Caleg Gagal Pemilu Rentan Stres dan Alami Gangguan Jiwa

KBR68H - Pekan ini sejak awal April mendatang para calon legislatif  mulai sibuk mengikuti kampanye. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, tak sedikit caleg yang gagal duduk di kursi DPR pusat sampai daerah mengalami gangguan jiwa.

Selintas tak ada yang berbeda dengan Rumah Sakit Marzoeki Mahdi di Bogor, Jawa Barat ini. Puluhan pasien datang untuk bertemu dokter, antri di apotek, lalu ke loket pembayaran. Setelahnya, pulang.  Tapi kalau kita berjalan ke bagian belakang rumah sakit ini, barulah terlihat layanan utama Rumah Sakit pemerintah ini adalah untuk pasien sakit jiwa. Sejumlah bangsal atau ruang rawat untuk laki-laki dan perempuan terbangun rapi di bagian belakang rumah sakit.

Tahun ini, rumah sakit tersebut bersiap menerima tambahan pasien korban pemilu. Ya, para caleg alias calon anggota lesgislatif.  Juru bicara RS Marzoeki Mahdi, Abdul Farid Batutu menyebut antisipasi diperlukan karena hasil tes terhadap para calon anggota legislatif alias caleg menyatakan 3-5 persen calon wakil rakyat ini rentan stres.

“Dari pemeriksaan itu kita bisa menganalisa seseorang itu rentan terhadap stres atau tidak. Dan Alhamdulillah hasil pemeriksaan kemarin 3-5 persen yang hasil tesnya rentan terhadap stres. Dan itu sudah kita kembalikan ke KPU untuk dikembalikan ke partai-partainya agar lebih waspada,” jelasnya.

Pemeriksaan yang dimaksud Farid adalah tes psikologi yang bertujuan mendiagnosa gangguan jiwa seseorang. Tes dilakukan oleh psikiater atau yang biasa disebut MMPI. Tes ini dilakukan lembaganya dengan beberapa KPU Daerah di Jabodetabek.

Pengalaman Pemilu 2009 menggambarkan, caleg yang mengalami gangguan jiwa lebih memilih ruangan terbaik atau VIP (very important person), kata Farid.  “Kalau kita lihat sebagian besar mereka mampu. Karena rata-rata minta di VIP atau kelas 1 utama. Kalau di VIP kan suasananya seperti di rumah karena ditungguin keluarganya. Lebih mahal ya? Kalau VIP kita punya tarif 700ribu per hari,” paparnya.

Penyebab gangguan kejiwaan pada seseorang biasanya terjadi karena banyak faktor. Mulai faktor genetik atau keturunan sampai akibat keinginan yang tidak tercapai. Psikiater Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Lahargo Kembaren menjelaskan,”Situasi yang stres, jadi seperti ada yang keinginan tidak tercapai, pada caleg-caleg seperti itu. Ekspektasi tinggi, usaha sudah diberikan tetapi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Baru ada kehilangan, sesuatu atau seseorang yang dia sayangi. Ada juga misalnya kekecewaan, kemarahan yang terpendam. Nah itu faktor-faktor yang menyebabkan seseorang kepada gangguan kejiwaan. Termasuk para caleg tersebut.”

Lahargo masih ingat betul keluhan para caleg yang stress di pemilu 2009. “Mereka biasanya datang dengan keluhan sederhana sulit tidur, badannya sakit atau pegal-pegal, atau semangat jadi berkurang. Ada kemurungan, kesedihan, rasanya ingin mati. Sampai yang terberat sudah mulai ada gangguan penilaian realitas seperti mendengar bisikan-bisikan, lihat bayangan seperti ketakutan ada yang mengejar-ngejar. Itu kita bilang delusi,”jelasnya.

Penanganan terhadap mereka pun beragam. Ada yang cukup dengan diberikan obat dan psikoterapi, ada juga yang perlu proses rehabilitasi di bangsal-bangsal rumah sakit jiwa. “Untuk menginap ada indikasi dirawat atau rawat inap. Ada indikasi rawat bila pasien itu membahayakan diri atau orang lain. Untuk diri sendiri seperti bunuh diri melukai diri. Atau perilaku yang membahayakan orang lain seperti menyerang, kata-kata kasar atau merusak benda-benda di rumah. Itu indikasi untuk dilakukan perawatan,” tamba Lahargo.

