gereja koinonia, toleransi, banjir, jakarta, pengungsi

KBR68H -  Lebih dari seribu pengungsi banjir di Jakarta Timur ditampung  Gereja Koinonia. Tanpa melihat latar belakang  agama , suku, ras dan antar-golongan, pengurus gereja  melayani pengungsi dengan ikhlas. KBR68H datang ke sana berbincang dengan pengungsi dan pengurus gereja. 


Mendung menggelayuti langit Jakarta. Pagi itu, sejumlah pengungsi banjir yang berada di halaman gereja Koinonia   Jatinegara, Jakarta Timur duduk bergerombol. Tua-muda, lelaki-perempuan, dan anak-anak. Sebagian barang pengungsi  yang dikemas dalam kotak kardus dan tas plastik  berserakan  di  lantai dan sudut bangunan. Pengungsi ini berasal dari Jatinegara, Bukit Duri dan Kebon Pala. 


Dua pengungsi banjir  beragama Islam  menceritakan kesannya tinggal sementara di gereja.   “Di sini (halaman gereja, red). Kalau sore gelar (tikar untuk istirahat) gitu. Kira-kira jam 8 malam, mulai digelar, kalau pagi beres-beres. (KBR68H: Kalau di lantas atas bangunan gereja penuh pengungsi, Bu?) Penuh, lantai dua, lantai tiga. Ini lantai utama.  Enak saja di sini, tinggal makan. (Enggak ada yang kurang, atau dikeluhkan?) Enggak ada. Alahmdulillah. Apa-apa masalah nasi juga enggak kekurangan, pakaian,” kata Imas, sambil  memangku anaknya.


Rani menimpali, “Pada nerima itu, asli yang punya gereja sini. (Ibu senang bisa diterima di sini?) Senang, senang. (Pelayanannya pihak gereja bagaimana, Bu?) Baik-baik. Ini dikasih makan, gitu. (Apa saja yang diperoleh di sini?) Ya, makan, obat-obatan, gitu. (Ibu ada menderita demam selama ini?) Ya, ada sih, namanya kehujanan terus, kehujanan. (Ibu tidur di bawah?) Enggak, saya di atas, lantai 3,” ujar perempuan 58 tahun ini.


Gedung serba guna  gereja yang berukuran sekitar 5 kali 10 meter  digunakan khusus untuk menampung  pengungsi yang tengah hamil atau baru melahirkan. Pengungsi dari Bukit Duri, Lia Rosanti yang baru melahirkan anak keempatnya menuturkan. “Ya, campur. Ada sedih, ada senang, campur deh. Senangnya itu kita kesusahan enggak sendiri, kesusahan itu rame-rame. Ya, sedihnya begitu. Senangnya itu banyak yang bantu dari macam-macam. Banyak yang merhatiin lah,” ungkap Lia di samping bayi laki-lakinya.


Muslimah ini mengaku kagum dengan pihak gereja yang menerima baik semua pengungsi, tanpa memandang latar belakang agama.“Saya sebelumnya memang sudah sangat benar-benar berterima kasih dengan pihak gereja, sudah membantu kita semua di sini. Terutama kan bayi-bayi yang masih, maksudnya diutamakan lah. Dari kesehatan, makanan, pakaian, semua mereka bantu, tanpa memandang agama, kaya atau miskin, atau apa, yang penting niat dia membantu,” ungkap Lia sembari memakan nasi bungkus yang baru dibagikan oleh pihak gereja, “ kata Lia. 


Di ruang sekretariat gereja,  para pengurus rumah ibadah Nasrani sibuk menata dan mengatur bantuan yang mengalir  untuk pengungsi. Pelaksana Harian Majelis Jemaat Gereja Koinonia, Eddy Suranto menjelaskan lebih dari sepekan para pengungsi  ditampung .   


“Dari hari pertama tanggal 13 ya itu, sampai sekarang. Jadi,awal mulai banjir, bencana, sampai sekarang. (Ditampung di mana saja ini, Pak?)Di pendopo, lantai satu, dua, gedung serbaguna, dan halaman. Jadi, kurang lebih 1200. Per lantai itu kurang lebih 300-400, itu banyak itu. Jadi, yaang di sini itu di serbaguna kita khususkan untuk balita, dan ibu yang hamil ,” jelas pria dari Jawa Tengah tersebut. 


Jemaat gereja  merasa tak terganggu dengan kehadiran pengungsi banjir yang melanda warga Ibu Kota . Yuce Isbandi  menuturkan acara ibadah tetap berjalan seperti biasanya. Namun acara  seperti pemberkatan pernikahan untuk sementara dibatalkan.  “Si empunya pesta menyingkirkan pestanya ke gedung lain, ini tetap untuk pengungsi. Jadi, didahulukan orang yang sedang menikah, daripada dia buat pesta di sini,” kata perempuan ini. 


Pelaksana  gereja Eddy Suranto menegaskan upaya membantu pengungsi banjir semata-mata atas dasar kemanusiaan. “Merupakan program untuk pelayanan dan kesaksian kita. Jadi, untuk membagi kasih kepada orang-orang yang tertimpa musibah ini. Jadi, kita tidak ada tendensi apa-apa. Tanpa memandang suku, agama, ras, apa. Yang penting kita kemanusiaan, dia membutuhkan, kita bantu. (Apa yang ingin ditunjukkan Gereja kepada masyarakat luas?) Kita sebetulnya. Sebagai kesaksian saja, kita sebagai, sama-sama di dalam kehidupan kita kan saling membutuhkan lah, saling membutuhkan antar kehidupan manusia lah,” tegasnya. 


Pengurus gereja kata Eddy  tak melarang  pengungsi  beragama Islam  beribadah  di lingkungan gereja. Pihak gereja bahkan mengingatkan pengungsi yang sebagian besar Muslim untuk beribadah ketika waktu sholat tiba. Semua itu dilakukan atas nama kemanusiaan dan kepedulian kepada sesama. 


Editor: Taufik Wijaya


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!