biskop bisik, tuna netra

KBR, Jakarta - Tawa puluhan penyandang tuna netra memenuhi ruang Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. Mereka sedang asyik menonton film Janji Joni. Film yang diperankan aktor Nicholas Saputra itu tayang di bioskop pada tahun 2005. 


Ceritanya tentang pengantar roll film yang terjebak dalam situasi sulit, mulai dari kehilangan motor sampai terperangkap di ruang persalinan. Padahal Joni harus tepat waktu agar roll film itu bisa diputar. 


Untuk memahami alur cerita film itu, para penyandang tuna netra dibantu seorang relawan. Tugas si relawan adalah menjelaskan adegan per adegan dengan cara membisiki. Semisal saat Joni berlari dan mengincar perempuan yang dia suka. 


Membisikinya pun tak boleh berisik, karena akan menganggu tuna netra yang juga asyik menonton. Begitulah, para penyandang tuna netra menikmati film Janji Joni, mendengarkan dialog sekaligus dibisiki adegan para pemain. 


Salah satu relawan yang turut membantu namanya Sadiansyah atau biasa dipanggil VJ. 


“Saya senang melihat reaksi teman-teman bisa senyum dan tertawa.  Jujur ini pengalaman yang sangat berkesan karena saya baru pertama kali. Mudah-mudahan ke depan makin sering diadakan lagi. Karena melihat mereka senang saya juga merasa senang,” kata VJ. 


VJ yang bekerja di dunia perfilman itu mengajukan diri sebagai relawan begitu tahu acara akan digelar. Ia pun mengaku tak mengalami kesulitan ketika mendeskripsikan adegan tanpa dialog. 


Salah satu penyandang tuna netra, Anto terkesan dengan acara ini. Acara nonton bareng ini adalah pengalaman pertamanya. 


“(Tadi mengerti waktu dijelaskan oleh VJ?) Paham. Ceritanya sebenarnya singkat, tapi diperbanyak dengan hambatan-hambatan yang dialami Joni. Saya senang ada acara ini. Buat hiburan, karena jarang tunanetra ada acara seperti ini.” 


Tuna netra lainnya, Gita mengaku sedikit terganggu saat menonton film. Ini lantaran penjelasan satu relawan dengan relawan lainnya terdengar. Meski begitu ia berharap, ke depan film yang diputar di bioskop menyediakan headphone yang kedua sisinya mendeskripsikan adegan film dan dialog film.  


“(Senang tidak ada acara nonton bareng?) wah senang sekali. (Tapi mengerti tidak ceritanya?) mengerti dan cukup jelas relawan mendeskripsikan. Harapan ke depan untuk saya pribadi penyandang disabilitas itu sudah tak ada masalah untuk bisa menonton di bioskop tanpa pendamping.” 



Cici Suciyati adalah orang di balik nonton film bareng tuna netra ini. Tempatnya bekerja yakni Think web, punya proyek Youtube for the Blind. Mereka membuat narasi untuk video-video di Youtube agar bisa diakses oleh penyandang tuna netra. 


Ke depan ia dan kawan-kawannya akan mencoba membuat narasi untuk film berdurasi panjang. 


“Memang perhatian untuk disable people di Indonesia masih rendah. Beda dengan yang di luar, seperti di Bangkok Thailand itu ada hearing aid. Jadi kalau pakai headphone, yang di kiri suaranya tipis, itu narasi deskripsi. Yang di kanan itu dialog. Jadi tuna netra nonton tak perlu relawan. Di kita sayangnya belum ada. Mungkin karena perhatiannya belum banyak. Ini yang coba kita bangkitkan kegelisahannya. Tujuan jangka panjangnya menambah narasi deskripsi untuk film,” ungkap Cici. 


Untuk mewujudkan mimpinya itu Cici mengajak para sutradara, penulis naskah dan para produser film hadir ke acara ini. Sehingga suatu saat nanti, film-film yang beredar di bioskop bisa dinikmati oleh penyandang tuna netra. 


Sementara itu, sutradara film Janji Joni, Joko Anwar merasa bangga karena filmnya dipilih untuk ditonton puluhan tuna netra. Ia pun berharap operator bioskop dengan dibantu pemerintah bisa merealisasikan alat bantu untuk penyandang tuna netra. Dengan begitu, mereka bisa menonton film secara mandiri.


“Kalau kita nonton film 3D itu kan ada kaca matanya. Sekarang ini untuk menyimpan suara kan tidak perlu space yang besar. Ada media penyimpan suara yang dihubungkan dengan headphone dan diselaraskan play back sesuai dengan film yang ada di bioskop dan diisi dengan narator. Sangat mudah kalau memang mau memperhatikan,” kata Joko. 



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!