Ilustrasi. (Sawit Watch)

Ilustrasi. (Sawit Watch)

KBR68H - Puluhan ribu anak dipekerjakan  di perkebunan kelapa sawit Labuhan Batu, Sumatera Utara. Mereka terpaksa ikut cari nafkah, bantu ekonomi keluarga. Jam dan beban kerja yang dipikul hampir sama dengan buruh dewasa.

Nazar bukan nama sebenarnya menceritakan pekerjaan yang digelutinya di perkebunan kelapa sawit. “Bangun tidur jam 5.30 pagi.  Lantas mengantar mamak (ibu-red) bekerja, setelah itu makan, baru setelah itu pergi kerja.  Mendorong buah sawit atau melansir,” tuturnya.  

Bocah 16 tahun ini salah satu pekerja anak di perkebunan sawit milik PT Daya Labuhan Indah di  Kabupaten Labuhan Batu. Perusahaan ini bernaung di bawah Wilmar Group .

“Mendorong buah sawitnya memakai angkong. Yang dibawa  kalau aku kadang 6 ya kadang 7 janjang,” ceritanya.

Angkong yang dimaksud adalah alat dorong yang digunakan untuk mengangkut janjang atau buah sawit. Rata-rata berat 1 janjang sawit berkisar 17 kilogram. Jadi dalam sekali angkut Nazar harus membawa janjang sawit berkisar 100 kilogram.

“Kerja mulai jam 7 pagi.  Pulang tergantung juga sama panen buahnya, kalau gak ada ya pulang cepat. Kalau buah sawit banyak ya sampai sore sekitar jam 4,” tambah Nazar.

PT Daya Labuhan Indah membuat aturan buruh perkebunan diwajibkan bekerja selama 7 jam kerja. Mulai dari pukul 7 pagi hingga pukul dua siang.

Orang tua Nazar, Aswi menuturkan alasan mengajak anaknya bekerja. “Memang berat kalau ada yang membantu jadi agak semangat sedikit. Istilahnya menambah sedikit penghasilan. Dari perusahaan ada gaji untuk anak? Ya kalau dari perusahaan tidak ada. Yang ada dari aku saja,” jelasnya.

Saban hari keluarga Aswi harus memanen sekitar 1100 kilogram atau 1,1 ton janjang sawit. Jika ingin mendapatkan tambahan penghasilan,  janjang sawit yang dipanen mesti melebihi target yang ditetapkan perusahaan. Aswi mencontohkan untuk 1,7 ton janjang sawit,  mereka mendapatkan upah tambahan  sebesar 40 ribu rupiah. Adapun penghasilan perbulan yang diperoleh berkisar  Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta. Gaji sebesar itu dicukup-cukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga Aswi.   

Buruh anak lainnya yang bekerja di perkebunan sawit  milik PT Daya Labuhan Indah sebut saja namanya Diman. Bocah  13 tahun ini bekerja sejak tahun 2012 ditemui di rumahnya selepas bekerja. “Pekerjaan saya mengangkat buah. Berat. Bisa 3 kali angkut bolak-balik, dari pagi sampai siang,” katanya.

Dalam sekali angkut, Diman biasanya mengisi angkongnya dengan 3 janjang kelapa sawit. Beratnya mencapai  50 kilogram.  Keasyikan bekerja membuat pendidikan buruh anak seperti  Diman dan Nazar  terlupakan. “Sekolah saya sampai Kelas 3 SD dulu, jauh sekolahnya. Sekarang sudah malas, tak mau aku sekolah,” kata Diman.

Jumlah Pekerja Anak

Belum ada angka pasti berapa persisnya jumlah pekerja anak di perkebunan sawit Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Menurut LSM buruh perkebunan, Lentera diperkirakan angkanya mencapai puluhan ribu orang. Sebagian besar dari mereka adalah anak yang dibawa orang tua atau lahir di perkebunan. Ironisnya Dinas Tenaga Kerja setempat dan perusahaan perkebunan sawit mengaku belum memiliki data valid jumlah pekerja mereka.

“Rata-rata itu kan berkeluarga di kebun. Sekitar 70 persen sudah berkeluarga, karena itu kan daerah terisolir. Rata-rata yang pemanen itu membawa atau sudah berkeluarga. Artinya ada ratusan ribu pekerja anak? Iya yang saya katakan dari 70 persen yang berkeluarga, 60 persennya sudah memiliki anak besar dan diajak bekerja,”jelas Direktur Eksekutif Lentera, Herwin Nasution.

Praktik mempekerjakan anak di lahan perkebunan sawit lazim terjadi di banyak tempat Indonesia. Hal ini seperti yang disampaikan Sawit Watch  memperkuat LSM Lentera.

"Dan ini sesuatu yang jamak. Kalimantan, Sumatera, bahkan di Papua kami melihat semua. Hanya lagi-lagi kita tidak bisa memastikan data pastinya berapa. Karena hampir 60 persen buruh tanpa kontrak. Tapi bagaimana kita melihat atau tidak, buruh anak itu pasti digunakan,”tutur Deputi Direktur Eksekutif Sawit Watch, Achmad Surambo.

Situasi ini diperparah tak adanya perjanjian kerja bersama antara perusahaan dan pekerja tambah aktivis Sawit Watch, Surambo.  


“Nah saya melihat celah ini yang digunakan perkebunan besar dengan memberikan target besar dan waktu yang sempit, sehingga mau tidak mau buruh kebun harus mempekerjakan orang lain. Ini dalam definisi tertentu tidak ada definisinya ini,”ucapnya

Namun, PT Daya Labuhan Indah menolak tudingan mempekerjakan anak di perkebunan sawit. Manajemen perusahaan itu lewat Lamrian L Turuan berkilah, anak bekerja akibat  kesalahan orang tua.

“Tapi kalau untuk tenaga kerja, kita tidak pernah menerima di bawah umur. Kalau masalah anak-anak yang membantu kerja orang tua kita juga sulit mengatakannya,"jelas L Turuah

Meski demikian, Lamria berjanji  akan menegur langsung orang tua yang kedapatan mempekerjakan anaknya.

Lain halnya dengan pemerintah. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Labuan Batu. Seperti diklaim Kepala Bidang Syarat dan Pengawasan Kerja, Iskandar Zulkarnaen mengaku sudah mengimbau perusahaan sawit tidak  mempekerjakan anak.

“Tapi masalah pekerja anak memang secara hukum lihatnya dari slip gaji. Tapi kalau orang tua yang mengajak anak itu diluar tanggung jawab perusahaan. Itu diluar tanggung jawab perusahaan, tidak bisa diapa-apakan. Oknum lah yang salah disitu terutama mandor, mandor yang lebih mengetahui. Tapi kita juga sudah sosialisasikan. Apalagi RSPO juga melarang kan,”tuturnya.

Lalu sampai kapan pekerja anak seperti Nazar dan Diman bisa menikmati masa kanak-kanak mereka tanpa dibebani pekerjaan yang ditekuni orang tua mereka?


Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!