Menjadi Ateis, Teis

KBR, Jakarta - Bebas memilih identitas tak lagi hanya menjadi domain laki-laki, salah satunya menjadi ateis. Michelle dan Shinta, dua perempuan yang berani memutuskan menjadi ateis. Mereka mandiri, berpendidikan, dan berpikiran terbuka.

Michelle, bukan nama sebenarnya, sejak 8 tahun lalu menjadi ateis. Michelle yang seorang lesbian, bertahun-tahun berusaha mendamaikan orientasi seksualnya dengan agama Katolik yang ia anaut. Namun, upaya itu gagal. Tahun 2005, Ia memilih melepaskan baju relijiusnya.

"Aku selalu mempertanyakan kepada Tuhan, saya sangat berdosa karena melakukan ini. Tapi I don’t know, why kenapa Tuhan memberikan aku rasa cinta, tapi dia juga mengatakan bahwa itu adalah sebuah dosa, sesuatu yang dilarang, sesuatu yang mungkin tabu untuk agama," ujarnya.

Michelle mengaku tengah mendalami ateisme dan bahagia dengan pilihannya, sebagai lesbian dan ateis.

“Perubahan, itu membebaskan, dan membahagiakan. My religon now is kindness. Agama yang sebaiknya itu adalah kebaikan gitu, nggak perlu ada orang yang ngomong oh kamu harus begini, kamu harus begitu, tapi kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, dan kamu selalu self-reflect, apakah yang kamu lakukan itu apaka sudah cukup baik,” jelas Michelle.

Seperti Michelle, Shinta, perempuan penulis ini memilih menjadi ateis sejak 8 tahun lalu. Benih ateis ibarat telah bersemayam dalam darahnya, melalui kedua orang tuanya lantang mengaku tidak beragama. Keduanya menjadi korban stigmatisasi komunis dan ateis pada 1965

“Sebetulnya keluargaku ateis, dari mama papa, tetapi tahun 65 itu, bapakku yang wartawan juga dari Antara, ditangkap. Bapakku lumpuh pulang dari penjara, karena dia dilistrik, digebukin, dsb. Tapi dia masih bisa mengajar bahasa Jerman dan bahasa Inggris, privat. Mamaku juga dikeluarkan dari Atmajaya, dosen di Atmajaya, susternya yang katolik itu ketakutan, dicap PKI juga, akhirnya mamaku keluar,” cerita Shinta.

Guna menghindari kekerasan lebih lanjut, keluarga Shinta masuk Katolik. Shinta yang baru menginjak remaja waktu itu mulai berkenalan dan kemudian menjadi bagian dari gereja. Namun, pergulatan batin dan hidupnya mengarahkan Shinta memilih jalan ateis setelah 15 tahun mengabdi untuk gereja. Tabiat dan perilaku buruk pemuka dan jamaah agama makin mempertajam keputusannya.

“Saya selalu pengen bantu orang, bukan berarti, oo kayak saya masih beragama, kalau gue bantu orang, ntar pahala gue segini, dobel, padahal hidup kan bukan matematika. Tapi kalau di agama bisa jadi matematika,” ujarnya.

Soal ini, aktivis perempuan Mariana Amirudin, menilai Michelle dan Shinta merupakan sosok perempuan yang mandiri. Keduanya bebas memilih identitas sesuai pilihan nurani.

“Memutuskan untuk keluar dari beban sosial. Saya mau menentukan nasib saya sendiri, tanpa membuat orang lain susah dan menderita. Caranya apa? saya harus kerja, saya harus bedaya secara ekonomi, saya harus punya tempat tinggal sendiri, lalu saya bangun di situ, kehidupan yang saya inginkan. Yang juga tentunya tidak menyakiti orang, tidak membuat orang menderita,”

Mariana mengakui belum banyak perempuan yang leluasa mengekspresikan pilihan hidupnya. Perempuan harus melepaskan satu persatu tali pengungkung kebebasannya. Kata dia, pendidikan menjadi salah satu medium yang wajib diakses perempuan agar berdaya.

Editor: Anto Sidharta

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!