HIV AIDS, Wamena, Papua, Kesehatan, Pemuda

Pendampingan ODHA


Rambut gimbal, jenggot dikuncir dan kacamata hitam itulah penampilan sehari-hari Wesley Kossay. Orangtua tunggal satu anak ini, merupakan Orang dengan HIV Aids atau ODHA  dampingan pertama Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat-Papua (YPKM). Penduduk asli Lembah Baliem, Wamena ini memutuskan di sisa hidupnya ingin mengkampanyekan bahaya HIV. 


Sejak didampingi YPKM pada 2007, Wesley sudah mendampingi 150 ODHA. Masuk ke pelosok-pelosok desa di atas perbukitan, merawat ODHA yang butuh pertolongan. “Di kampung itu sulit jauh, kami pergi jemput. Sampai jalannya tak ada kendaraan, jadi harus gendong bawa keluar. Terus naikkan ke motor, karena kita tak punya mobil. Jadi pakai motor kita bawa ke rumah sakit. Biasanya begitu. Setelah di rumah sakit saya urus semuanya selesai, saya antar lagi. Jadi kadang-kadang keluarga juga tak terima. Ada satu kasus, keluarga tak terima, di kampung Kurulu sana, akhirnya saya bawa ke rumah sakit, setelah dikasih obat, saya taruh di sini. Karena, keluarga belum mengerti tentang HIV. Akhirnya di sini saya rawat, sudah baik, dan saya kasih pulang lagi,” kata Wesley. 


Wesley duduk melingkar bersama sesama ODHA. Mereka berdiskusi di Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). Seluruh ODHA yang pernah dirawat Wesley berbagi cerita tentang masa-masa sulit menghadapi virus mematikan.


Idar Seiep, membuka kegiatan KDS. Perempuan 19 tahun itu bercerita pengalamannya saat divonis penyakit mematikan itu 3 tahun silam. “Jadi sakit paru-paru, saya berobat di Klinik Kalfari. Di sini, orang bilang ini pasien darurat. Bapak bilang, itu tidak apa-apa. Tuhan yang memberi, kalau mau ambil tidak apa-apa. Lalu, saat itu saya tanda tangan. Saat itu ambil hasil tes darah ada HIVnya. Waktu itu, banyak orang bilang bakal mati. Tapi pribadi, saya selalu bilang tidak akan mati. Seperti itu,” ceritanya. 


Lainnya, Defioma, 20 tahun,  positif HIV sejak akhir tahun lalu, setelah tes darah di Puskemas Wamena Kota. “Saya bilang suster, dikasih kertas, suruh masuk untuk tes darah. Lalu masuk lagi, kata dokter, positif. Langsung setelah mendengar kata positif, saya takut. Kenapa sampai saya datang? Tapi saya bicara dalam hati, sudah tidak apa-apa. Kata dokter, nanti suruh ambil obat,” katanya. 


ODHA lainnya Rum Perei, 27 tahun, pun bergabung ke YPKM setelah diajak Wesley “Waktu saya di kampung, itu sakit parah. Langsung saya turun ke kota, periksa darah lengkap dan bertemu Wesley. Dia bilang, kalau kau ikut saya, kau sudah tidak apa-apa. Lalu, setelah periksa darah dan minum obat, saya langsung ke sini,“ kata Rum. 


Para ODHA yang didampingi Wesley Kossay awalnya malu dan enggan untuk berobat. Tapi tanpa bosan Wesley memberi semangat mereka. Agar memiliki harapan dan bertahan hidup. “Membawa mereka ke rumah sakit untuk periksa darah. Kalau ada hasilnya, saya antar lagi ke rumah. Di rumah lagi nanti saya kasih pemahaman, kasih arahan. Jadi walaupun mereka terinfeksi, harus kasih tahu harus disiplin minum obat. Jadi tak boleh putus harapan kepada pasien itu. Banyak sekali yang sudah lakukan di sini,” ungkap Wesley. 


