian, mereka membentuk kantor berita foto independen pertama di Indonesia. Fotografer senior Antara sekaligus Kurator Oscar Motuloh menjelaskan.“Setahun mereka bergabung di Koran Merdeka, Mendur bersaudara menampilkan kualitas foto yang layak secara  jurnalistik. Saat itu Mendur bersaudara bisa dikatakan kawakan. Setelah itu mereka mendirikan IPPHOS. IPPHOS berdiri bahkan sebelum agency terkenal di Prancis yaitu Magnum lahir. Magnum tahun 1947, IPPHOS tahun 1946.”

Saat membentuk  Indonesian Press Photo Services  (IPPHOS) atau Kantor berita foto Indonesia  pada 2 Oktober 1946, Alex dan Frans mengajak Umbas bersaudara yaitu Justus dan Frans ”Nyong” Umbas serta Alex Mamusung dan Oscar Ganda untuk bergabung dengan mereka. “Kita tahu IPPHOS berdiri untuk kepentingan republik. Mereka terdiri dari orang-orang yang hadir dalam pembentukan janin Negara ini. Sejarawan Asvi Warman Adam pernah bicara. Bagaimana jadinya bila foto-foto kemerdekaan tidak diambil oleh Mendur bersaudara.”

Kelahiran  IPPHOS nilai Oscar sebagai upaya membangun citra positif  repubik yang baru lahir kepada masyarakat dan dunia. “Saat itu juga saya lihat Soekarno faham betul pentingnya pencitraan visual untuk pembangunan negeri ini. Dalam pengertian sosialisasi program kepada masyarakat. Bahwa meskipun miskin Indonesia harus tetap semangat. Makanya pola pencitraannya pemimpin menciptakan kerumunan. Kalau sekarang pemimpin yang mendatangi kerumunan,” tambahnya.

Selain foto Bung Karno saat membacakan teks proklamasi, IPPHOS berhasil membuat banyak karya fenomenal lainnya. Seperti foto pidato Bung Tomo di Mojokerto, Jawa Timur  sampai  foto  Panglima Jendral Soedirman yang tampak enggan saat dirangkul oleh Soekarno dan Muhammad Hatta di Istana Negara. Saat itu tengah Soedirman marah dengan kedua pemimpin tersebut.

Meski IPPHOS berada di pihak Indonesia, namun pewarta fotonya nilai pengamat fotografi   Yudhi Soerjoatmojo bisa bekerja independen.  “Menurut saya yang membuat mereka special adalah karena mereka tidak hanya memotret revolusi. Mereka memotret dengan mata hati yang terbuka. Mereka memotret dengan objektif baik pihak Indonesia maupun Belanda. Bahkan kadang dengan empati. Maka ketika Antara dan BFI pindah ke Yogya, mereka masih punya kantor di Jakarta, “ katanya.

Dia menambahkan,” Mereka lebih independen daripada semua orang. Karena di satu sisi mereka berpihak pada republic, tapi di sisi lain mereka memutuskan untuk tidak menjadi pegawai pemerintah seperti Antara dan BFI. Mereka memutuskan tetap independen. Nyari duit sendiri bagaimanapun caranya. Termasuk dengan memotret acaranya orang Belanda dan memotret tempat-tempat yang dirusak oleh republik.”

Antara yang disebut Yudhi  lengkapnya Kantor Berita Antara dan BFI singkatan dari Berita Film Indonesia.  Sikap pewarta IPPHOS  yang independen menguntungkan mereka. “Karena mereka independen, maka mereka dipercaya Belanda. Belanda tidak melihat mereka sebagai musuh. Oleh karena itu mereka bisa memotret berbagai perundingan sementara Antara dan BFI tidak bisa karena dianggap organ pemerintah. IPPHOS bisa melihat sisi-sisi di pihak Belanda. Bahkan kita bisa berspekulasi kalau mereka memata-matai Belanda,” jelas Yudhi.

Namun, tak semua hasil jepretan fotografer IPPHOS yang sesuai dengan agenda politik pemerintah. Akibatnya,  jelas pengamat fotografi Yudhi Soerjoatmojo lebih banyak foto mereka yang  tak lolos  terbit di media massa saat itu.  “Misalnya foto pemberontak Madiun yang akan dieksekusi. Itu hanya terbit sekali tahun 1949. Lalu foto petani compang-camping yang mendorong truk tentara. Itu kan citranya negative bagi TNI,” imbuhnya.

Sejak tahun 1995, Yudhi bekerja dengan timnya untuk meneliti foto-foto karya IPPHOS yang tidak sempat naik cetak. Hingga saat ini, menurutnya ada sekitar 250 ribu frame. Sekitar 10 persen atau  25 ribu carik foto saja yang  sempat dipublikasikan.  Lewat penelitian ini, Yudhi berharap masyarakat dapat mengetahui siapa saja fotografer  yang turut andil mendokumentasikan sekaligus menjadi saksi  perjalanan  sejarah bangsa.


Namun ironisnya pada masa Orde Baru kiprah fotografer  IPPHOS tidak mendapat tempat, termasuk keluarga mereka.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!