roti, Tan Ek Tjoan

KBR, Jakarta - Satu persatu, gerobak roti berwarna kuning muda dengan logo khasnya “koki tengah memanggang roti”, keluar dari pintu gerbang pabrik yang berada di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Para pedagang yang didominasi lelaki paruh baya itu mulai menggowes gerobaknya. 


Aktivitas tersebut sudah berlangsung selama puluhan tahun. Tapi sayangnya, kegiatan itu akan lenyap. Ini karena toko roti Tan Ek Tjoan dijual oleh pemiliknya dan dipastikan bakal pindah ke Ciputat pada pertengahan bulan depan. 


Muhammad Tobiin, Kepala Produksi Pabrik Roti Tan Ek Tjoan bercerita mengapa toko itu harus hengkang.


 “Kita itu dapat teguran secara halus, teguran secara halus itu maksudnya seperti ini. Untuk industri sudah jelas tidak boleh menggunakan air tanah, selain itu untuk industri perpajakannya juga berbeda, terus untuk pemakaian listrik untuk industri juga dibedakan,” papar Tobiin. 


“Selain itu yang paling krusial adalah saya itu sempat ditegur oleh BPOM terkait kelayakan tempat untuk produksi makanan. Kalau saya itu merombak total pabrik yang ada di Cikini ini, itu membutuhkan biaya yang sangat besar dibandingkan membuat pabrik yang baru itu,” 


Tobiin juga mengatakan, saat ini kondisi toko roti di Ciputat sudah hampir rampung 100 persen. Kata dia, kepindahan itu bakal disertai dengan rencana Tan Ek Tjoan mengantongi sertifikat ISO pada 2017 yang selama ini sulit didapatkan.


“Kedepannya kan saya punya rencana untuk gimana cara Tan Ek Tjoan itu bisa diakui dalam arti kita bisa dapatkan sertifikat ISO. Langkah pertama supaya itu terjadi adalah soal kelayakan dari sisi tempat, terus dari sisi kelayakan, terus dari sisi human atau orangnya sendiri, terus dari sisi bahan baku dan lain sebagainya. Karena managemen menargetkan tahun 2017 atau 2018 sertifikat ISO itu bisa kita dapatkan. Nah kalau kita sudah pindah ke Ciputat otomatis langkahnya bisa lebih mudah ketimbang kita masih di sini.” 


Menanggapi rencana kepindahan itu, Juru Bicara Pemprov DKI Jakarta, Eko Haryadi sama sekali tak mencegahnya. Ia justru mempersilakan. Sebab, sesuai aturan Undang-undang, pabrik dilarang berada di kawasan utama Ibu Kota karena akan berdampak buruk terhadap lingkungan. Di mana pasokan air tanah yang kian menipis akan tersedot habis oleh pabrik-pabrik. 


 “Saya juga punya ikon Jakarta di Jakarta Selatan, Roti Lauw namanya, merknya masih ada dan mereka tetap ada berjualan. Tapi sekarang pabriknya di Pulogadung dan sudah bukan di Cipete. Jadi yang penting sekarang nama itu tidak hilang tapi bahwa ada kebijakan pabrik harus dipindahkan keluar kota ya memang harus diikuti.” 


Buntut dari beleid ini pun sudah terlihat ketika pabrik roti Lauw yang sebelumnya berada di Cipete, Jakarta Selatan  akhirnya dipindahkan ke kawasan Industri, Pulogadung beberapa tahun lalu. 


Usia toko roti yang telah melegenda itu sudah 93 tahun. Pemiliknya adalah Tan Ek Tjoan, warga Tionghoa Bogor. Ia memberanikan diri membuka pabrik roti dengan merk namanya sendiri. 


Dikatakan berani sebab saat itu pabrik roti sejenis hanya dimiliki atau dibuat oleh orang-orang Belanda. Dan, Tan Ek Tjoan adalah pelopor dari pabrik sejenis lainnya dengan citra rasa ala Belanda. 


Bisa dikatakan, roti Tan Ek Tjoan menjadi simbol saksi sejarah perjalanan bangsa Indonesia dari zaman penjajahan Belanda hingga sekarang. 


Tahu Tan Ek Tjoan akan lenyap dari Ibu Kota Jakarta, Sejarawan Betawi JJ Rizal geram. Kata dia, Pemprov DKI Jakarta sama saja dengan mengabaikan bahkan melanggar aturan tentang cagar budaya apabila membiarkan bangunan pabrik itu berubah bentuk sesuai amanat Undang-undang nomor 11 tahun 2010.


Kata dia, pemerintah DKI Jakarta semestinya memberikan perlakuan khusus kepada toko roti Tan Ek Tjoan agar tetap berada di Jakarta. Misalnya dengan memberi subsidi atau memberikan keringanan pajak lantaran sudah susah payah mempertahankan sejarah di era modern.


 “Menurut saya, pemerintah DKI mampu memberikan subsidi yang berbeda dengan mengambil produk dari Tan En Tjoan untuk menjadi bagian dari kegiatan aktivitas mereka, sehingga terselamatkan dan tetap menjadi ikon. Ini merupakan kerugian bagi pemprov DKI Jakarta ketika ini pindah, ini kerugian terhadap situs sejarah sosial Jakarta,”.


Tapi sayang, Pemprov DKI Jakarta tutup telinga. Juru Bicara Pemprov Eko Haryadi mengatakan, pihaknya akan tetap berpegang pada aturan yang ada. Kata dia, kalau pun pemilik toko roti pindah, bangunan itu akan tetap ada.


 “Kalau dia berupa cagar budaya berarti bangunannya hanya boleh direnovasi, tetapi fungsinya tidak boleh untuk sebuah pabrik. Kalau tidak salah dulu juga ada Sirup Talang Sari di Cikini, namun sekarang Cikini bukan tempat yang terpat lagi untuk sebuah Industri.” 


“Yang pasti bahwa kalau itu Heritage itu harus dipertahankan, itu bunyi aturan. Jadi siapa pun nanti pemiliknya itu harus dipertahankan sebagai warisan Jakarta. Seperti SMA 3 itu kan tidak berubah, di Pojok Cikini itu juga ada Kantor Pos dan itu tidak berubah,”.


Namun pandangan berbeda dilontarkan JJ Rizal. Kata dia, Pemprov DKI Jakarta seharusnya tidak melihatnya sesempit itu. Sebagai peninggalan sejarah dan cagar budaya, aktivitas di Tan Ek Tjoan semestinya juga tidak boleh berhenti. 


 “Tan Ek Tjoan ini kan bagian dari situs warisan sejarah sosial masyarakat Jakarta. Tan Ek Tjoan sudah menjadi penanda, bukan hanya penanda lidah karena pembuka sejarah kuliner di Jakarta. Tapi juga dia penanda bagi masyarakat Jakarta sebagai masyarakat yang plural, artinya kita bisa menemukan aneka ragam etnik di dalam bentuk makanan.” 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!