Wesley Kossay sendiri terinfeksi HIV sejak enam tahun silam. Berat tubuhnya turun drastis.  Virus mulai menggrogoti tubuhnya. Ia nyaris mati. Sampai akhirnya dia dirawat di shelter YPKM dan minum anti-retroviral (ARV) secara teratur. “Di saat dokter menyatakan saya terinfeksi HIV, saya waktu itu stress. Putus asa. Saya terinfeksi karena suka berganti-ganti pasangan. Nah, saya juga hampir mati, karena saat itu tak tahu ada obat ARV. Berat badan dari 75 kg turun sampai 30 kg. Jadi saya pikir tunggu mati. Akhirnya saya dirawat di shelter satu tahun. Nah, dari situ berat badan saya naik.,” kenangnya. 


Di YPKM, Wesley memberdayakan para dampingannya untuk ikut kampanye HIV/AIDS. Kegiatannya meliputi KDS, kunjungan rumah ODHA, rumah sakit, penyediaan shelter, kampanye bahaya HIV di pasar-pasar, juga melalui perkumpulan remaja gereja.


YPKM berdiri sejak 2007. Berkantor di tengah kota Wamena, LSM ini bergerak di bidang penyuluhan HIV. Direktur YPKM Regio Wamena, Simson Sigarlakie menjelaskan,” Ini untuk mengumpulkan mereka semua dampingan yang positif HIV, untuk kami memberikan pemahaman-pemahaman, tentang kehidupan mereka, kemudian apa yang harus mereka lakukan setelah positif. Dan juga mereka bisa share pengalaman mereka satu dengan yang lain. Pengalaman itu dibagikan mulai dari waktu sakit, ketika masuk ke tahap AIDS, lalu mengikuti pengobatan. Sebelum terinfeksi, mulai terinfeksi, pasca terinfeksi. Nah itu berbagi dengan teman yang lain.”


Direktur YPKM Regio Wamena, Simson Sigarlakie menambahkan, lembaganya kesulitan mencegah perkembangan HIV/AIDS di Wamena. Sebabnya, persoalan transportasi yang sulit  menjangkau pelosok desa. Alasan lain karena keterbatasan pelayanan kesehatan, serta minimnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS.


Otoritas Kesehatan di Wamena mencatat, angka HIV di kota pedalaman Papua ini terus meningkat tiap tahun. Pada 2007, hanya ditemukan 7 kasus. Namun pada tahun ini lonjakannya sangat fantastis yaitu lebih dari 1300 kasus. Tiap hari hasil tes darah menunjukkan warga Wamena yang positif HIV mencapai 20 orang. Mereka yang terpapar didominasi usia produktif, yaitu 15-30 tahun. Penyebab utamanya, hubungan seks yang tidak sehat.


Sementara itu, Komisi Penanggulanan AIDS setempat mengklaim telah berupaya maksimal  mencegah penyebaran HIV/AIDS. Mulai dari menggandeng LSM, pemimpin desa dan pemuka agama. Sekretaris KPA Daulat Simajuntak mengakui upaya mereka belum sepenuhnya berhasil.“Belum semua masyarakat mendapat informasi secara cepat karena memang masih ada hambatan yang kita hadapi, semua distrik belum ada puskesmas. Semua kampung belum ada puskesmas pembantu. Petugas juga masih terbatas, nah itu yang kami lihat. Tapi yang jelas kami berusaha terus menyampaikan informasi melalui radio. Secara langsung, juga lewat acara-acara adat,” terangnya. 


Kembali ke Pasar Baru di Wamena, Papua. Wesley Kossay dan teman senasibnya  terus bekerja membantu menurunkan laju kasus HIV/AIDS di tanah kelahiran mereka. Seperti sosialisasikan pentingnya alat kontrasepsi kondom sampai mengajak warga yang diduga terpapar HIV untuk segera berobat.  “Apalagi kasus sekarang semakin meningkat, ini membuat saya terdorong untuk membantu masyarakat. Masyarakat dikasih terus informasi tentang HIV/AIDS, kadang-kadang masyarakat ini susah. Jadi saya harus bicara dengan dua bahasa, karena dengan Bahasa Indonesia itu sulit mengerti. Makanya saya gunakan bahasa sini, supaya mereka juga bisa sadar. Bagi mereka yang sudah kena, punya semangat juga. Bisa mengerti. Bisa juga melihat dan mendengarkan apa yang saya bicarakan. Untuk mencari saya, untuk mendapat informasi,” tututpnya. 


Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!