Tanggapan Caleg : 


Berusaha mencari penyebab stres para Caleg, KBR pun menemui beberapa orang yang sedang berjuang menuju kursi legislatif. Salah satunya, yaitu Caleg PBB, Arif Rahman Hakim yang sedang berkumpul di rumah Ketuanya, MS Kabar di Bogor. Menurutnya, sebagai Caleg persoalan jam kerjalah yang sulit dikontrol.

“Kalau dibilang itu kita kunjungan ke masyarakat lebih banyak sore hari dan malam hari. Karena masyarakat juga aktivitasnya sebagai petani dan pedagang kita juga harus bisa mengikuti pola hidup masyarakat. Tidak bisa kita mengikuti keinginan kita. Misalnya masyarakat santainya jam berapa, ya kita harus mengimbanginya,”jelasnya

Bapak 3 anak itu harus dibantu istrinya untuk berkampanye di 6 kecamatan daerah pemilihannya.

“Kita bareng-bareng, termasuk istri kita ini adalah salah satu juru kampanye yang khusus menangani apabila saya harus berbagi untuk perusahaan, keluarga dan kampanye. Memang dari awal sudah dibicarakan dengan istri dari awal. Konsekuensinya seperti ini yang harus dihadapi,” tutur Arif

Bantuan istri dirasa kurang, lelaki berusia 48 tahun yang sehari-hari bekerja di perusahaan properti di Sentul akhirnya merekrut tim sukses.


“Kita membuat tim sukses dimana tim sukses ini yang bergerak menyeluruh dimana tim sukses ini yang bergerak menyeluruh. Karena seorang caleg tidak mungkin dapat door to door secara menyeluruh untuk di 6 kecamatan. Apalagi dalam waktu yang sudah relatif singkat yang sangat tidak memungkinkan untuk mencapai itu,”

Sayang, Arif tak mau berbagi nominal yang telah dirogoh dari koceknya.

Meski demikian, Arif mengaku siap jika nanti gagal melenggang menjadi legislatif.

“Ada yang bunuh diri, nah itulah mestinya segala sesuatu kita dengan hati yang iklas. Jadi apapun yang kita lakukan harus iklas. Kan kita anggap ini dunia perjudian, kalau ga kalah ya menang. Kalau jadi ya jadi, kalau nggak ya gak,”jelas Arif

Jam kerja yang tak jelas juga harus dilakoni Ketua Dewan Pimpinan Daerah PAN Bogor Safruddin Bima. Sakitpun tak terelakkan.  Saat ditemui di rumahnya ia menerima KBR68H sambil istirahat di kursi ruang tamu rumahnya yang sekaligus dijadikan posko kemenangannya. 

“Saya kalau mengajar misalkan 3-4 jam. Sisa waktu yang tidak diganggu mengajar, saya gunakan sepenuhnya untuk politik. Ini surat untuk membenahi partai dan sebagainya. Jadi tidak ada jam istirahat? Tidak ada,”ungkap Safruddin Bima

Buat bapak 3 anak tersebut, pemilu kali ini adalah pertaruhannya yang ketiga. Sama dengan Arif, Ia pun mengaku siap menerima apapun pilihan masyarakat dalam pemilu nanti.

“Orang PAN itu harus istiqomah dan siap dalam 2 hal. Siap jadi dan tidak jadi. Ketika dia berniat caleg, maka kesempatan itu harus diniati betul, supaya kalau tidak jadi tidak kaget. Kalau jadi dia bersyukur,”jelas Safruddin

Menanggapi hal itu, KPU mengaku sudah mengantisipasi stress yang bakal dialami para caleg ini. caranya dengan mewajibkan caleg ikut tes kesehatan, tutur Ketua KPU Husni Kamil Malik. Namun, karena jumlahnya banyak, KPU percaya saja dengan surat yang dikeluarkan rumah sakit.

“Tes itu masuk rohani, kalau tidak ada keterangan sehat rohani, Dia tidak memenuhi syarat. Kami hanya menilai ada keterangan itu tidak. Tapi harus ke rumah sakit tidak? Oh ya gak, kami bukan verifikator faktual,"jelasnya

Husni Kamil berharap dengan tes kesehatan tersebut fenomena Caleg gila karena gagal ke kursi senayan dapat berkurang.


Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!